Kamis, 23 Juni 2016

PESAN PRAKTIS MENJELANG 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN

Sheikh Maher - Imam Masjidil Haram - memberikan beberapa tips menjelang 10 Ramadhan terakhir.

1. Sedekahkan kepada siapa saja setiap hari minimal Rp 1.000 dalam 10 malam terakhir ini sehingga apabila Lailatul Qadr jatuh pada 10 malam terakhir maka sama dengan engkau menyedekahkan sebanyak Rp 1.000 selama 84 tahun atau Rp 1.000 x 365 hari x 84 tahun.

2. Lakukanlah salat sunnat minimal 2 rakaat tiap malam sehingga bila Lailatul Qadr jatuh pada 10 malam terakhir maka sama dengan engkau shalat 2 rakaat selama 84 tahun atau 2 rakaat x 365 hari x 84 tahun.

3. Bacalah surat Al Ikhlas minimal 3 kali setiap malam hingga apabila Lailatul Qadr jatuh pada 10 malam terakhir maka sama dengan engkau mengkhatamkan Quran selama 84 tahun.

Mari perkuat dan meningkatkan semangat dan aktivitas ibadah dalam 10 malam terakhir ini. Karena kita tidak tau apakah tahun depan kita masih akan bertemu Ramadhan atau tidak.

Silahkan sebarkan pesan ini kepada semua ummat Islam menjelang 10 Ramadhan terakhir dimana kemungkinan besar Lailatul Qadr terjadi pada salah satu malamnya.

MUJAHADAH

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Ankabut : 69).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khurdry, (Sa’id bin Malik bin Sanan al-Nashari al-Kahzrajy (10.sH – 74 H/613 -693 M), seorang sahabat Rasulullah saw. Ikut berperang duabelas kali, dan meriwayatkan 1170 hadis. Meninggal di Madinah). Bhawa ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai jihad terbaik, beliau menjawab, “Adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang pengausa yang zalim.” (Qs. Hr. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Mka air mata berlinang dari kedua mata Abu Sa’id ketika mendengar hal ini.
Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata : “Barangsiapa menghiasai lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah. Siapa yang permulaannya tidak memiliki mujahadah dalam tharikat ini, ia tidak akan menemui cahaya yang mencar darinya.”
Abu Utsman al-Maghriby mengatakan : “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dirinya akan mencapai sesuatu di jalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya, tanpa bermujahadah.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. menegaskan : “Orang yang tidak berdiri dengan mantap di awal perjalanan spiritualnya tidak akan diizinkan beristirahat pada akhir perjalanannya.” Dikatakannnya pula, “Gerak adalah suatu berkat.” Dan katanya kemudian, “Gerakan-gerakan dzahir akan melahirkan barakah-barakah batin.”
As- Sary berkata : “Wahai kaum muda, tekunlah kalian, sebelum kamu sekalian menginjak usia seperti diriku, sehingga kalian lemah dan lengah seperti diriku.” Padahal pada saat itu tidak seorang pun di antara para pemuda yang mampu menyejajari langkah as-Sary dalam bidang ibadat.
Saya mendengar al-Hasan al-Qazzaz berkata : “Jangan makan kecuali amat lapar, jangan tidur kecuali amat kantuk, jangan bicara kecuali dalam keadaan darurat.”
Ibrahim bin Adham mengatakan : “Seseorang akan baru mencapai derajat kesalehan, sesudah melakukan enam hal : (1) Menutup pintu bersenang-senang dan membuka pintu penderitaan; (2) Menutup pintu keangkuhan dan membuka pintu kerendahan hati; (3) Menutup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan; (4) Menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga; (5) Menutup pintu kemewahan dan membuka pintu kemiskinan; (6). Menutup pintu harapan duniawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian.”
Abu Amr bin Nujayd berkata : “Barangsiapa menghargai hawa nafsunya berarti meremehkan agamanya dan pendengarannya.”
Abu Ali ar-Rudzbary mengatakan : “Apabila seorang Sufi – sesudah lima hari kelaparan – berkata : “Aku lapar.” Kirimlah ia ke pasar untuk mencari nafkah. Prinsip mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebaisaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjag waktu.”
Jiwa; mempunyai dua sifat yang menghalangi dalam mencapai kebaikan; keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada tindak kepatuhan. Manakala jiwa menunggang nafsu, maka Anda harus mengendalikannya dengan kendali takwa. Manakala jiwa bersikukuh menolak untuk selaras dengan kehendak Tuhan, maka Anda harus mengendalikannya agar menolak hawa nafsunya. Manakala Jiwa bangkit memberontak, maka Anda harus mengendalikan keadaan ini. Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama selain sesuatu yang muncul menggantikan kemarahan yang kekuatannya telah dihancurkan dan yang nyalanya telah ddipadamkan oleh akhlak mulia. Manakala jiwa menemukan kemanisan dalam  anggur kecongkakan, niscaya ia akan merana bila tidak sanggup menunjukkan kemampuannya dan menghiasai perbuatan-perbuatannya kepada siapapun yang melihatnya. Orang harus memutuskannya dari kecenderungan seperti ini dan menyerahkannya pada hukuman kehinaan yang akan datang tatkala diingatkan akan hargadirinya yang rendah, asal-usulnya yang hina dan amal-amalnya yang emnijikan. Perjuangan kaum awam berupa pelaksanaan tindakan-tindakan; tujuan kaum khawash adalah menyucikan keadaan spiritual mereka. Bertahan dalam lapar dan jaga, adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan semua hal negatif yang melekat padanya, sangatlah sulit.
Satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit dilihat adalah ketergantungannya pada pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan mental seperti ini adalah apabila pujian orang tidak diberikan kepadanya, niscaya ia menjadi pasif dan pengecut.
Dikabarkan bahwa Abu Muhammad al-Murta’isy berkata : “Aku berangkat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa segenap upayaku terkotori oleh kegembiraanku dalam melakukannya. Hal ini kusadari saat ibu memintaku menarikan sguci air untuknya. Jiwaku merasakan hal ini sebagai beban yang berat. Saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah swt. dalam hajiku selama ini tidak lain hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas kewajibanku sebagai suatu yang memberatkan dalam hukum syaritat.”
Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya mengenai keadaan ruhaninya. Ia menjawab : “Semasa Muda, aku berpikir bahwa keadaan-keadaan ruhani itu berasal dari kekuatan dan semangat yang tak kujumpai saat ini, ketika sudah tua, semua itu sirna sudah.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata : “Penghormatan yang Allah berkenan memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah menunjukkan kehinaan dirinya, penghinaan yang Allah berkenan menimpakannya kepada seorang hamba, maka Allah menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan akan kehinaan itu sendiri.”
Ibrahim bin Khawwas menegaskan : “Aku tidak menghadapi seluruh ketakutanku, kecuali secara langsung menghadapinya dengan menungganginya.”
Muhammad bin Fadhl mengatakan : “Istirahat total adalah kebebasan dari keinginan hawa nafsu.”
Saya mendengar Abu Ali ar.Rudzbary berkata : “Bahaya yang menimpa manusia datang dari tiga hal : Kelemahan watak, keterpakuan pada kebiasaan, dan mempertahankan teman yang merusak.” Saya bertanya kepadanya, “Apakah kelemahan watak itu?” Ia menjawab. “Mengkonsumsi hal-hal-yang haram.” Lalu saya tanyakan : “Apakah keterpakuan pada kebiasaan itu?” Ia berkata : “Memandang dan mendengarkan segala sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam firnah.” Saya bertanya : “Apakah mempertahankan teman yang  merusak itu? Dijawabnya : “Itu terjadi ketika Anda menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri Anda mengikutinya.”
An-Nashr Abadzy mengatakan : “Penjara adalah jiwa Anda. Apabila Anda melepaskan diri darinya, niscaya akan sampai pada kedamaian.” Ia juga berkata : “Aku mendengar Muhammad al-Farra’ berkisah bahwa Abul Husain al-Warraq mengatakan : “Ketika kami memulai menempuh jalan-Nya lewat Tasawuf di Masjid Abu Utsman al-Hiry, praktek terbaik yang kami lakukan adalah bahwa kami mempriorotaskan kemudahan bagi orang lain; kami tidak pernah tidur dengan menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan; kami tidak pernah menuntut balas kepada seseorang yang menyinggung hati kami, bahkan kami selalu memaffkan tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya; dan jika kami memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu lenyap.”
Abu Ja’far berkata : “Nafsu, seluruhnya gelap gulita, peliatanya adalah batinnya. Cahaya pelita ini adalah taufiq. Orang yang tidak disertai taufik dari Tuhannya, maka kegelapan akan menyelimutinya.” Ketika mengatakan, “Pelita adalah batinnya.” Dimaksudkan adalah rahasia antara dirinya dan Allah swt. yakni tempat keikhlasannya. Dengannya si hamba tersebut mengetahui bahwa semua peristiwa adalah karya Tuhan; peristiwa-peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak pula berasal darinya. Bila mengetahui hal ini, ia akan bebas dalam setiap keadaannya, dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri dalam melestarikan manfaat waktunya. Orang yang tidak disertai taufik tidak akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tentang jiwanya atau tentang Tuhannya. Itulah sebabnya mengapa para syeikh mengatakan “Orang yang tidak mempunyai sirr akan terus bersikeras menuruti hawa nafsunya.”
Abu Utsman berkata : “Selama orang melihat setiap sesuatu baik dalam jiwanya, ia tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya. Hanya orang yang berani mendakwa dirinya terus menerus selalu berbuat salahlah yang akan sanggup melihat kesalahannya itu.
Abu Hafs mengatakan : “Tidak ada jalan yang lebih cepat ke arah kerusakan, kecuali jalan orang yang tidak mengetahui kekurangan dirinya, karena kemaksiatan kepada Tuhan adalah jalan cepat menuju kekafiran.”
Abu Sulaiman berkata : “Aku tahu bahwa tidak sedikit pun kebaikan dapat ditemukan dalam suatu perbuatan yang kulakukan sendiri, aku berharap diberi pahala karenanya.”
As-Sary berkomentar : “Waspadalah terhadap orang yang suka bertetangga dengan orang kaya, pembaca-pembaca Al-Qur’an yang sering mengunjungi pasar, dan ulama-ulama yang mendekati penguasa.”

Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Kerusakan merasuki diri manusia dikarenakan enam hal (1) Mereka memiliki niat yang lemah dalam melaksanakan amal untuk akhirat; (2) Tubuh mereka diperbudak oleh nafsu; (3) Mereka tidak henti-hentinya mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelang ajal; (4) Mereka lebih suka menyenangkan makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta; (5) Mereka memperturutkan hawa nafsunya, dan tidak menaruh perhatian yang cukup kepada Sunnah Nabi saw. (6) Mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya.

Senin, 20 Juni 2016

MAJELIS CINTA DZIKIR

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah SWT, "Tuhanku, apakah balasannya bagi orang-orang yang dzikir kepada-Mu dengan lisan dan hatinya?" Allah Swt. berfirman: "Wahai Musa, Aku akan melindunginya di Hari Kiamat dengan naungan 'Arsy, dan Aku akan menjadikannya di bawah kekuasaan-Ku."
Nabi Musa a.s. bertanya lagi, "Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang paling merugi?" Allah SWT berfirman, "Orang yang tidak mengambil manfaat dari petuah dan orang yang tidak dzikir kepada-Ku sewaktu sendirian."

Dzikir merupakan cara yang paling efektif untuk berdialog dengan Allah SWT dan membuat hamba-Nya mampu secara aktif berpartisipasi dalam komunikasi dengan Allah SWT. Tentu saja kondisi spiritual dari pikiran atau hati setiap orang akan berbeda dalam menerimanya, tergantung dari kemajuan spiritual yang dialaminya. Secara umum dzikir akan selalu melahirkan sifat al-murâqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah) sehingga akan memasukkan pelakunya ke pintu al-Ihsan. Orang-orang yang lalai tentu tidak akan sampai ke derajat al-Ihsan. Dzikir juga akan melahirkan al-inabah (dorongan jiwa ingin selalu kembali kepada Allah) sehingga hanya Allah-lah yang ditakuti, dan tempat kembali serta berlindung.
Jadi sangat na’if jika masih ada orang yang gemar membid’ahkan kegiatan dzikir. Bagaimana mereka memandang Hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Anbasah r.a. ini. Dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Di sebelah kanan Tuhan yang Maha Rahmân, begitu juga di hadapan-Nya, ada sekelompok manusia yang bukan para nabi dan bukan para syuhada. Sinar wajah mereka menyilaukan siapa saja yang melihatnya, sehingga para nabi dan para syuhada merasa iri atas kedudukan mereka dan dekatnya mereka di hadirat Allah Azza wa Jalla.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah mereka itu ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, ”Mereka adalah sekumpulan manusia dari berbagai kabillah yang berkumpul untuk melakukan dzikir kepada Allah. Mereka memelihara ucapan-ucapan yang baik seperti halnya orang yang makan kurma menjaga dan memilih hanya kurma-kurma yang baik,” (HR Thabrani).

Abdullah bin Busr r.a. mengatakan, “Sesungguhnya ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, perintah dalam syariat Islam ini banyak. Baritahukanlah kepada kami sesuatu yang dapat kami jadikan amalan dan kesibukan.” Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa membasahi lidahmu dengan dzikrullâh.”
Maka, mari nikmati hidangan hidayah Allah dengan berdzikir. Mari kita masuki taman-taman surga dengan berdzikir. Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga. Barangsiapa tidak masuk ke dalam surga itu, ia tidak akan masuk ke dalam surga Akhirat.” Ibnu Taimiyyah ditanya, “Apakah yang dimaksud dengan surga dunia itu?” Beliau menjawab, “Majelis-majelis dzikir.”
Pendapat ini didasarkan pada Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, yang bertanya kepada Rasulullah SAW. Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah ghanimah majelis-majelis dzikir?”. Rasulullah SAW menjawab, ”Ghanimah majelis dzikir adalah surga,” (HR Ahmad).
Semoga bermanfaat!


Kamis, 16 Juni 2016

NASIHAT IMAM AL-GHAZALI

Imam Al-Ghazali mengatakan:
“Ketahuilah bahwa perintah Allah ada yang wajib dan ada pula yang sunah. Perintah yang wajib merupakan harta pokok. Ia adalah modal perdagangan yang dengannya kita dapat selamat. Sedangkan perintah yang sunah merupakan laba yang dengannya kita dapat meraih derajat mulia.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: 'Tidaklah orang-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang berbicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan."
Engkau tidak akan dapat menegakkan perintah Allah, kecuali dengan senantiasa mengawasi kalbu dan anggota badanmu pada setiap waktu dan pada setiap tarikan nafasmu, dari pagi hingga sore. 
Ketahuilah bahwa Allah SWT menangkap isi kalbumu. Dia mengawasi lahir dan batin-mu. Mengetahui semua lintasan pikiranmu, langkah-langkahmu, serta diam dan gerakmu. Saat bergaul dan menyendiri, engkau sedang berada di hadapan-Nya. Tidak ada yang diam, dan tak ada yang bergerak, melainkan semuanya diketahui oleh Penguasa langit. Allah SWT berfirman: "Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyikan hati" (QS. Ghafir: 19), "Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi" (QS. Thaha: 7).

Oleh karena itu, hendaklah harus engkau beradab di hadapan Allah SWT dengan adab seorang hamba yang hina dan berdosa di hadapan-Nya. Berusahalah agar Allah tidak melihatmu sedang melakukan sesuatu yang dilarang dan tidak melaksanakan apa-apa yang diperintah. Hal itu hanya bisa terwujud jika engkau bisa membagi waktu dan mengatur wirid-wiridmu dari pagi hingga petang. Jagalah perintah Allah SWT yang diwajibkan kepadamu, sejak dari bangun tidur hingga engkau kembali ke pembaringan.”
--Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul-Hidayah--


TERAPI JIWA RAJA’ ( BERHARAP KEPADA ALLAH ) MENURUT IMAM AL-GHAZALI


Untuk membangkitkan motivasi agar diri kita selalu beristikamah dalam menjalani ibadah, tindakan raja' bisa dibuka dengan empat tindakan penting berikut ini: 
1. Selalu mengingat karunia Allah yang telah diberikan, terutama karunia yang tidak ada campur tangan dan bantuan dirinya.
2. Selalu mengingat janji Allah akan pahala yang banyak dan kasih-Nya yang besar atas amal saleh yang telah dikerjakan.
3. Terus-menerus mengingat pemberian Allah yang besar dalam urusan agama dan dunia. Semua yang sudah diperoleh adalah berkat karunia-Nya dan bukan karena dirinya merasa berhak akan hal yang demikian tersebut.
4. Selalu mengingat luasnya rahmat Allah, mendahulukan rahmat dari murka-Nya dengan terus-menerus mengingat bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakaya, Maha Pemurah, Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, "Allah Swt. telah menyediakan 100 nikmat, yang satu diturunkan ke dunia dirasakan oleh seluruh makhluk, jin, manusia, burung-burung, dan binatang besar-kecil, dan dengan nikmat yang satu ini mereka saling kasih-mengasihani, sehingga tenteram hidup mereka; dan yang 99 disimpan untuk diberikan hanya kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin nanti pada Hari Kemudian."

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata ketika Allah menurunkan ayat, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS al-A'raf 7: 156)... Setan merasa lega, katanya kami juga termasuk dalam yang sesuatu itu. Yahudi dan Nasrani juga demikian merasa lega pula. Allah berfirman, “Aku akan berikan rahmat-Ku pada orang yang takwa dan suka berzakat serta beriman kepada ayat-ayat-Ku, (QS al-A'raf 7: 156)." 
"Dengan turunnya ayat ini maka habislah harapan setan. Yahudi dan Nasrani masih juga mempunyai harapan; katanya: “Kami umat juga umat yang bertakwa dan patuh kepada Tuhan, suka memberi zakat dan beriman kepada ayat-ayat Tuhan."

Kemudian turun lagi ayat berikutnya, "Mereka adalah orang-orang yang patuh serta menurut kepada Rasul Nabi yang Ummi, yakni Muhammad Saw." (QS al-A'raf 7: 157) 
Setelah turun ayat ini habis pula harapan kaum Yahudi dan Nasrani, karena rahmat yang dijanjikan itu khusus bagi orang-orang yang Mukmin saja.Oleh karena itu kaum Mukmin wajib bersyukur atas belas kasih Allah yang telah memberi nikmat iman. “
Yahya bin Mu'adz Ar-Razi pernah berdoa dengan kalimat berikut: "Ya Allah, jika ganjaran-Mu hanya disediakan bagi orang-orang yang taat, dan rahmat-Mu hanya disediakan bagi orang-orang yang berdosa, maka saya ini termasuk orang yang berdosa, tetap mengharapkan rahmat dari-Mu, berilah aku rahmat-Mu ya Allah."
Sedangkan tanda-tanda raja', jika merujuk pada firman Allah (Al-Quran) sedemikian banyak. Di antaranya adalah tekun mengerjakan salat wajib ditambah dengan banyak mengerjakan tahajud pada malam hari; mau membelanjakan harta untuk kepentingan umum yang diridai oleh Allah; banyak berdoa kepada Allah Swt.; merasa lapang hati di kala ingat kepada Allah di tempat yang sunyi dan di kala bertemu dengan ulama; hilang kebingungan di kala duduk berkumpul dengan ahli-ahli kebajikan; dan tidak merasa berat dan payah dalam tolong-menolong berbuat kebaikan dan takwa.
---Imam Al-Ghazali dalam Minhajul-‘Abidiin


Renungan: *"Amilatun Naashibah"*

Kita sering membaca alqur'an ayat ke 3 surah Al-Ghosyiyah. Mari kita perhatikan sisi lain dari penjelasan ayat yang sangat menggugah itu.

*Allah Ta'ala berfirman*:

عاملة ناصبة

('aamilatun naashibah)

Artinya: 
"Amal-amal yang hanya melelahkan."
Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka & para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata caranya).

Astaghfirullaahal'adzim…
Sahabat Umar bin Khathab ra selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.
Suatu hari Atha' As-Salami ra, seorang Tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar.

Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan:

"Ya Atha', sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha' termenung lalu menangis.
Melihat Atha' menangis, sang penjual kain berkata :
"Atha' sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas."
Kemudian Atha' menjawab tawaran itu..

"Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Alloh dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Alloh ibadahku penuh cacat dan cela. Itulah yang menyebabkan aku menangis."

Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua.

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.
Semoga Bermanfaat.


Minggu, 12 Juni 2016

MENGENAL DAHSYATNYA DZIKIR

Syekh Ibnu Atha'illah menuturkan:

"Al-Jurairi menuturkan, “Salah seorang sahabat kami selalu mengucap Allah, Allah. Lalu pada suatu hari, kepalanya terkena batang pohon hingga pecah dan mengucurkan darah. Dari darah itu kemudian tertulis di atas tanah lafal Allah, Allah.” 
Dzikir laksana api yang bekerja secara aktif dan memberikan pengaruh. Ketika masuk ke dalam sebuah rumah, dzikir itu akan berucap, “Aku, tidak ada lagi selainku.” Itulah makna ungkapan la ilaha illa Allah. Jika di dalam rumah itu bertemu dengan kayu bakar, dzikir tersebut akan segera membakar. Jika rumah itu gelap, ia akan menjadi cahaya penerang.

Jika rumah itu memang memiliki cahaya, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.
Dzikir berfungsi menghilangkan endapan berlebih dalam tubuh yang diakibatkan oleh makan berlebihan dan mengkonsumsi barang haram. Saat endapan kotor itu terbakar sehingga hanya yang baiklah yang bertahan, barulah ia bisa mendengar senandung dzikir dari semua organ tubuhnya. Suara dzikir itu seperti tiupan terompet. Pertama-tama, ia jatuh di sekitar kepala sehingga kau akan mendengar suara seperti terompet.
Dzikir adalah penguasa, jika singgah di suatu tempat, ia akan singgah dengan membawa terompet itu. Sebab, dzikir menghadang apa saja selain al-Haq. Ketika menempati suatu tempat, ia akan sibuk melenyapkan segala sesuatu yang menjadi lawannya laksana air bertemu api. Lalu, akan terdengar berbagai macam suara seperti desir air, deru angin, golakan api, derap kuda, dan suara dedaunan tertiup angin. Sebab, struktur tubuh manusia terdiri dari unsur mulia dan hina. Unsur yang hina meliputi tanah, air, api, udara, bumi dan langit, serta segala yang berada di antara keduanya. Jadi, semua suara itu berasal dari seluruh unsur asli di atas. Ketika suara itu terdengar, berarti ia sedang bertasbih dan mensucikan Allah dengan lisannya. Itulah hasil dari dzikir lisan yang optimal."
---Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah--

BEKAL PERJALANAN SEORANG HAMBA
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai saudaraku, jika engkau berada dalam kejayaan, maka manfaatkanlah kejayaanmu itu untuk bekal amal taat kepada-Nya. Gunakanlah kejayaan itu untuk mencari jalan menuju kepada jalan-Nya. Wahai saudaraku, ingatlah bahwa harta yang engkau miliki itu dapat membakar dan menghanguskan kulitmu di akhirat nanti. Maka belanjakanlah hartamu sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan sunah Rasulmu. Agar engkau menjadi sejahtera, dunia dan akhirat.
Wahai saudaraku, cepat-cepatlah engkau menuju kepada Allah. Berlarilah kepada Allah. Gunakanlah harta yang ada di tanganmu untuk alat menuju kepada-Nya, untuk menegakkan syariat-Nya, untuk taat kepada-Nya dan untuk mencari ridha-Nya.
Seorang mukmin itu harus tahu bahwa Al-Qur’an adalah roh hidayah yang ada di alam ini, oleh karena itu, antara orang muslim dan Al-Qur’an harus ada hubungan yang erat. Sebab Al-Qur’an adalah tali Allah yang kuat dan jalan yang lurus. Al-Qur’an sebagai rahmat untuk alam semesta dan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Dalam Al-Qur’an telah terhimpun dasar-dasar kebaikan dan petunjuk untuk membangun kehidupan dan meletakkan landasan ketenteraman di muka bumi ini.
Allah Swt. berfirman:“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isrâ' [17] :9)”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani