Kamis, 19 Mei 2016

PESAN SUCI PENGGUGAH JIWA


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Wahai anak muda! Engkau harus mempraktikkan pengabdian yang tulus (ikhlâsh al-ʽamal) kepada Allah dalam shalatmu, puasamu, pelaksanaan hajimu, pembayaran zakatmu, dan dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.

Engkau harus menjalankan komitmen kepada-Nya sebelum engkau sampai di hadirat-Nya. Komitmen ini memerlukan sikap pengabdian yang tulus, pengukuhan dalam tauhid, mengikuti dengan setia Sunnah Nabi Saw. dan komunitas Islam (jamâʽah), kesabaran dan sikap syukur, dan kesiapan untuk mempercayakan urusan-urusanmu kepada Tuhanmu.
Dalam hubungan dengan makhluk-makhluk, ia memerlukan sikap penolakan, dan dalam hubungan dengan-Nya, ia memerlukan sikap mencari. Terhadap semua yang selain-Nya, ia memerlukan sikap tak acuh, dan terhadap-Nya, ia memerlukan sikap pendekatan pengabdian dengan hatimu dan wujud terdalammu (sirr). Ia memerlukan perasaan keterlepasan dari segala sesuatu yang lain, dan menuntut perasaan cinta dan kerinduan kepada-Nya. Setelah itu Dia pasti akan menganugerahimu kedekatan-Nya dan anugerah-Nya yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran dan hati manusia.
Menempuh jalan ini akhirnya akan membawamu kepada Tuhanmu. Jika iblis mendatangimu dan mencoba membuatmu mengubah jalanmu, engkau harus memohon pertolongan kepada-Nya, agar Dia mengusirnya jauh-jauh darimu. Engkau harus meminta tolong kepada-Nya, seperti halnya orang-orang sebelummu meminta tolong kepada-Nya di masa mereka. Engkau harus mengerjaklan pekerjaanmu dengan baik, kemudian berbaik sangka kepada Tuhanmu.
Berbaik sangkalah kepada-Nya dan berbuatlah sebaik-baiknya untuk menaati-Nya dengan selayaknya, sebab nantinya Dia akan banyak berurusan denganmu. Banyak kebaikan ditemukan dalam sikap berbaik sangka (husnuzhzhann) kepada Allah, kepada nabi-nabi-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada orang-orang saleh di antara hamba-hamba-Nya."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir


CINTA DAN BENIH KEBAHAGIAAN


Imam Al-Ghazali mengatakan:
"Cinta adalah benih kebahagiaan. Cinta kepada Allah dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui ibadah. Ibadah dan dzikir yang terus menerus akan mencerminkan tingkat pengendalian dan pengekangan nafsu badan.
Ini tidak berarti ia harus memusnahkan seluruh nafsu badan, karena jika begitu maka ras manusia akan musnah. Namun, pemuas hasrat tubuh itu harus dibatasi secara ketat.

Dan, karena manusia bukanlah hakim yang terbaik untuk menghukum diri sendiri, maka ia harus mengkonsultasikan penetapan batasan-batasan itu kepada pembimbing ruhani, yakni para nabi. Hukum yang mereka tetapkan berdasarkan wahyu Allah yang harus ditaati. Orang yang melanggar berarti telah menganiaya dirinya sendiri.
Banyak orang mengaku mencintai Allah, tetapi kecintaannya sama sekali tak teruji. Untuk menguji rasa cintamu, perhatikanlah kemana kau akan condong ketika perintah-perintah Allah datang bertolak-belakang dengan hasrat keduniawianmu?
Orang yang mengaku mencintai Allah, namun tetap membangkang kepada-Nya, berarti pengakuannya itu dusta belaka."
---Imam Al-Ghazali, kitab Kimiya As-Sa'adah.

MANFAAT DZIKIR BAGI KITA

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan, "Tidak ada ibadah yang lebih bermanfaat bagimu daripada dzikir. Sebab, dzikir adalah ibadah yang bisa dilakukan orang tua dan orang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri, rukuk, dan sujud.
Bersihkan cermin hatimu dengan khalwat dan dzikir hingga kelak kau berjumpa dengan Allah SWT.

Hatimu harus selalu ingat Allah sehingga cahaya menyinarimu. Jangan seperti orang yang ingin menggali sumur, kemudian ia menggali di satu tempat sedalam satu jengkal lalu menggali di tempat lain sedalam satu jengkal pula. Jadi, airnya tidak akan pernah keluar. Akan tetapi, galilah di satu tempat sehingga airnya memancar.
Hai hamba Allah, agamamu adalah modalmu. Jika kau telah menyia-nyiakan modalmu, sibukkan lisan dengan berdzikir mengingat-Nya, sibukkan hati dengan cinta kepada-Nya, dan sibukkan tubuhmu dengan menaati-Nya. Tanamlah wujudmu di tempat menanam hingga benih muncul dan tumbuh. Siapa yang memperlakukan hatinya sebagaimana petani memperlakukan tanahnya, pasti hatinya bersinar."

--Syekh Ibn Atha'illah dalam Taj Al-'Arus

DOA & TAWASUL DARI RASULULLAH

Di zaman Rasulullah, ada seorang lelaki yang tertimpa musibah dan sakit hingga matanya mengalami kebutaan. Karena tak kuasa dengan penderitaan yang dialaminya, dia pergi menghadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia memohon agar kepada Nabi untuk mendoakan dirinya agar bisa sembuh dari penyakitnya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Pergilah ambil wudhu dan shalatlah dua rakaat, lalu bacalah bacalah doa ini:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّيْ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّيْ وَيَقْضِيْ حَاجَتِيْ
Allâhumma innî as-aluka wa atawajjahu ilaika binabiyyi muhammadin nabiyyir rahmah ya muhammad innî atawajjahu bika ilâ rabbî wa yaqdhî hâjatî
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu dan aku menghadap pada-Mu perantara Nabi Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku dengan engkau terkait dengan hajatku agar dikabulkan.” (HR. An-Nasa’i)
Maka, seketika orang itu sembuh dari penyakit yang dialaminya. Matanya tak lagi buta, dia kembali sehat berkat doa yang diajarkan Nabi.
Doa yang memuat contoh penyebutan dan tawajjuh ini sangat populer di zaman Nabi dan masa sahabat. Meski doa ini menjadi sebab kemunculannya adalah untuk menyembuhkan kebutaan, tapi dalam praktiknya dia merupakan doa segala hal, terutama saat ditimpa cobaan berat.
Bahkan, dahulu pernah ada seseorang yang menghadap khalifah Utsman ibn Affan untuk memohon bantuan dengan segera. Tapi sayang, sang Khalifah tak menggubrisnya ia bahkan tak menoleh ke arah orang itu sama sekali. Maka dia pulang dengan tangan kosong tanpa hasil apa pun. Lelaki itu lantas mengadu pada Utsman ibn Hanif. Mendengar pengaduannya, Utsman ibn Hanif lalu menyuruhnya wudhu dan menuju masjid untuk shalat dua rakaat. Utsman ibn Hanif berpesan agar usai shalat, lelaki itu mengucapkan doa di atas.
Akhirnya, lelaki itu melaksanakan saran Utsman ibn Hanif dan kembali menghadap sang Khalifah. Sesampainya di rumah sang Khalifah, tiba-tiba ia disambut dengan hangat dan langsung ditanya sang Khalifah, “Apa yang bisa saya bantu?” Maka lelaki itu pun mengadukan segala hal yang mungkin bisa dibantu sang Khalifah. Kisah itu diabadikan dalam kitab, At-Targhîb fi Ad-Du’â’ karya Abdul Wahid Al-Maqdisi.
Sahabatku, lihatlah redaksi hadis ini, "Aku menghadap kepada-Mu perantara Nabi Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku dengan engkau terkait dengan hajatku agar dikabulkan.”
Sebuah permohonan doa yang menggunakan perantara Rasulullah untuk menguatkan agar doa terkabul. Di zaman Khalifah Usman, Nabi telah wafat, namun redaksi tawajuh dan perantaranya masih terus digunakan, sebagaimana kita berselawat saat tahiyyat. Dari pelajaran ini kita juga bisa memahami bahwa pada setiap kita berdoa kita harus mendahuluinya dengan shalawat Nabi. Doa bisa tertolak tanpa shalawat. Rangkaian doa dari awal hingga akhir adalah satu kesatuan munajat, dimana tanpa perantara Rasul doa menjadi kurang sah.
Maka, tak heran sahabat, tabiin, tabi tabiin, seringkali melakukan tawassul dengan model doa seperti itu tapi dengan redaksi berbeda. Shalawat menjadi doa dan munajat yang melekat di hati mereka. Mereka menulis syair, pujian, burdah, dan sejenisnya untuk memuliakan dan mengagungkan Nabinya.
Shalawat Fatih, shalawat Nariyah, shalawat Badar, shalawat Arzaqiyah dan ratusan selawat lain yang pernah dibuat oleh ulama terdahulu dan diabadikan dengan tradisi pewarisan shalawat secara turun temurun adalah hal yang bisa terjadi. Pujian pasti bersifat hiperbolik, maka sepanjang tidak bertentangan dengan nash dan akal sehat, jangan pernah menganggapnya sebagai musyrik. Munajat adalah bahasa jiwa, sangat pribadi, personal, dan refleksi dari pikiran dan hati yang diajukan kepada Allah. Jadi wajar, jika bahasa permintaan yang indah dari segi sastra, mendalam dari segi makna itu tersusun dalam kalimat shalawat yang memesona.
Sayangnya, muatan bahasa yang memuliakan Nabi selalu dianggap berlebihan, dianggap bidah, dan bahkan ada yang menyebut musyrik. Ini terjadi karena miskin ilmu dan miskin adab. Mereka lupa atau tidak menyadarinya bahwa Allah sendiri adalah Dzat yang paling dahsyat dalam memuji Rasulullah. Bahkan, kadang Dia menggunakan simbol khusus untuk memuliakan Nabi, seperti Ya Siin, Alif Lam Mim dan sebagainya. Dan, bukankah seluruh isi Al-Quran adalah pemuliaan khusus untuk Muhammad, manusia paling sempurna, tajalli Allah yang paling sempurna.
Pujian kita dalam shalawat Nariyah atau shalawat Fatih belum sebanding dengan pujian Allah dalam Al-Quran. Bukan hanya wajah Nabi yang bisa menyebabkan turunnya hujan, tapi bulan pun bisa terbelah, bahkan dunia ini diciptakan Allah untuknya dan karenanya. Seperti yang termuat dalam Hadis Qudsi, lawlaka, lawlaka, ma khalaqtul-aflaka.
Setelah memahami hadis Qudsi ini, maka kita akan dengan mudah memahami hadis Qudsi yang lain: "Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an 'urafa fa khalaqtul khalqa likay 'uraf" (Aku adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi, Aku ingin dikenali, maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali). Ruh dan Nur Muhammad adalah ciptaan Allah pertama, mazhar paling sempurna, dia adalah cermin Tuhan.
Dari Ruh Muhammad yang termurni inilah makhluk pertama dan asal seluruh makhluk. Rasulullah SAW bersabda, "Ana minallah wal-Mukminun minni." (Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dariku).
Konsep kosmologi Islam ini tertuang dalam Al-Quran, hadis, tafsir, dan kitab-kitab ulama. Mereka yang mengenali khazanah keilmuan Islam ini tak akan berani menafikan dalil ini.
Tak ada satu doa dan selawat pun yang ditujukan untuk meminta kepada Nabi. Tapi, meminta kepada Allah dengan perantara, kesaksian, bantuan, dan kemuliaan yang pernah diberikan Allah kepada Nabinya. Karena itu, dalam shalawat selalu diawali dengan "Allahumma" itu adalah kalimat panggilan langsung kepada Allah, "Ya Allah."
Semoga Allah membimbing ruh kita ke jalan yang diridhai-Nya, membuka pintu-pintu makrifat dan mahabbah-Nya.
Allahumma shalli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.


MENJAWAB DAKWAH SALAFI-WAHABI

Alhamdulillah…Ternyata, buku karya Mufti Agung Mesir, Prof Dr. Ali Jum’ah banyak diminati kaum terdidik. Tidak menyangka, ternyata laris manis. Saya bersyukur karena generasi Muslim kita tahu bagaimana harus belajar, dan tidak mudah terbawa hasutan kelompok lain. Buku ini memang layak menjadi rujukan bagi mereka yang haus pengetahuan agama.
Sebagai hadiah atas rasa syukur saya, berikut saya kutip penjelasan dalam buku ini tentang pemahaman konsepsi Bid’ah yang salah dari kelompok yang sering menyebut diri mereka pembela Sunnah.
Prof Dr. Ali Jum’ah menjelaskan:
“Di antara keburukan yang menggerogoti kaum ekstrem itu adalah memperluas pemahaman bid’ah sehingga mereka mengklaim adat istiadat maupun tradisi yang dilakukan kaum muslimin sebagai bid’ah dan sesat. Hal ini dikarenakan mereka menganggap segala sesuatu yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW Adalah bid’ah. Maka tidak boleh dikerjakan, implikasinya ketika mereka melihat ada orang menengadahkan tangannya saat berdoa, maka mereka akan menghardiknya dan mengatakan perbuatan itu bid’ah. Alasannya, Rasulullah tidak pernah melakukan hal seperti itu. Begitu pula, ketika ada yang mengajak mereka bersalaman sehabis shalat, maka mereka akan memberitahu bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dan masih banyak contoh lainnya. Pertanyaannya, apakah benar perbuatan yang ditinggalkan [atau tidak dilakukan] Rasulullah SAW, itu termasuk bid’ah dan sesat?
Para ulama di seantero dunia, baik salaf ataupun khalaf, semuanya sepakat bahwa at-tarku [apa yang ditinggalkan] bukanlah salah satu metode yang bisa digunakan secara terpisah dalam perumusan hukum [istidlal]. Tetapi, metode yang bisa digunakan untuk menetapkan hukum syar’i, baik wajib, sunnah, mubah atau makruh itu adalah datang dari nash Al-Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas.
At-Tarku pada dasarnya tidak menunjukan hukum syar’i. ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Ada banyak dalil yang menunjukan bahwa para sahabat tidak memahami di dalam tarku-nya Rasulullah SAW, terdapat keharaman, bahkan sampai kemakruhan pun tidak. Inilah pemahaman para ulama sepanjang masa. Ibnu Hazm pernah membantah hujjah ulama Malikiyyah dan Hanafyah yang mengatakan makruh hukumnya shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib, karena Abu Bakar, Umar dan Usman tidak pernah melakukannya. Ibnu Hazm menjelaskan, “Sesungguhnya, meninggalkan shalat tersebut [shalat sunnah sebelum maghrib] tidak berarti apa-apa, selama mereka tidak mengatakan secara jelas mengenai kemakruhannya. Pada kenyataannya, penjelasan itu tidak pernah dinukil.”
Itulah metode Ibnu Hazm dalam menanggapi tarku – nya para sahabat dalam sebuah ibadah tertentu. Sikap yang sama juga ditunjukan ketika menanggapi tarku Rasulullah mengenai sebuah ibadah yang memang diperbolehkan, seperti ketika berbicara tentang shalat sunnah dua rakaat sebelum ashar. Ia berkata, “Hadist Ali bin Abi Thalib ra. Tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali [dalam masalah di atas], karena yang ada dalam hadist tersebut hanyalah pemberitahuannya atas apa yang diketahui. Ia [Ali] tidak pernah melihat Rasulullah melakukan shalat tersebut. Ia memang benar dalam perkataanya, tapi ini bukan berarti mengandung makna melarang atau memakruhkan shalat tersebut. Rasulullah tidak pernah berpuasa sebulan penuh di luar Ramadhan. Namun, ini tidak berarti mengandung makna memakruhkan puasa sunnah satu bulan penuh [di luar Ramadhan].”

Di sini, Ibnu Hazm memahami tarku Rasulullah SAW atas puasa sunnah satu bulan penuh di luar Ramadhan tidak bisa menunjukan hukum haram atau makruhnya berpuasa seperti itu, sekalipun Rasulullah SAW sendiri tidak pernah melakukannya.
Rasulullah tidak pernah melakukan khotbah di atas mimbar, namun beliau melakukannya di atas pelepah kurma. Kendati demikian, para sahabat tidak mempunyai pemahaman bahwa berkhotbah di atas mimbar itu hukumnya bid’ah atau haram. Karena itu, mereka lantas membuatkan mimbar untuk Rasulullah saw. berkhotbah. Bukankah mereka ini orang-orang yang tidak pernah melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Rasulullah SAW? Jika demikian, dapat diketahui bahwa para sahabat tidak menjadikan tarku Rasulullah SAW sebagai bid’ah.
Rasulullah SAW ketika shalat, tepatnya setelah mengangkat kepala dari rukuk, beliau tidak pernah membaca doa: “rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran….” dan seterusnya, seperti yang terdapat dalam sebuah hadist. Tetapi, hal ini tidak dipahami oleh seorang sahabat sebagai larangan untuk membaca doa tersebut. Jika tidak demikian, mana mungkin ia (sahabat), mau melakukan sesuatu yang diyakini keharamannya? Rasulullah SAW sendiri tidak mencelanya, karena telah membaca doa tersebut.
Dan, beliau juga tidak melarang membaca doa-doa lainnya di dalam shalat.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Rifa’ah bin Rafi Az-Zuraqi, ia berkata, “Suatu hari, kami pernah shalat di belakang Rasulullah SAW. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau membaca, “sami’allahu liman hamidah.” Seseorang laki-laki dari belakang beliau membaca, “Rabbana walakal-hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi.” Lantas setelah shalat beliau bertanya, “Siapa yang tadi membaca doa itu?”

Lelaki itu menjawab, “Aku.”
Beliau bersabda, “Aku melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya.” (HR Al-Bukhari, Abu Dawud, Nasai, Ahmad, Malik dan Al-Baihaqi)
Sahabat Bilal r.a. tidak memahami bahwa tarku Rasulullah SAW mengenai shalat sunnah dua rakaaty setelah wudhu bermakna tidak boleh melaksanakan shalat itu. Tetapi, Bilal melakukannya dan tidak pernah memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau baru mengetahuinya setelah beliau bertanya kepada Bilal.
“Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya), yang engkau kerjakan dalam Islam (setelah memeluknya). Karena, sesungguhnya aku mendengar suara langkah kedua sandalmu di dalam surga.”
Bilal menjawab, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan pahalanya, kecuali setelah aku bersuci, baik saat petang ataupun siang, lalu aku shalat yang tidak diwajibkan kepadaku dengan bersuci itu.” (HR Al-Bukhari)
Bilal r.a. sesungguhnya telah membuat “shalat sunnah” untuk dirinya sendiri pada waktu tertentu, padahal Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencontohkan atau memerintahkannya. Bilal baru mengabarkannya tentang rahasia amalannya tersebut setelah Nabi bertanya. Bukankah dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa amalan tersebut tidak pernah dilakukan Nabi, lalu Bilal memberitahukan, maka akhirnya amalan ini pun diakui oleh Rasulullah. Sehingga, kita di generasi setelah Rasul menyebut bahwa shalat setelah wudhu adalah sunnah, sebagaimana yang dilakukan Bilal.
Kita mengambil dalil dari pemahaman sahabat mengenai dibolehkannya membuat doa atau shalat baru di waktu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kami juga mengambil dalil bahwa Rasulullah SAW tidak mengingkari metode dan cara yang ditempuh sebagian sahabatnya, bahkan tidak melarang mereka untuk melakukannya di masa-masa mendatang.”
--Prof Dr. Ali Jum’ah, Mufti Agung Mesir, Al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqqasyatu Ahammi Qadhaayaahum


HADIS QUDSI UNTUK HARIMU YANG DIBERKAHI

Abu Dzar al-Ghifari ra. meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman : 
يَا عِبَادِيْ إِنِيْ حَرَّمَتْ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَاتَظَالَمُوْا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharmkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman diantara kalian sebagai sesuati yang diharamkan, maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.”
يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan beri kalian hidayah.”
يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِيْ أُطْعِمْكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar, kecuali orang yang telah aku beri mareka makan, maka mintalah makan kepada-Ku, Niscaya Aku akan beri kalian makan.”
يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أُكْسِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang, kecuali orang yang telah aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya aku akan beri kamu pakaian.”
يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan pada siang dan malam hari, sedangkan saya lah yang mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, Saya akan ampuni kalian.”
يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضَرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukan kemudharatan yang bisa memberikan kemudharat kepada-Ku, dan sekali-kali kalian tidak akan mampu melakukan manfaat yang bisa memberikan manfaat kepada-Ku.”
يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ و آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كاَنُوْا عَلَى اْتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِيْ مُلْكِيْ شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling taqwa, maka hal itu tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”
يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَر قَلْب رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مُكْلِيْ شَيْئَا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling durhaka, maka hal itu tidak akan mengurangi (kemuliaan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”
يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسْأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُهُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ المَخِيْطُ إذَا أُدْخلَ البَحْرَ
"Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya berada di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang sesuai dengan permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi (sedikit pun) kekayaan yang ada pada-Ku, kecuali seperti halnya air yang menempel pada sebuah jarum ketika jarum tersebut dimasukkan ke dalam lautan.”
يَا عِبَادِيْ إنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمِدْ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal kalian itulah yang akan Aku hisab, kemudian Aku memberi balasannya secara sempurna. Maka barang siapa menemukan balasan yang baik, hendaknya dia memuji Allah; dan barang siapa menemukan balasan yang buruk, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali terhadap dirinya sendiri.”
---Imam Nawawi Al-Bantani, kitab Nasha'ihul Ibad----


TIPUAN DUNIA YANG MENGGODA

Imam Al-Ghazali mengatakan:
"Dunia cenderung menipu dan memperdaya manusia, yang mewujud dalam beragam rupa. Misalnya, dunia berpura-pura seakan-akan ia akan selalu tinggal bersamamu, padahal kenyataannya, secara perlahan ia bakal pergi menjauhimu dan berpisah darimu, layaknya suatu bayangan yang tampaknya tetap, tetapi kenyataannya selalu bergerak.
Atau, dunia menampilkan dirinya dalam rupa penyihir yang berseri-seri, tetapi tak bermoral, ia berpura-pura mencintai dan menyayangimu, namun kemudian membelot kepada musuhmu, meninggalkanmu mati merana dilanda rasa kecewa dan putus asa. Nabi Isa a.s. melihat dunia melihat dunia dalam bentuk seorang wanita tua yang buruk rupa.
Ketika Isa a.s. bertanya kepadanya tentang berapa banyak suaminya, ia menjawab bahwa jumlahnya tak terhitung. Ia bertanya lagi, apakah mereka telah mati ataukah dicerai. Si wanita itu bilang bahwa ia telah memenggal mereka semua. “Aku heran,” ujar Isa a.s. kepada wanita tua itu, “Betapa banyak orang bodoh yang masih menginginkanmu setelah apa yang kau lakukan atas banyak orang.”
Wanita tua ini menghiasi dirinya dengan busana yang indah sarat permata, menutupi mukanya dengan cadar, lalu merayu manusia. Sangat banyak dari mereka yang mengikutinya menuju kehancuran.
Rasulullah saw. menyatakan bahwa di Hari Pengadilan, dunia ini akan tampak dalam bentuk seorang nenek tua yang seram, bermata hijau gelap, dan gigi yang bertonjolan. Orang yang melihatnya akan berkata, “Ampun! Siapakah ini?” Malaikat menjawab, “Inilah dunia yang deminya kalian bertengkar dan berkelahi serta saling merusak kehidupan.” Kemudian wanita itu akan dicampakkan ke neraka seraya menjerit keras, “Oh Tuhan, di mana pencinta-pencintaku dahulu?” Tuhan pun kemudian memerintahkan para pecinta dunia juga dilemparkan mengikuti kekasih mereka itu.
Siapa saja yang mau merenungkan secara serius keabadian di masa lalu, ketika dunia ini belum ada, dan keabadian di masa datang, ketika dunia tak lagi ada, akan mengetahui bahwa kehidupan ini bagaikan sebuah perjalanan yang tahapan-tahapannya dicerminkan oleh tahun, liga-liganya (ukuran jarak, + 3 mil) oleh bulan, mil-milnya oleh hari, dan langkah-langkahnya oleh detik. Jadi, betapa bodoh orang yang berupaya menjadikan dunia sebagai tempat tinggalnya yang abadi dan menyusun rencana sepuluh tahun ke depan untuk meraih apa-apa yang bisa jadi tak pernah dibutuhkannya, padahal sepuluh hari ke depan mungkin ia telah terkubur dalam tanah.
Saat kematian datang, orang yang mengumbar nafsu tanpa batas dan tenggelam dalam kenikmatan dunia tak ubahnya seperti orang yang memenuhi perutnya dengan panganan lezat, kemudian memuntahkannya.
Kelezatannya telah hilang, tetapi mualnya tetap terasa. Makin banyak harta yang dinikmati – berupa taman-taman yang indah, budak, emas, perak, dan lain-lain – semakin berat penderitaan yang dirasakan ketika mereka dipisahkan oleh kematian. Beratnya penderitaan itu melebihi derita kematian, karena jiwa yang telah dilekati sifat tamak akan menderita di akhirat akibat nafsu yang tak terpuaskan.
Dunia menipu manusia dengan cara-cara lainnya, seperti menampakkan diri sebagai sesuatu yang remeh dan sepele, tetapi setelah dikejar ternyata ia punya cabang yang begitu banyak dan panjang sehingga seluruh waktu dan energi manusia dihabiskan untuk mengejarnya. Nabi Isa a.s. berkata, “Pecinta dunia ini seperti orang yang minum air laut; semakin banyak minum, semakin haus ia sampai akhirnya mati akibat dahaga yang tak terpuaskan.” Dan Rasulullah saw. bersabda, “Kau tak bisa bergelut dengan dunia tanpa terkotori olehnya, sebagaimana kau tak bisa menyelam tanpa menjadi basah.”
Dunia ini seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya, menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi. Sebaliknya, tamu yang tolol mencoba membawa beberapa piring emas dan perak hanya untuk direnggut kembali dari tangannya sehingga ia akhinya dicampakkan dalam keadaan hina dan malu.
Gambaran tentang sifat dunia yang penuh tipu daya ini akan kita tutup dengan sebuah tamsil pendek berikut ini. Katakanlah ada sebuah kapal yang hendak berlabuh di sebuah pulau berhutan lebat. Kapten kapal berkata kepada para penumpang bahwa ia akan berlabuh selama beberapa jam, dan mereka boleh berjalan-jalan di pantai, tetapi jangan terlalu lama. Akhirnya, para penumpang turun dan berjalan ke berbagai arah.
Kelompok penumpang yang bijaksana akan segera kembali setelah berjalan-jalan sebentar dan mendapati kapal itu kosong sehingga mereka dapat memilih tempat yang paling nyaman. Ada pula para penumpang yang berjalan-jalan lebih lama di pulau itu, mengagumi dedaunan, pepohonan, dan mendengarkan nyanyian burung. Saat kembali ke kapal, ternyata tempat yang paling nyaman telah terisi sehingga mereka terpaksa diam di tempat yang kurang nyaman.
Kelompok penumpang lainnya berjalan-jalan lebih lauh dan lebih lama; mereka menemukan bebatuan berwarna yang sangat indah, lalu membawanya ke kapal. Namun, mereka terpaksa mendekam di bagian paling bawah kapal itu. Batu-batu yang mereka bawa, yang kini keindahannya telah sirna, justru semakin membuat mereka merasa tidak nyaman.
Kelompok penumpang lain berjalan begitu jauh sehingga suara kapten, yang menyeru mereka untuk kembali, tak lagi terdengar. Akhirnya, kapal itu terpaksa berlayar tanpa mereka. Mereka terlunta-lunta di pulau itu tanpa harapan dan akhirnya mati kelaparan, atau menjadi mangsa binatang buas.
Kelompok pertama adalah orang beriman yang sepenuhnya menjauhkan diri dari dunia, dan kelompok terakhir adalah orang kafir yang hanya mengurusi dunia dan sama sekali tidak memedulikan kehidupan akhirat. Dua kelompok lainnya adalah orang beriman, tetapi masih disibukkan oleh dunia yang sesungguhnya tidak berharga.
Meskipun kita telah banyak bicara tentang bahaya dunia, mesti diingat bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tak layak dicela, seperti ilmu dan amal baik. Ilmu dan amal baik yang dibawa seseorang ke akhirat akan memengaruhi nasib dan keadaannya di sana. Terlebih lagi amal yang dibawa adalah amal ibadah yang membuatnya selalu mengingat dan mencintai Allah.
Semua itu, sebagaimana ungkapan Alquran, termasuk “segala yang baik akan abadi”. 
Juga ada beberapa hal baik lainnya di dunia ini, seperti perkawinan, makanan, pakaian, dan lain-lain, yang dipergunakan secara bijak oleh kaum beriman sebagai sarana untuk mencapai dunia yang akan datang. Selain semua hal tersebut, terutama yang memikat pikiran dan memaksa manusia untuk bersetia kepadanya dan mengabaikan akhirat, sungguh merupakan kejahatan yang layak dikutuk, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Dunia ini terkutuk dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya juga terkutuk, kecuali zikir kepada Allah dan segala sesuatu yang mendukungnya.”
---Imam Al-Ghazali, kitab Kimiya As-Sa'adah---