Rabu, 01 Juni 2016

MENGHIDUPKAN KALBU MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Wahai kalian yang kalbunya mati, kalian harus senantiasa mengingat Tuhan kalian, membaca Kitab-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan menghadiri majelis-majelis zikir. Dengan demikian kalbu kalian akan hidup kembali, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan yang menyegarkan.
Dzikir yang terus-menerus adalah penyebab kebaikan yang terus-menerus di dunia ini dan di akhirat nanti. Apabila kalbu seseorang sehat, maka zikir akan menjadi hal yang terus-menerus terjadi di dalamnya. Zikir terukir di seputarnya dan di seluruh ruangnya, sehingga matanya boleh saja tertidur, tetapi kalbunya akan selalu mengingat Tuhannya. Dia mewarisi ini dari Nabinya Saw., yang biasa mengingat Allah di setiap saat.
Hamba-hamba Tuhan secara normal akan tidur hanya jika kantuk menguasai mereka secara tak tertahankan lagi, meskipun ada sebagian orang di antara mereka yang dengan sengaja tidur satu jam di malam hari, sebagai cara untuk membantu diri mereka agar bisa bangun sepenuhnya sepanjang sisa malamnya. Dengan memberikan sedikit kelonggaran ini kepada kepada kebutuhan diri rendahnya (nafs), mereka akan menenangkannya dan mencegahnya dari mendatangkan kesulitan serius kepada mereka.
Alkisah, diceritakan bagaiman seorang yang saleh—semoga Allah Yang Mahatinggi melimpahkan rahmat-Nya kepadanya—sedang memegang seuntai tasbih dan menggunakannya untuk menghitung puji-pujiannya kepada Tuhan, sampai suatu saat dia tertidur. Kemudian dia terbangun dan melihat bahwa biji-biji tasbihnya masih berputar di tangnnya, sementara lidahnya masih mengucapkan zikir kepada Tuhannya.
Seorang saleh yang lain lagi biasa memaksa dirinya untuk tidur di sebagian malam, dan akan mendapati dirinya siap untuk itu tanpa betul-betul membutuhkan istirahat. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Kalbuku melihat Tuhanku.” Dia mengatakan kebenaran dalam apa yang dikatakannya, sebab mimpi yang benar (manâm shâdiq) adalah wahyu dari Allah. Apa yang dia sukai ada di dalam tidurnya.
Apabila seseorang dekat kepada Allah, maka malaikat-malaikat-Nya akan diberi tugas mengawasinya setiap saat. Jika dia tidur, mereka akan duduk di arah kepalanya dan di arah kakinya; mereka menjaganya baik di depannya maupun di belakangnya. Setan mungkin akan mencoba menggodanya, tetapi dia tidak akan merasakan kedekatannya, sebab dia tidur dalam penjagaan Allah, dan dalam penjagaan-Nya dia akhirnya akan terjaga kembali. Apakah dia bergerak ataukah diam, dia selalu dalam penjagaan Allah Yaang Mahatinggi.
Ya Allah, jagalah kami dari semua keadaan, dan :Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat juga, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS 2:201)."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khawathir—




Puasa Ramadhan Ala Al-Ghazali dan Al-Qusyairi


 Tahukah anda bahwa puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat istimewa? Bukan saja karena Allah langsung yang menilai dan membalasnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits qudsi. Tetapi juga karena perintah puasa dalam Al-Quran adalah satu-satunya ayat perintah ibadah yang ditutup dengan kata la’allakum tattaqun, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.
Puasa Ramadhan adalah jalan pintas untuk mendongkrak kualitas ketaqwaan seorang muslim. Secara umum ia mempunyai tiga tingkatan : biasa, khusus (khas) dan sangat khusus (khashul khawash).
Puasa biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu. Adapun puasa khusus, adalah menahan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan puasa sangat khusus, adalah puasa hati. Maksudnya, menjaga hati dari lalai mengingat Allah SWT.
Puasa biasa adalah puasanya orang awam, atau muslim kebanyakan, yang ukurannya adalah fiqih. Jika telah syarat dan rukunnya telah ditetapi, puasa itu pun sah. Ini juga tidak salah. Karena memang standar keabsahan puasa yang digunakan ulama fiqih diukur dengan kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi.
Sebagaimana disebutkan dalam kisah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ketika menerima surat dari langit. Dalam surat itu tertulis, “Sesungguhnya nafsu dan syahwat diciptakan hanya bagi hamba Allah yang lemah, agar bisa tertolong dalam melaksanakan ketaatan. Sedangkan hamba Allah yang kuat tidak sepatutnya lagi memiliki syahwat.”
Sedangkan puasa khusus apalagi khasul khawas yang lazim dilakoni orang-orang shalih, auliya dan para nabi tidak cukup hanya dengan memenuhi ketentuan fiqih. Puasa peringkat kedua mempertimbangkan faktor akhlak dan perilaku. Sedangkan pada peringkat ketiga ditambah dengan keistiqamahan mengontrol hati dan pikiran.
Orang-orang dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal-hal yang mubah. Mereka juga merasa bersalah jika membuang energinya selama puasa untuk memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi.
Berpuasa secara khusus, berarti melakoni beberapa fase latihan batiniah yang sangat penting bagi orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sekaligus. Fase-fase tersebut dalam kajian tasawuf lazim disebut maqam atau maqamat.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah membagi maqamat tasawuf ke dalam 45 bagian. Beberapa maqamat Al-Qusyairi yang terkandung dalam ibadah puasa antara lain mengosongkan perut, meninggalkan syahwat, mujahadah, sabar, syukur, ikhlas, jujur, istiqamah dan taqwa.
Panah Beracun
Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, berpuasa khusus, harus menetapi enam persyaratan :
Pertama, tidak melihat segala yang dibenci Allah SWT atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Pandangan adalah salah satu panah beracun milik setan yang terkutuk. Barangsiapa menjaga pandangannya, karena takut kepada-Nya semata, niscaya Allah ta’ala akan memberinya keimanan yang manis yang diperolehnya dari dalam hati.” (HR. Al Hakim)
Jabir meriwayatkan dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima hal yang membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengumpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”
Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, umpatan, fitnah, perkataan keji serta kasar, dan kata-kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi). Dan menggantinya dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an. Inilah puasa lisan.
Said Sufyan berkata, “Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, ‘Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong’.”
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antara kalian sedang berpuasa, jangan berkata keji. Jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa!’.” (HR Bukhari Muslim).
Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela. Karena segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Dalam hukum Allah, mendengar yang haram sama dengan memakan yang haram. Firman Allah, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tidak halal.” QS Al-Maidah (5: 42).
Karena itu orang yang ingin puasanya bernilai khusus, sebaiknya berdiam diri dan mengjauhkan diri dari pengumpat. Allah berfirman, “Jika engkau tetap duduk bersama mereka, sungguh engkaupun seperti mereka …” QS An-Nisa’ (4: 140). Ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (HR At-Tirmidzi).
Keempat, menjaga kesucian setiap anggota badan dari yang syubhat, apalagi yang haram. Perut, misalnya, harus dijaga dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat). Puasa tidak berguna bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal, tapi berbuka dengan makanan haram.
Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga!” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Kelima, menghindari makan berlebihan. Tidak ada kantung yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang dijejali makanan halal. Di antara manfaat puasa adalh untuk mengalahkan syetan dan mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana itu akan tercapai, bila saat berbuka perut dijejali secara berlebihan.
Hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang dipergunakan setan untuk mengajak umat manusia ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa.
Harap-harap Cemas
Barangsiapa telah “meletakkan” kantung makanan di antara hati dan dadanya, lanjut Imam Ghazali, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meski perut kosong, belum tentu hijab yang terbentang antara dirinya dengan Allah akan terangkat, kecuali jika telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allahc semata.
Keenam, menuju kepada Allah SWT dengan rasa takut dan pengharapan. Setelah berbuka puasa, seyogyanya hati terayun-ayun antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Karena tidak ada seorang yang mengetahui, apakah puasanya diterima ataukah tidak. Tidak hanya puasa, pemikiran tersebut seharusnya juga selalu ada setiap kali selesai melaksanakan suatu ibadah.
Suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak.
Imam Hasan al-Bashri yang melihat hal itu lalu berkata, “Allah SWT telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana hamba-hamba-Nya berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah.
Sungguh menakjubkan aku mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan. Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya.”
Saat itu manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya kesempatan bergelak tawa.
Dari al-Ahnaf bin Qais, suatu ketika seseorang berkata kepadanya, “Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu.” Al-Ahnaf pun menjawab, “Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah SWT, tentu lebih mudah daripada menanggung siksa Nya.”


Selasa, 31 Mei 2016

JANGAN PERNAH MENANTANG ALLAH



Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Betapa hebatnya engkau, jika kau berani marah kepada Allah dan berburuk sangka kepada-Nya, berani menantang-Nya, menganggap-Nya telah lambat dalam memberikan rezeki, kekayaan, menghilangkan kesulitan dan musibah. Berani-beraninya, kau beranggapan seperti itu?!

Apakah engkau tidak tahu bahwa setiap masa itu telah ditentukan dalam buku catatan-Nya? Apakah engkau tidak tahu bahwa setiap bertambahnya ujian dan kesulitan, maka akan semakin tinggi pula tujuanmu dan kemungkinan tercapainya. Ketentuan ini tidak dapat didahulukan atau diakhirkan. Waktu tibanya kesengsaraan tidak dapat dibalik menjadi kesenangan.Keadaan fakir tidak dapat diubah menjadi kaya. Semuanya tidak ditentukan oleh dirimu, tapi hanya Dialah yang Maha Berkuasa.
Maka, berbaikilah tata krama dan adabmu di hadapan-Nya. Bersikaplah diam, ridha, dan muwafaqah (menyesuaikan diri) kepada Allah SWT. Bertobatlah kepada-Nya atas sikap marahmu kepada-Nya dan atas prasangka burukmu terhadap takdir-Nya.
Allah SWT adalah Dzat Yang Tunggal, Esa, dan Maha Bersendirian sejak zaman azali, Dia Maha Ada sebelum segala sesuatu ada. Dialah yang menciptakan segala sesuatu, dan menciptakan semua manfaat dan madharat. Dia Yang Mahatahu tentang permulaan perwujudan, penghilangan, penghancuran dan akhir dari segala sesuatu. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam takdir-Nya dan Mahayaqin dalam semua ciptaan-Nya. Tidak ada penentangan dalam ketentuan-Nya.
Dia tidak menciptakan sesuatu yang tidak ada gunanya, atau tak ada artinya dan juga tidak main-main dalam ketentuan-Nya. Tidak diperbolehkan adanya hal-hal yang bertentangan dan celaan terhadap semua ketentuan-Nya. Maka, tunggulah masa yang lapang, jika engkau tidak mampu untuk muwafaqah (menyesuaikan diri) dengan takdir-Nya, tidak mampu untuk ridha dan tidak merasa cukup atas ketentuan-Nya, hingga datangnya masa yang telah ditentukan Allah. Waktu malam telah habis dan berubah menjadi siang. Jika engkau mencari cahaya siang dan cahaya malam di antara waktu Magrib dan Isya, maka pasti tidak akan diberi, karena hanya kegelapan malamlah yang bertambah. Begitu juga jika engkau menginginkan cahaya malam, saat matahari telah terbit, maka permintaanmu pasti tidak akan dikabulkan.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futhul GhuyubA

Senin, 30 Mei 2016

ENAM KEGAGALAN MENGENAL ALLAH


Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya As-Sa'adah menjelaskan tentang 6 aspek kegagalan manusia dalam mengenal Allah. Bahkan, menurutnya, meski pernyataan Al-Quran telah sangat jelas, namun masih banyak orang yang karena kebodohannya akan Allah, melanggar batas-batas tersebut.Diantara beberapa penyebab kebodohan dan kegagalan mereka adalah:

Pertama, ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan dan pemikiran, lantas menyimpulkan bahwa Allah tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada yang menyebutnya dari keabadian. Mereka bagaikan orang yang melihat tulisan indah kemudian menyatakan bahwa tulisan itu ada dengan sendirinya tanpa ditulis siapa pun, atau memang sudah ada begitu saja. Mereka yang berpola pikir seperti ini telah jauh tersesat sehingga penjelasan dan perdebatan dengan mereka takkan bermanfaat sedikit pun.
Kedua, sejumlah orang yang, karena tidak mengetahui sifat jiwa yang sebenarnya, menolak adanya akhirat, tempat manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau disiksa. Mereka anggap diri mereka sendiri tak lebih baik dari hewan atau sayuran, yang akan musnah begitu saja dan tidak akan dibangkitkan lagi.
Ketiga, ada orang yang percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat, tetapi kepercayaannya itu lemah. Mereka berkata, “Allah itu Mahabesar dan tidak bergantung kepada kita; tak penting bagi-Nya apakah kita beribadah atau tidak.” Pikiran mereka itu seperti orang sakit yang, saat dokter memberinya nasihat penyembuhan, berkata, "Yah, kuikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu."
Memang tindakannya itu tidak berdampak apa-apa pada diri si dokter, tetapi pasti akan merusak dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit jasad yang tak terobati akan membunuh jasad, penyakit jiwa yang tak tersembuhkan pun akan menyebabkan penderitaan di masa mendatang. Allah berfirman, “Orang yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
Keempat, kelompok orang kafir yang berkata, “Syariat mengajari kita untuk menahan amarah, syahwat, dan kemunafikan. Ini perintah yang musykil dilaksanakan, karena manusia diciptakan dengan sifat-sifat seperti itu. Itu sama saja dengan menuntut yang hitam agar menjadi putih.”
Orang bodoh seperti mereka sepenuhnya tidak melihat kenyataan bahwa syariat tidak mengajari kita untuk memusnahkan nafsu-nafsu ini, tetapi untuk meletakkan mereka dalam batas-batasnya.
Sehingga, dengan menghindari dosa-dosa besar, kita bisa mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lebih kecil. Bahkan, Nabi saw. bersabda, “Aku manusia sepertimu juga, dan aku marah seperti yang lain.” Dan dalam Alquran tertulis: “Allah mencintai orang yang menahan amarahnya.” (Q. 3: 134), bukan orang yang tidak punya amarah sama sekali.

Kelima, kelompok orang yang menonjol-nonjolkan kemurahan Allah seraya mengabaikan keadilan-Nya, kemudian berkata, “Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf.” Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah maha mengampuni, jutaan manusia hancur secara menyedihkan karena kelaparan dan penyakit. Sebenarnya mereka tahu bahwa siapa saja yang ingin umur panjang, kemakmuran, atau kepintaran tak boleh sekadar berkata, “Tuhan Maha Pemaaf,” tetapi mesti berusaha dengan keras. 
Meski Alquran mengatakan: “Rezeki semua makhluk hidup datang dari Allah,” di sana tertulis pula: “Manusia tidak mendapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha.” (Q. 53: 39).

Keenam, kelompok orang yang mengaku telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga mereka tak lagi dipengaruhi dosa. Namun kenyataannya, saat orang lain memperlakukan salah seorang di antara mereka secara tidak hormat, ia akan mendendam selama bertahun-tahun. Dan jika salah seorang di antara mereka tidak mendapat sebutir makanan yang menurutnya telah menjadi haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya.
Bahkan, jika ada di antara mereka benar-benar bisa menaklukkan nafsunya, mereka tak punya hak untuk membuat pengakuan semacam itu, mengingat para nabi – manusia paling mulia – pun selalu meratap mengakui dosa-dosa mereka. Sebagian kelompok ini bahkan begitu sombong sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari hal-hal yang halal.

==-Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya As-Sa'adah==

MENGENALI HAKIKAT DIRI



“Wahai Saudaraku yang mulia!
Apa sebenarnya yang membuatmu tidak mengesakan Allah SWT dengan tauhid hakiki (tauhid al-haqiqi), yang merupakan benteng Allah yang hakiki? 
Padahal, Dia menciptakan tubuhmu dalam bentuk yang terbaik (ahsan taqwîm), dan menciptakan (jiwa) engkau dalam shûrah (rupa lahiriah) yang indah. Engkau adalah al-ashl (sumber), dan engkau adalah keseluruhan (al-kull). Di dalam dirimu terdapat segalanya, dan darimu segalanya terwujud.

Takutlah engkau dari melupakan dzatmu! Karena, tidak ada sesuatu pun yang mencakup Al-Haqq, kecuali engkau, dan tiada sesuatu pun yang mampu memikul amanat selain dirimu. Dia benar-benar telah berfirman kepadamu, “Bumi-Ku dan langit-Ku tidak mampu meliputi (diri)-Ku, dan yang mencakupnya adalah hati hamba-Ku yang beriman.” (Hadis Qudsi)
Dia (Allah) SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya engggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”(QS al-Ahzâb [33]: 72)
Apabila engkau tidak mengetahui kapasitas diri-mu, maka engkau telah berbuat zalim terhadapnya. Maka, engkau telah merendahkannya di bawah kedudukan yang semestinya bagimu. Sebab, kedudukanmu itu agung, dan martabatmu itu mulia. Ia adalah dzat (esensi) bagi sifat-sifat.”
--Mukaddimah Kitab Jauharul-Haqa’iq karya Syekh Syamsuddin As-Sumatrani (w.1630)
TENTANG SYAMSUDDIN AS-SUMATRANI
Syekh Syamsuddin As-Sumatrani adalah ulama Nusantara yang sangat dihormati di zamannya. Beliau sangat dikagumi oleh Ar-Ranini. Beliau pernah berguru pada Syekh Hamzah Fansuri. Ada juga pendapat menyebut bahwa dirinya pernah belajar daripada Sunan Bonang. Sungguh, di zamannya, karya-karya tasawuf telah menjadi pembahasan ulama-ulama Nusantara. Mereka menguasai khazanah pemikiran Islam, filsafat, tasawuf/tarekat dari sumbernya original. Dari karyanya, kita bisa mengenalan kedalaman ilmu dan makrifatnya.

Sayangnya, gairah ilmu dan tasawuf di zamannya terputus dari akarnya, apalagi setelah kedatangan penjajah di Tanah Nusantara. Akhirnya, kesalahan penafsiran, penyelewengan makna dan sejarah telah mempengaruhi intelektual Muslim. Pemikiran orientalis telah merusak sendi-sendi intelektual leluhur kita. Mereka salah kaprah dan memprovokasi umat dengan menganggap ajaran tasawufnya sesat, padahal justru karena kerendahan ilmu mereka sendiri dalam menilai.
Akhirnya, khazanah Islam ini tetap terpendam di ruang-ruang perpustakaan Belanda, Inggris, Prancis dan lainnya, karena miskinnya minat umat Islam terhadap sejarah nenek moyangnya sendiri yang begitu hebat.
Generasi kita mengenal ajaran Wihdatul Wujud dalam perspektif Barat yang rancuh dan salah. Kita pun akhirnya menghidari karya-karya penting para ulama terdahulu. Sungguh amat disayangkan.

BELAJAR MAKRIFATULLAH DARI IMAM AL-QUSYAIRI

Imam Al-Qusyairi menjelaskan:
Abu Bakar al-Syibli pernah berkata demikian, “Allah adalah Dzat Yang Esa yang telah dikenal sebelum ada batasan dan huruf. Maha Suci Allah yang tidak ada batasan bagi-Nya dan tidak ada huruf bagi kalam-Nya.”
Imam Ruwaim bin Ahmad pernah ditanya tentang kewajiban pertama yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya. Beliau menjawab, “Ma’rifat.” Hal itu didasarkan pada firman Allah: 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: 56)
"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Ibnu Abbas menafsirkan frasa “illa Liya’ buduun” (kecuali untuk menyembah-Ku) dengan “Illa Liya’rifun” (artinya, kecuali untuk berma’rifat).
Imam al-Junaid berkata, “Sesungguhnya, kalam hikmah pertama yang dibutuhkan seorang hamba adalah, ciptaan mengetahui siapa Penciptanya dan makhluk yang tercipta bagaimana proses penciptaannya. Kemudian mengetahui sifat Pencipta dan sifat ciptaan-Nya. Sifat yang membedakan Dzat Yang Tak Bermula dari sifat makhluk yang memiliki permulaan. Menurut pada seruan-Nya dan mengakui kewajiban taat kepada-Nya. Orang yang tidak mengenal rajanya, tidak akan mengakui kerajaan itu harusnya dimiliki siapa.”
Abu Thayib al-Maraghi berkata, “Akal memiliki petunjuk, hikmah memiliki kekuatan isyarat, dan ma’rifat memiliki kesaksian. Akal menunjukkan (dengan kekuatan logika), hikmah memberikan isyarat (halus), sedangkan ma’rifat memberikan kesaksian bahwa kemurnian ibadah tidak dapat diperoleh kecuali dengan kejernihan tauhid.
Imam al-Junaid ditanya tentang tauhid. Beliau mengatakan, tauhid berarti meyakini keesaan Dzat Yang Diesakan dengan berusaha mewujudkan keyakinan tauhid yang benar dengan kesempurnaan keesaan-Nya. Bahwa sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Pengesaan-Nya juga dengan cara meniadakan segala sesuatu yang berlawanan, menyamai dan menyerupai. Tanpa tasybih (penyerupaan), tanpa bertanya bagaimana, tanpa penggambaran, tanpa permisalan. Tak satu pun di semesta alam ini yang menyamai-Nya. Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Melihat.
Pendapat itu tak beda jauh dengan hasil renungan Abu Bakar al-Zahir Ubadi. Menurutnya, ma’rifat adalah nama. Artinya adalah adanya rasa pengagungan terhadap Tuhan dalam hati yang dapat mencegahmu bersikap ta’thil (mengingkari sifat-sifat Tuhan) dan tasybih (menggambarkan Tuhan sama dengan makhluk).
—Risalah Al-Qusyariyah, Imam Al-Qusyairi An-Naisaburi

TRANSAKSI DENGAN ALLAH SETIAP HARI


Syekh Ibnu Athaillah menuturkan, "Ketika matahari menyingsing, pastikanlah kau telah bertransaksi dengan Allah. Bersedekahlah setiap hari meski dengan seperempat dirham agar kau tercatat dalam golongan kaum yang gemar sedekah. Bacalah Al-Quran setiap hari meskipun satu ayat agar kau tercatat dalam golongan kaum yang rajin membaca. Shalatlah meski dua rakaat agar kau tercatat dalam golongan yang menunaikan shalat malam. Jangan katakan, 'Kalau hanya memiliki makanan untuk satu atau dua hari, bagaimana bisa bersedekah?' Allah berfirman, 'Hendaklah orang yang memiliki kelapangan mengeluarkan harta sesuai kemampuannya dan orang yang disempitkan rezekinya mengeluarkan dari harta yang Allah berikan.' (QS At-Thalaq 65: 7). Perumpamaan orang miskin yang kau beri sedekah adalah seperti tunggangan yang membawa bekalmu menuju akhirat."

--Syekh Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus
Sahabatku, ketulusan kepada Allah dan komitmen kita kepada perintah-Nya baru terlihat ketika kita melakukan transaksi dengan Allah setiap hari melalui sedekah, bacaan Al-Quran, dan shalat dua rakaat pada waktu malam seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Athaillah.
Amal-amal tersebut menunjukkan sejauh mana penghambaan kita kepada-Nya.

Tapi, jika kita melalaikan semua itu, sementara perhatian kita tertuju pada bagaimana memuaskan syahwat dunia,berarti kau belum jujur kepada Allah dan menyimpang dari jalan yang Allah perintahkan. Bagaimana mungkin orang seperti itu akan selamat pada hari kiamat?
Jika ia tidak berbekal untuk hari tersebut maka akhir perjalanannya seperti yang telah ia gariskan sendiri. Ia laksana anai-anai yang menjatuhkan diri di atas api sementara ia mengira dengan cara itu akan selamat.
Moga bermanfaat.