MACAM-MACAM CAHAYA BATIN YANG MENGGODA
“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal (keadaan spiritual) para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq (para ahli hakikat).
Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah dan keindahan-Nya. Cahaya ini tak akan terlihat, kecuali para orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.
Syekh Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya menyingkap dzat-Nya,” karena penampakkan dzat Allah yang murni dan bersih dari sifat-sifat masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikan. Sebagian yang lain membenarkan kemungkinannya.
Syekh Muhyiddin Ibn Arabi menyebut penampakkan dzat Allah yang murni ini dengan bawariq (kilat), karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama.”
Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam mengatakan: “Boleh jadi kalbu terhenti pada cahaya-cahaya, sebagaimana terhijabnya kalbu oleh gelapnya bayang-bayang ciptaan.”
Menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, boleh jadi kalbu kita tertutup oleh cahaya-cahaya dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah, sebagimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah SWT.
Hijab yang menghalangi dari Allah itu ada dua macam:
Pertama, hijab yang bersumber dari cahaya, yakni ilmu dan pengetahuan. Jika hati terhenti padanya, maka ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud. Kedua, hijab yang bersumber dari kegelapan, yakni nafsu syahwat dan kebiasaanya. Ia digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan, karena tidak dapat dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan.”
--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi
Jumat, 15 Februari 2019
MENDEKATLAH KEPADA SANG MAHA PEMBERI NIKMAT
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Jika Allah ‘Azza wa Jalla melimpahimu kekayaan, dan kekayaan itu kemudian menyibukkan dirimu dari berbuat ketaatan kepada-Nya, maka Dia memisahkanmu darinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Bahkan, boleh jadi, Dia mencabut kembali karunia-Nya darimu, menelantarkanmu dan menjadikanmu miskin sebagai bentuk hukuman atas kesibukanmu dengan nikmat yang melupakanmu dari Sang Maha Pemberi nikmat.
Tetapi, jika engkau sibukkan dirimu dengan berbuat ketaatan kepada-Nya sambil berpaling dari kekayaan, maka Dia akan menjadikan kekayaan tersebut sebagai anugerah bagimu dan tidak akan berkurang sebiji pun. Harta kekayaan akan menjadi pelayanmu, sementara engkau berkhidmat menjadi pelayan Sang Mawla (Allah), sehingga engkau pun akan hidup di dunia dalam belaian kasih sayang, dan hidup di akhirat dalam nauangan kehormatan dan kemuliaan surga bersama para Shiddiq, para Syahid dan orang-orang shaleh lainnya.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk--
“Jika Allah ‘Azza wa Jalla melimpahimu kekayaan, dan kekayaan itu kemudian menyibukkan dirimu dari berbuat ketaatan kepada-Nya, maka Dia memisahkanmu darinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Bahkan, boleh jadi, Dia mencabut kembali karunia-Nya darimu, menelantarkanmu dan menjadikanmu miskin sebagai bentuk hukuman atas kesibukanmu dengan nikmat yang melupakanmu dari Sang Maha Pemberi nikmat.
Tetapi, jika engkau sibukkan dirimu dengan berbuat ketaatan kepada-Nya sambil berpaling dari kekayaan, maka Dia akan menjadikan kekayaan tersebut sebagai anugerah bagimu dan tidak akan berkurang sebiji pun. Harta kekayaan akan menjadi pelayanmu, sementara engkau berkhidmat menjadi pelayan Sang Mawla (Allah), sehingga engkau pun akan hidup di dunia dalam belaian kasih sayang, dan hidup di akhirat dalam nauangan kehormatan dan kemuliaan surga bersama para Shiddiq, para Syahid dan orang-orang shaleh lainnya.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk--
MEMAHAMI MAKNA RIDHA
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Kalian harus senantiasa ridha kepada Allah Azza wa Jalla dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan baik maupun buruk, sehat ataupun sakit, kaya maupun miskin, dan dalam keadaan sukses ataupun gagal. Aku tidak melihat obat yang baik bagi kalian selain berserah diri kepada-Nya.
Jika Allah menakdirkan sesuatu bagi kalian, janganlah takut. Janganlah mengeluh kepada selain-Nya, sebab itu justru bisa menyebabkan bencana bagi kalian, Tenang dan diamlah! Jika kalian ridha, Dia akan mengubah kesusahan kalian menjadi kebahagiaan!"
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
"Kalian harus senantiasa ridha kepada Allah Azza wa Jalla dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan baik maupun buruk, sehat ataupun sakit, kaya maupun miskin, dan dalam keadaan sukses ataupun gagal. Aku tidak melihat obat yang baik bagi kalian selain berserah diri kepada-Nya.
Jika Allah menakdirkan sesuatu bagi kalian, janganlah takut. Janganlah mengeluh kepada selain-Nya, sebab itu justru bisa menyebabkan bencana bagi kalian, Tenang dan diamlah! Jika kalian ridha, Dia akan mengubah kesusahan kalian menjadi kebahagiaan!"
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
TEKNIK DÀSAR MUROQOBAH
Salik dan Matin kembali berdiskusi di Sor Baujan (di bawah Pohon Trembesi), untuk belajar hakikat sedikit demi sedikit. Sebagai pemula, Salik merasa perlu untuk menimba ilmu dari Matin.
Salik (S): Bro, ajarkan saya tentang makna ihsan!
Matin (M): Waduh, mirip pertanyaan Malaikat Jibril kepada Rasulullah?!
S: Ah...Biasa saja. Saya hanya ingin belajar dari caramu memahami.
M: Dasarnya “anta’budallaha ka’anaka tarahu fa inlam tara fa innahu yaraka” (Menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika kau tak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu). Latihlah kesadaranmu ini saat shalat atau sedang berdzikir. Lalu, gunakan kesadaran ini setiap saat dalam kehidupanmu sehari-hari. Inilah makna ihsan
S: Jadi kesadaran bahwa kita selalu diawasi. Berarti muraqabah itu seperti camera CCTV?
M: Untuk lebih mudah memahami, dapat dikatakan seperti itu.
S: Maksudnya, kita harus sadar bahwa setiap saat Allah mengawasi dan melihat semua gerak, bisikan, getar hati dan seluruh pekerjaan?
M: Betul. Namun, ini hanya tingkat dasar.
S: Maksudnya?
M: Camera CCTV itu kan searah. Sebab, kita hanya menjadi objek yang dilihat. Komunikasinya pun searah. Tertuang dalam rekaman. Ada jarak, tempo dan waktu untuk memutar ulang atau disaksikan langsung. Tapi, pengertian muraqabah dalam konsep ihsan lebih daripada itu.
S: Maksudnya?
M:Muraqabah itu adalah kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus atas pengawasan Allah terhadap semua keadaan. Juga bisa berarti komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya dalam kesadaran batin. Jadi, ada komunikasi dua arah.
S: Hmmmm. Bagaimana cara melatihnya?
M: Sebaiknya Anda belajar kepada guru tarekat/mursyid.
S: Saya sudah ikut tarekat, tapi waktu untuk bertemu guru dan bertanya tentang banyak hal tentu sukar. Para guru sufi tentu sangat sibuk, banyak urusan, saya ingin dengar dari caramu dalam memahami.
M: Hmmmm
S: Apa salahnya, memberi informasi sedikit!
M: Baiklah. Muraqabah adalah maqam seorang salik agar mencapai insan kamil (manusia sempurna). Dalam tarekat, biasanya diajarkan dengan duduk tafakur atau mengheningkan rasa dengan penuh kesungguhan hati seolah-olah engkau sedang berhadapan langsung dengan Allah. Kau harus meyakini bahwa Allah selalu mengawasi dan memperhatikan kita, hingga kau akan kau dapat mencapai ihsan yang baik dan merasakan kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja kau berada.
S: Hmmmm
M: Engkau harus belajar dengan proses riayadhah dan mujahadah untuk mencapai kedekatan dengan Allah, karena “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi engkau semua.” (QS Al-Ahzab: 52). Lakukan muhasabah atau evaluasi diri setiap saat. Rasakan dengan kesadaran jiwa dan ragamu akan kehadiran Allah dalam segala hal yang terbersit dalam pikiran, niscaya Allah akan selalu menjaga dirimu. Jangan terputus dengan ibadah wajib, lalu perbanyak amalan sunnah. Gunakan dzikir zahar dan khafi sebagai medianya agar engkau dapat merasakan terhadap kehadiran Allah. Rasakan agar mencapai dawam hudhur (senantiasa merasakan kehadiran Allah). Dari sini kau akan memahami bahwa sebenarnya muraqabah adalah komunikasi spiritual.
S: Hmmm. Apakah setiap tarekat mengajarkan proses muraqabah?
M: Betul. Setiap tarekat memilik teknik muraqabah yang beragam. Misalnya, dalam tarekat Qadiriyah terdapat 4 macam muraqabah. Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah terdapat 11 muraqabah. Dalam tarekat Chistiyah terdapat 8 jenis muraqabah. Begitu juga dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terdapat 20 macam/tingkatan muraqabah.
S: Boleh dijelaskan macam dan tingkatannya?!
M: Masuk tarekat saja! Tanya gurumu!
S: Sudahlah, bagi sedikit saja! Insya Allah bermanfaat dan sangat membantu!
M: Tapi, ingat nanti kau tanya ke mursyidmu ya!
S: Iya...Cepat ajarkan saja sedikit!
M: Baiklah. Pertama, muraqabah Ahadiyah, yakni kesadaran akan keesaan dan ketunggalan Allah dalam dzat, sifat dan af’al. Arahkan kesadaran kalbumu pada esensi Tuhan, yang memiliki sifat maha sempurna dan tak terbatas, tak terjangkau. Kedua, muraqabah ma’iyah, yakni kesadaran bahwa kita selalu bersama Allah. Arahkan kalbumu kepada Tuhan dalam setiap keadaan, rasakan dengan panca inderamu. Ketiga, muraqabah al-aqrabiyah, yakni mengarahkan kalbumu kepada Tuhan yang esensinya begitu dekat, sangat dekat, lebih dekat daripada indera penglihatanmu, lebih dekat daripada penciumanmu, lebih dekat daripada perabaanmu dan rasamu, lebih dekat daripada pikiran dalam hatimu, lebih dekat daripada memorimu, tetapi hanya Allah yang Maha Mengetahui akan keadaan yang sesungguhnya.
S: Hmmmm. Lalu apa lagi?
M: Cukup, 3 dulu!
S: Tambah 2-3 lagi!
M: Cukup! Boleh jadi, kamu memerlukan waktu setahun untuk mencapainya.
S: Hmmmm.
M: Moga bermanfaat!
Salam semoga bermanfaat
Salik (S): Bro, ajarkan saya tentang makna ihsan!
Matin (M): Waduh, mirip pertanyaan Malaikat Jibril kepada Rasulullah?!
S: Ah...Biasa saja. Saya hanya ingin belajar dari caramu memahami.
M: Dasarnya “anta’budallaha ka’anaka tarahu fa inlam tara fa innahu yaraka” (Menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika kau tak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu). Latihlah kesadaranmu ini saat shalat atau sedang berdzikir. Lalu, gunakan kesadaran ini setiap saat dalam kehidupanmu sehari-hari. Inilah makna ihsan
S: Jadi kesadaran bahwa kita selalu diawasi. Berarti muraqabah itu seperti camera CCTV?
M: Untuk lebih mudah memahami, dapat dikatakan seperti itu.
S: Maksudnya, kita harus sadar bahwa setiap saat Allah mengawasi dan melihat semua gerak, bisikan, getar hati dan seluruh pekerjaan?
M: Betul. Namun, ini hanya tingkat dasar.
S: Maksudnya?
M: Camera CCTV itu kan searah. Sebab, kita hanya menjadi objek yang dilihat. Komunikasinya pun searah. Tertuang dalam rekaman. Ada jarak, tempo dan waktu untuk memutar ulang atau disaksikan langsung. Tapi, pengertian muraqabah dalam konsep ihsan lebih daripada itu.
S: Maksudnya?
M:Muraqabah itu adalah kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus atas pengawasan Allah terhadap semua keadaan. Juga bisa berarti komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya dalam kesadaran batin. Jadi, ada komunikasi dua arah.
S: Hmmmm. Bagaimana cara melatihnya?
M: Sebaiknya Anda belajar kepada guru tarekat/mursyid.
S: Saya sudah ikut tarekat, tapi waktu untuk bertemu guru dan bertanya tentang banyak hal tentu sukar. Para guru sufi tentu sangat sibuk, banyak urusan, saya ingin dengar dari caramu dalam memahami.
M: Hmmmm
S: Apa salahnya, memberi informasi sedikit!
M: Baiklah. Muraqabah adalah maqam seorang salik agar mencapai insan kamil (manusia sempurna). Dalam tarekat, biasanya diajarkan dengan duduk tafakur atau mengheningkan rasa dengan penuh kesungguhan hati seolah-olah engkau sedang berhadapan langsung dengan Allah. Kau harus meyakini bahwa Allah selalu mengawasi dan memperhatikan kita, hingga kau akan kau dapat mencapai ihsan yang baik dan merasakan kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja kau berada.
S: Hmmmm
M: Engkau harus belajar dengan proses riayadhah dan mujahadah untuk mencapai kedekatan dengan Allah, karena “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi engkau semua.” (QS Al-Ahzab: 52). Lakukan muhasabah atau evaluasi diri setiap saat. Rasakan dengan kesadaran jiwa dan ragamu akan kehadiran Allah dalam segala hal yang terbersit dalam pikiran, niscaya Allah akan selalu menjaga dirimu. Jangan terputus dengan ibadah wajib, lalu perbanyak amalan sunnah. Gunakan dzikir zahar dan khafi sebagai medianya agar engkau dapat merasakan terhadap kehadiran Allah. Rasakan agar mencapai dawam hudhur (senantiasa merasakan kehadiran Allah). Dari sini kau akan memahami bahwa sebenarnya muraqabah adalah komunikasi spiritual.
S: Hmmm. Apakah setiap tarekat mengajarkan proses muraqabah?
M: Betul. Setiap tarekat memilik teknik muraqabah yang beragam. Misalnya, dalam tarekat Qadiriyah terdapat 4 macam muraqabah. Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah terdapat 11 muraqabah. Dalam tarekat Chistiyah terdapat 8 jenis muraqabah. Begitu juga dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terdapat 20 macam/tingkatan muraqabah.
S: Boleh dijelaskan macam dan tingkatannya?!
M: Masuk tarekat saja! Tanya gurumu!
S: Sudahlah, bagi sedikit saja! Insya Allah bermanfaat dan sangat membantu!
M: Tapi, ingat nanti kau tanya ke mursyidmu ya!
S: Iya...Cepat ajarkan saja sedikit!
M: Baiklah. Pertama, muraqabah Ahadiyah, yakni kesadaran akan keesaan dan ketunggalan Allah dalam dzat, sifat dan af’al. Arahkan kesadaran kalbumu pada esensi Tuhan, yang memiliki sifat maha sempurna dan tak terbatas, tak terjangkau. Kedua, muraqabah ma’iyah, yakni kesadaran bahwa kita selalu bersama Allah. Arahkan kalbumu kepada Tuhan dalam setiap keadaan, rasakan dengan panca inderamu. Ketiga, muraqabah al-aqrabiyah, yakni mengarahkan kalbumu kepada Tuhan yang esensinya begitu dekat, sangat dekat, lebih dekat daripada indera penglihatanmu, lebih dekat daripada penciumanmu, lebih dekat daripada perabaanmu dan rasamu, lebih dekat daripada pikiran dalam hatimu, lebih dekat daripada memorimu, tetapi hanya Allah yang Maha Mengetahui akan keadaan yang sesungguhnya.
S: Hmmmm. Lalu apa lagi?
M: Cukup, 3 dulu!
S: Tambah 2-3 lagi!
M: Cukup! Boleh jadi, kamu memerlukan waktu setahun untuk mencapainya.
S: Hmmmm.
M: Moga bermanfaat!
Salam semoga bermanfaat
MENGENAL SAHABAT SEJATIMU
ما صحبك الا من صحبك وهو بعيبك عليم و ليس ذالك الا مولاك الكريم خير من تصحب من يطلبك لا لشيء يعود منك اليه
Kawan sejatimu adalah sahabat yang mengetahui aibmu. Tak lain Dia adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabat adalah yang tidak mengharap keuntungan darimu.
--Syekh Ibnu Atha'illah, Al-Hikam.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa tak ada yang menjadi sahabatmu dengan sebenar-benarnya, kecuali Dzat yang memberimu kebaikan. Dia sangat mengetahui aib dan cela mu, tapi dia tidak pernah terhalang untuk mendekatimu dan menjadi sahabat bagimu dalam keadaan apa pun.
Padahal Dia sangat mengetahui semua rincian aibmu. Yang mau berteman seperti itu hanya Tuhanmu Yang Maha Mulia. Seperti itulah persahabatan kaum Sufi dan orang-orang Arif yang memiliki akhlak dengan sifat-sifat Tuhannya.
Adapun orang yang menemanimu dengan kebodohannya, dia bukanlah sahabat sejati, karena dia tidak kuasa melihat kekurangan dan aibmu. Dia tak akan mampu bersabar menanggungnya, meskipun bersabar pasti ada maksud dan tujuan yang diinginkannya.
Maka sebaik-baik sahabat sejati adalah orang yang tidak menuntut apa pun darimu. Seperti itulah persahabatan Tuhanmu atau orang-orang yang berakhlak seperti akhlak-Nya.
Sedangkan orang yang bersahabat denganmu karena kebaikanmu dan manfaat yang kau berikan kepadanya, sungguh dia bukanlah sahabat sejati karena tujuannya hanya menunaikan kebutuhannya sendiri yang diharapkan dari dirimu. Namun jika tujuan itu telah terlaksana. dia akan meninggalkanmu.
Renung-renungkanlah, pikir-pikirkanlah!
--Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha'illah, syarah Syekh Abdullah Asy-Syarqawi.
ILMU YANG BERMANFAAT BAGI KALBUMU
العلم النافع هو الذي ينبسط في الصدر شعاعه وينكشف به عن القلب قناعه
Ilmu yang bermanfaat adalah yang cahayanya melapangkan dada dan menyingkap tirai kalbu.
--Syekh Ibnu Atha'illah, Al-Hikam.
Sahabatku, menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, asma-Nya dan ilmu tentang tata cara beribadah kepada-Nya, serta ilmu adab di hadapan-Nya. Ilmu inilah yang cahayanya melapangkan dada sehingga mudah menerima Islam dan menyingkap tirai serta selubung penutup kalbu hhingga hilanglah segala macam angan dan keraguan darinya.
Malik bin Anas mengatakan, "Ilmu diraih bukan dengan banyaknya periwayatan, melainkan ilmu adalah cahaya yang dipancarkan Allah ke dalam hati."
Manfaat ilmu adalah mendekatkan diri hamba kepada Tuhannya, dan menjauhkan dari pandangan terhadap diri sendiri. Itulah Puncak kebahagiaan seorang hamba dan akhir dari keinginan dan pencariannya.
Al-Mahdawi berkata: "Ilmu yang berguna adalah ilmu tentang waktu, kejernihan hati, kezuhudan di dunia dan ilmu tentang hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, menjauhkan diri dari neraka, membuat takut kepada Allah dan berharap hanya kepada-Nya, serta ilmu tentang kebersihan jiwa dan bahaya yang diakibatkannya."
Itulah ilmu yang dimaksud dengan cahaya yang dipancarkan Allah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bukan ilmu lisan atau ilmu logika.
Al-Junaed mengatakan, "Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu makrifatullah dan ilmu tentang adab dihadapan-Nya."
Syekh Ibnu Atha'illah juga mengatakan, "Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang disertai rasa takut kepada-Nya."
--Syekh Ibnu Atha'illah, Al-Hikam, syarah Syekh Abdullah Asy-Syarqawi.
Sabtu, 01 Desember 2018
MERAIH RAHMAT DENGAN SHALAWAT NABI
Al-Qadhi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al-Husaini r.a berkata,”Ibnu ‘Atha’ berkata : ‘Doa memiliki rukun-rukun tertentu, sayap-sayap, sebab-sebab, dan waktu-waktu khusus. Jika memenuhi rukun-rukunnya doa itu akan menjadi kuat, jika ia memiliki sayap-sayap ia akan terbang ke langit, jika tepat waktunya ia berjalan terus. Dan jika memenuhi sebab-sebab, doa itu akan terkabulkan.
Rukun-rukun doa adalah hati yang khusyuk, konsentrasi, lembut, pasrah diri, bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada faktor apapun. Sayap-sayap doa adalah ketulusan dan kejujuran. Waktu berdoa adalah di malam hari. Sebab-sebabnya adalah membacakan shalawat atas Nabi Saw.”
Dalam kitab Al-Ausath, Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Semua doa tertolak, kecuali dia membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarganya.” Dan Ali bin Abu Thalib r.a berkata,”Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. Kecuali orang itu membaca shalawat, maka tabir itu akan terbakar, dan doa itu pun bisa menembusnya. Jika orang itu tidak membaca shalawat, maka doanya akan terpental.”
Dalam Asy-Syifa, Ibnu Mas’ud r.a berkata,”Jika di antara kalian ada yang mengharapkan sesuatu dari Allah, maka hendaklah memulai doanya dengan puja dan puji kepada-Nya, disusul dengan membaca shalawat atas Nabi-Nya, baru kemudian menyampaikan hajatnya. Yang demikian ini lebih berpeluang besar untuk terkabulkan.”
Kesimpulannya, shalawat dapat mendatangkan pencerahan, rahasia, membersihkan batin dari segala jenis kotoran; yang mesti dibaca oleh para pemula, orang-orang yang memiliki banyak hajat, dan orang-orang yang sudah mencapai puncak perjuangan. Salik thalib, murid muqarrib, dan arif washil, mereka semua sama-sama membutuhkan shalawat.
Seorang seorang penuntut ilmu kita membutuhkan shalawat untuk peningkatan diri; seorang murid untuk bimbingan diri; dan seorang arif membutuhkan shalawat untuk membuatnya fana‘.
Dalam hal ini, shalawat dibutuhkan seorang salik untuk membantunya dalam menempuh perjalanan atau suluk, shalawat dibutuhkan oleh murid untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya, dan dibutuhkan oleh ‘arif untuk berkata begini : “Inilah Engkau, Raja-Diraja.” Shalawat membuat seorang salik mencintai amal perbuatan, membuat seorang murid meraih ahwal, dan membuat seorang ‘arif semakin kokoh berpijak pada maqam al-Inzal.
Selain itu, shalawat menjadikan seorang salik mendapatkan cahaya, shalawat membuat seorang murid memperoleh ‘ibarah, dan shalawat membuat penyaksian seorang ‘arif semakin bertambah; atau shalawat membuat seorang salik mampu berjalan, membuat seorang murid dipancari sinar-sinar, dan membuat seorang ‘arif semakin mesra dalam perjumpaan (bersama Allah); atau boleh jadi, shalawat membuat seorang salik memperoleh cahaya yang berlipat-lipat, membuat seorang murid dicurahi rahasia-rahasia gaib, dan membuat seorang ‘arif merasa tak ada bedanya antara siang dan malam; atau boleh dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik semakin bersemangat, menjaga seorang murid dari kemunduran dalam beramal, dan menjadikan seorang ‘arif semakin sederhana dalam berakhlak; atau, shalawat membuat seorang salik semakin mantap, membuat seorang murid sampai pada dunia gaib Al-Malakut.
Dapat pula dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik ingin merasakan nikmatnya perjumpaan, menjanjikan seorang murid dengan perjumpaan itu sendiri, dan membuat seorang ‘arif semakin yakin dan nyata dalam perjumpaannya.”
---Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Safinah Al-Qadiriyah.
Rukun-rukun doa adalah hati yang khusyuk, konsentrasi, lembut, pasrah diri, bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada faktor apapun. Sayap-sayap doa adalah ketulusan dan kejujuran. Waktu berdoa adalah di malam hari. Sebab-sebabnya adalah membacakan shalawat atas Nabi Saw.”
Dalam kitab Al-Ausath, Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Semua doa tertolak, kecuali dia membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarganya.” Dan Ali bin Abu Thalib r.a berkata,”Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. Kecuali orang itu membaca shalawat, maka tabir itu akan terbakar, dan doa itu pun bisa menembusnya. Jika orang itu tidak membaca shalawat, maka doanya akan terpental.”
Dalam Asy-Syifa, Ibnu Mas’ud r.a berkata,”Jika di antara kalian ada yang mengharapkan sesuatu dari Allah, maka hendaklah memulai doanya dengan puja dan puji kepada-Nya, disusul dengan membaca shalawat atas Nabi-Nya, baru kemudian menyampaikan hajatnya. Yang demikian ini lebih berpeluang besar untuk terkabulkan.”
Kesimpulannya, shalawat dapat mendatangkan pencerahan, rahasia, membersihkan batin dari segala jenis kotoran; yang mesti dibaca oleh para pemula, orang-orang yang memiliki banyak hajat, dan orang-orang yang sudah mencapai puncak perjuangan. Salik thalib, murid muqarrib, dan arif washil, mereka semua sama-sama membutuhkan shalawat.
Seorang seorang penuntut ilmu kita membutuhkan shalawat untuk peningkatan diri; seorang murid untuk bimbingan diri; dan seorang arif membutuhkan shalawat untuk membuatnya fana‘.
Dalam hal ini, shalawat dibutuhkan seorang salik untuk membantunya dalam menempuh perjalanan atau suluk, shalawat dibutuhkan oleh murid untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya, dan dibutuhkan oleh ‘arif untuk berkata begini : “Inilah Engkau, Raja-Diraja.” Shalawat membuat seorang salik mencintai amal perbuatan, membuat seorang murid meraih ahwal, dan membuat seorang ‘arif semakin kokoh berpijak pada maqam al-Inzal.
Selain itu, shalawat menjadikan seorang salik mendapatkan cahaya, shalawat membuat seorang murid memperoleh ‘ibarah, dan shalawat membuat penyaksian seorang ‘arif semakin bertambah; atau shalawat membuat seorang salik mampu berjalan, membuat seorang murid dipancari sinar-sinar, dan membuat seorang ‘arif semakin mesra dalam perjumpaan (bersama Allah); atau boleh jadi, shalawat membuat seorang salik memperoleh cahaya yang berlipat-lipat, membuat seorang murid dicurahi rahasia-rahasia gaib, dan membuat seorang ‘arif merasa tak ada bedanya antara siang dan malam; atau boleh dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik semakin bersemangat, menjaga seorang murid dari kemunduran dalam beramal, dan menjadikan seorang ‘arif semakin sederhana dalam berakhlak; atau, shalawat membuat seorang salik semakin mantap, membuat seorang murid sampai pada dunia gaib Al-Malakut.
Dapat pula dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik ingin merasakan nikmatnya perjumpaan, menjanjikan seorang murid dengan perjumpaan itu sendiri, dan membuat seorang ‘arif semakin yakin dan nyata dalam perjumpaannya.”
---Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Safinah Al-Qadiriyah.
Langganan:
Postingan (Atom)