Sabtu, 01 Desember 2018

MERAIH RAHMAT DENGAN SHALAWAT NABI

Al-Qadhi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al-Husaini r.a berkata,”Ibnu ‘Atha’ berkata : ‘Doa memiliki rukun-rukun tertentu, sayap-sayap, sebab-sebab, dan waktu-waktu khusus. Jika memenuhi rukun-rukunnya doa itu akan menjadi kuat, jika ia memiliki sayap-sayap ia akan terbang ke langit, jika tepat waktunya ia berjalan terus. Dan jika memenuhi sebab-sebab, doa itu akan terkabulkan.

Rukun-rukun doa adalah hati yang khusyuk, konsentrasi, lembut, pasrah diri, bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada faktor apapun. Sayap-sayap doa adalah ketulusan dan kejujuran. Waktu berdoa adalah di malam hari. Sebab-sebabnya adalah membacakan shalawat atas Nabi Saw.”

Dalam kitab Al-Ausath, Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Semua doa tertolak, kecuali dia membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarganya.” Dan Ali bin Abu Thalib r.a berkata,”Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. Kecuali orang itu membaca shalawat, maka tabir itu akan terbakar, dan doa itu pun bisa menembusnya. Jika orang itu tidak membaca shalawat, maka doanya akan terpental.”

Dalam Asy-Syifa, Ibnu Mas’ud r.a berkata,”Jika di antara kalian ada yang mengharapkan sesuatu dari Allah, maka hendaklah memulai doanya dengan puja dan puji kepada-Nya, disusul dengan membaca shalawat atas Nabi-Nya, baru kemudian menyampaikan hajatnya. Yang demikian ini lebih berpeluang besar untuk terkabulkan.”

Kesimpulannya, shalawat dapat mendatangkan pencerahan, rahasia, membersihkan batin dari segala jenis kotoran; yang mesti dibaca oleh para pemula, orang-orang yang memiliki banyak hajat, dan orang-orang yang sudah mencapai puncak perjuangan. Salik thalib, murid muqarrib, dan arif washil, mereka semua sama-sama membutuhkan shalawat.

Seorang seorang penuntut ilmu kita membutuhkan shalawat untuk peningkatan diri; seorang murid untuk bimbingan diri; dan seorang arif membutuhkan shalawat untuk membuatnya fana‘.

Dalam hal ini, shalawat dibutuhkan seorang salik untuk membantunya dalam menempuh perjalanan atau suluk, shalawat dibutuhkan oleh murid untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya, dan dibutuhkan oleh ‘arif untuk berkata begini : “Inilah Engkau, Raja-Diraja.” Shalawat membuat seorang salik mencintai amal perbuatan, membuat seorang murid meraih ahwal, dan membuat seorang ‘arif semakin kokoh berpijak pada maqam al-Inzal.

Selain itu, shalawat menjadikan seorang salik mendapatkan cahaya, shalawat membuat seorang murid memperoleh ‘ibarah, dan shalawat membuat penyaksian seorang ‘arif semakin bertambah; atau shalawat membuat seorang salik mampu berjalan, membuat seorang murid dipancari sinar-sinar, dan membuat seorang ‘arif semakin mesra dalam perjumpaan (bersama Allah); atau boleh jadi, shalawat membuat seorang salik memperoleh cahaya yang berlipat-lipat, membuat seorang murid dicurahi rahasia-rahasia gaib, dan membuat seorang ‘arif merasa tak ada bedanya antara siang dan malam; atau boleh dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik semakin bersemangat, menjaga seorang murid dari kemunduran dalam beramal, dan menjadikan seorang ‘arif semakin sederhana dalam berakhlak; atau, shalawat membuat seorang salik semakin mantap, membuat seorang murid sampai pada dunia gaib Al-Malakut.

Dapat pula dikatakan bahwa shalawat membuat seorang salik ingin merasakan nikmatnya perjumpaan, menjanjikan seorang murid dengan perjumpaan itu sendiri, dan membuat seorang ‘arif semakin yakin dan nyata dalam perjumpaannya.”

---Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Safinah Al-Qadiriyah.

Kamis, 01 November 2018

SEMUA INDAH PADA WAKTUNYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Sungguh aneh jika kau marah kepada Rabb-mu, menyalahkan-Nya dan menganggap Allah Yang Mahaberkuasa dan Mahaagung telah bertindak tak adil, dianggap telah menahan rezeki, dan tak menjauhkan dari musibah.

Tidakkah kau tahu bahwa setiap kejadian ada waktunya, dan setiap musibah ada akhirnya? Keduanya tak bisa dimajukan atau dimundurkan.

Masa-masa musibah tak berubah hingga datang kebahagiaan. Masa-masa kesulitan tak berlaku hingga datang kemudahan.

Maka, bertindaklah yang sopan di hadapan Allah. Kau harus diam, sabar, pasrah, dan ridhalah kepada Allah. Bertobatlah kepada-Nya. Di hadapan Allah tak ada tempat untuk menuntut atau membalas dendam seseorang tanpa dosa dari hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi dalam hubungan antarhamba-Nya.

Allah Maha Berkuasa, Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Dia tak melakukan sesuatu pun tanpa arti, tak ada yang sia-sia. Tak layak menyebut cacat atau salah atas tindakan dan kuasa-Nya.

Jadi, tunggulah jalan keluar dari-Nya hingga datang takdir-Nya, sebagaimana datangnya musim panas setelah musim dingin, dan sebagaimana datangnya siabg setelah berlalunya malam. Jadi, jika kau berharap dan memohon tibanya siang saat pekat dan gelapnya malam kian memuncak, maka permohonanmu sia-sia!

Kepekatan malam pun akhirnya memudar dan mendekati fajar, siang pun datang dengan kecerahan, entah kau menghendaki atau tidak. Jika kau menghendaki malam pada saat itu, maka doamu tak akan terkabul. Sebab kau telah meminta yang tak layak. Kau akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu dan enggan.

Tinggalkanlah semua itu! Berimanlah dan patuhlah kepada Allah. Bersabarlah dengan kehendak-Nya. Segala milikmu tak akan lari darimu, dan segala yang bukan milikmu tak akan kauperoleh."

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab as-Suluk wa at-Tawassul ila Manazil al-Muluk

Selasa, 23 Oktober 2018

PENUHI HATI DENGAN CINTA & DZIKR

Hati yang kering dan rapuh, maka siramilahlah dengan ketaatan dan dzikrullah. Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah lidahmu basah dengan mengingat Allah." (HR At-Tirmudzi)

Jika hati telah diisi dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu berdzikir kepada Allah, maka ia akan menyadari bahwa Allah akan selalu melihat dan mengawasinya. Keadaan dan kesadaran semacam ini akan membantu kita untuk selalu taat kepada-Nya dan membuat kita takut bermaksiat kepada-Nya.

Haris Al-Muhasibi mengatakan:
"Di antara sebaik-baik ibadah adalah hati yang diisi rasa cinta pada ketaatan. Jika hatimu telah dilimpahi perasaan itu, maka anggota badan akan beramal sesuai dengan apa yang dilihatnya dalam hati. Sebab, boleh jadi anggota badan.sibuk beribadah, sedangkan hati diam menganggur."

Seseorang bertanya,."Lalu bagaimana bentuk ibadah hati di luar anggota badan? Dan, bagaimana ibadah yang dilakukan hati akan mengalir menuju anggota badan?"

Beliau menjawab, "Yakni ketika hati menjadi wadah bagi kerisauan, kegalauan dan kesedihan, rasa lemah dan sangat membutuhkan, penyesalan, dan keterdesakan menuju Allah, sikap tulus kepada-Nya, dan cinta pada apa yang Allah cintai, serta benci pada apa yang Allah benci.

Jika ia menyikapi Allah dalam keadaan hati semacam ini, anggota badan akan ikut bergerak dan bangkit untuk melakukan ketaatan. Keadaan seperti ini akan terwujus jika relung hati telah diisi dengan dzikir kepada Allah."

Disarikan dari Syarah Kitab Tajul-'Arus Syekh Ibnu Atha'illah, oleh Syekh Muhammad Najdat.

Minggu, 21 Oktober 2018

MAMAHAMI REZEKI DAN TUNTUTAN NAFSU

Imam Al-Ghazali mengatakan: “Untuk mengatasi kendala rezeki, sebenarnya engkau cukup bertawakal dengan sebenar-benarnya, yakni engkau pasrahkan kepada Allah dalam urusan sumber rezeki dan kebutuhanmu, dalam semua keadaan.”
Menurutnya, ada dua alasan mengapa kita harus bertawakal kepada Allah:

1) ”Agar engkau bisa berkonsentrasi penuh beribadah dan berbuat kebaikan lainnya. Sebab, orang yang tidak bertawakal (berserahdiri) pasti lahir dan batinyya lebih sibuk pada urusan mencari rezeki dan kebutuhan dunia lainnya daripada beribadah kepada Allah. Ia menggunakan tubuhnya untuk bekera sepanjang hari untuk memperoleh nafkah, namun hati dan pikirannya selalu memikirkan rezeki dengan rasa was-was. Padahal, ibadah itu membutuhkan konsentrasi hati dan tubuh, sementara konsentrasi itu tak bakal terwujud kecuali pada orang-orang yang memasrahkan diri secara total.

2) Meninggakkan sikap tawakal itu membahayakan iman kita. Bukankah Allah telah menyertakan rezeki kepada makhluk-Nya? “Dan bertawakallah kepada Allah yang Maha Hidup kekal, yang tidak akan mati.” (QS Al-Furqan: 58). “Dan hanya kepada Allah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman,” (QS Al-Maidah: 23)

Maka, barangsiapa yang tidak memahami ayat  ini berarti tidak merasa cukup dengan janji Allah, tidak tenang dengan jaminannya, dan tidak puas dengan pembagian rezeki-Nya. Lalu, ia lalai untuk menjalankan perintah-Nya, lupa janji ancaman-Nya. Maka, lihatlah bagaimana jadinya orang ini, ujian apa yang bakal dijalani akibat perbuatan semacam ini.

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abdullah bin Umar r.a., “Bagaimana jika engkau tinggal di tengah-tengah kaum yang suka menimbun harta mereka selama setahun karena kurang percaya dan kurang bergantung kepada Allah?”

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Allah SWT melaknat kaum yang tidak percaya dengan janji-Nya dalam soal rezeki.”

Diriwayatkan bahwa ada seorang penggali kubur telah bertobat dengan karena sebab Abu Yaziid al-Busthami. Abu Yazid lalu menanyakan keadaannya, dan penggali kubur itu menjawab, “Aku telah menggali seribu liang lahat dan aku tidak pernah melihat wajah mereka menghadap kiblat, kecuali dua orang lelaki.”
Abu Yazid kemudian berkata, “Sungguh kasihan mereka. Wajah mereka dipalingkan dari arah kiblat lantaran meragukan rezeki dari-Nya.”

Seorang sahabat saya menuturkan bahwa dalam mimpinya dia melihat seorang yang saleh, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apakah engkau selamat karena imanmu?” Orang saleh itu menjawab, “Iman hanya menyelamatkan orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala, semoga Dia memperbaiki kita dengan anugerah-Nya dan tidak menyiksa kita walau sebenarnya kita memang pantas untuk disiksa. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dari yang paling pengasih.”

--Dikutip dari Kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali

TANPA CINTA, SEGALANYA TAK BERNILAI

Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti.
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapan-Nya.

Burung-burung Kesadaran telah turun dari langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari.
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi.
Demikian pentingnya penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan dengan-Nya.

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam dzikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan.
Lihatlah pepohonan ini! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan?
Sang lili berbisik pada kuncup: "Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana nikmatnya Kebaikan."

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban "YA" dalam pertanyaan:
"Bukankah Aku ini Rabbmu?"

--Maulana Jalaluddin Rumi

Jumat, 19 Oktober 2018

MAHAR CINTA UNTUK KEKASIH
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Dalam Hadis Qudsi Allah SWT berfirman, ‘Dustalah pengakuan seseorang yang mencintai-Ku, namun tatkala malam menghampiri ia malah tidur mengabaikan Aku.”

Jika engkau menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai Allah, maka engkau akan merasa tersiksa oleh tidurmu, kecuali tidur yang tidak disengaja. Orang yang mencintai itu lelah, dan yang dicintai selalu tenang. Orang yang mencintai adalah pencari, sedangkan yang dicintai adalah yang dicari.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman kepada malaikat Jibril: “Wahai Jibril, tidurkanlah si Fulan dan bangunkanlah ia!”

Firman ini memiliki dua pengetian:
 Pertama, Dia berfirman “Bangunkanlah fulan yang mencintai dan tidurkanlah fulan yang dicintai. Orang yang mengakui mencintai-Ku harus Aku berikan tantangan dan menempatkannya pada posisi seharusnya agar ‘dedaunan’ yang tumbuh di dalam hatinya menjadi berguguran. Bangunkanlah dia agar jelas bukti pengakuannya serta terwujud rasa cintanya.

Dan, tidurkanlah ia, karena dia adalah orang yang dicintai yang telah lama mengalami kelelahan. Tidak ada satu pun yang tersisa baginya untuk selain diri-Ku. Aku mengambil cintanya untuk-Ku. Pengakuannya terbukti, begitu juga dengan keterangannya dan pelaksanaannya terhadap janji-Ku.

Tobatnya menghampiri-Ku, begitu juga dengan penunaiannya terhadap janji-Ku. Ia adalah tamu. Seorang tamu tidak diminta untuk melayani dan bekerja. Tidurkanlah dirinya pada meja makan karunia-Ku, serta tenangkanlah dirinya dengan kedekatan kepada-Ku. Kasih sayangnya sungguh benar. Maka, lenyaplah seluruh beban dirinya!”

 Kedua, Dia berfirman, “Tidurkanlah fulan, karena ia menginginkan ridha makhluk melalui ibadahnya kepada-Ku. Bangunkanlah fulan, karena ia mendapatkan ridha-Ku dengan cara beribadah kepada-Ku. Tidurkanlah fulan, karena Aku membenci suaranya. Bangunkanlah fulan, karena Aku ingin mendengar suaranya.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khathir

Senin, 15 Oktober 2018

ALLAH DI ANTARA LISAN DAN HATI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Jika ada seseorang bertanya: “Bagaimanakah aku harus mengeluarkan cinta dunia dari hatiku?” Maka jawabannya adalah: “Hendaklah memperhatikan cintamu pada ‘tuhan-tuhan’ hati dan ‘anak-anak’-nya.”

Ambillah alat ukur berupa cermin, lalu pandanglah hatimu melalui cermin itu. Perhatikanlah, apakah engkau seorang Mukim atau seorang munafik? Apakah engkau seorang yang bertauhid atau seorang musyrik?

Dunia adalah fitnah yang menyibukkan, kecuali diambil dengan niat yang benar semata-mata untuk bagian akhirat. Jika seseorang berniat dengan benar dalam memanfaatkan dunia, maka jadilah akhirat untuknya. Setiap nikmat dapat menafikan syukur kepada Allah. Karena itu, hendaklah engkau mengarahkan nikmat Allah dengan cara bersyukur kepada-Nya.

Setidaknya ada dua cara untuk bersyukur: 1) Memohon pertolongan dengan nikmat itu agar kita dapat berbuat taat dan menjadi pelipur lara bagi orang yang fakir di dunia; 2) Mengakui karena nikmat itu, mengakui kepada Maha Pemberi dan bersyukur kepada Dzat yang Menurunkannya, yakni Allah Azza wa Jalla.

Seorang ulama pernah berkata: “Segala sesuatu yang dapat menyibukkanmu dan memalingkanmu dari Allah adalah bencana. Sesungguhnya kesibukkan yang dapat melupakanmu untuk berdzikir kepada-Nya adalah bencana. Jika shalat, puasa, haji dan seluruh amal baik telah memalingkanmu dari Allah, maka itu juga akan menjadi bencana. Maka perbaikilah ibadahmu. Jika nikmat yang diberikan Allah telah menyibukkanmu untuk mengingat Allah, maka nikmat itu juga akan mencelakakanmu.

Engkau boleh jadi sedang berdusta, bahkan saat engkau sedang mengerjakan shalat. Engkau mengucapkan, “Allahu Akbar!” tetapi engkau berdusta, karena dalam hatimu masih ada tuhan lain selain Allah. Sebab, segala sesuatu yang menjadi sandaranmu maka berarti ia adalah tuhan. Segala sesuatu yang engkau takuti dan kau harapkan adalah tuhan bagimu. Hatimu tidak selaras dengan lisanmu. Amal tidak sesuai dengan perkataan. Maka, hendaklah engkau mengucapkan “Allahu Akbar” seribu kali dalam hati dan mengucapkan sekali dengan lisan. Maka, tidakkah engkau merasa malu ketika engkau mengucapkan “Laa ilaaha illallah”, sedangkan engkau memiliki ribuan tuhan selain Allah dalam hatimu?”

---Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Fathu ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani