Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Perbaikilah hubunganmu dengan Allah. Engkau harus takut terhadap hukum-hukum-Nya. Kemudian, tunaikanlah hak-hak-Nya. Jika engkau beramal atas dasar hukum-hukum Allah, berarti engkau telah beramal dengan jerih payah yang benar. Bahkan engkau termasuk ikut mendorong orang lain untuk berbuat amal yang baik.
Wahai saudaraku, orang yang beriman adalah yang mau mempelajari kewajiban yang datang dari Allah. Lalu ia beribadah kepada-Nya dan mengamalkan perintah-Nya. Mengenal Allah, lalu mencintai-Nya. Senantiasa berkhidmat kepada-Nya. Dan, ia juga benar-benar menyadari bahwa bahaya dan manfaat itu tiada lain datangnya hanya dari Allah SWT.
Hati yang tertuju kepada Allah itu lebih tenang daripada hati yang menuju kepada makhluk, sebab Allah itu satu sedang makhluk itu beraneka ragam. Dan orang yang hatinya itu tertuju pada makhluk, maka hidupnya tidak akan tentram, karena keterntraman hati itu bisa tercapai bila hanya tertuju kepada Allah semata. Perlu diketahui, bahwa berhenti pada satu pintu itu lebih baik daripada beberapa pintu yang beraneka ragam.
Maka, berhentilah pada pintu Allah. Maka hidupmu akan merasa tentram dan selalu tertuju kepada-Nya."
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Jala A-Khathir
Jumat, 01 Juni 2018
Jumat, 23 Februari 2018
KERJA, IBADAH DAN JIHAD
Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu
terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar,
“Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî
sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu
bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî
sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut
usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan
dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR
At-Tabrani).
Salahlah orang yang mengira bahwa agama hanya melulu mengurusi
halal-haram, surga-neraka, tahlil dan zikir di masjid tanpa konsep wirausaha
dan kerja keras. Agama tak hanya mengurusi jenazah, masjid, kenduri atau
kegiatan formalitas simbolik lainnya.
Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang
menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari,
tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya.
Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap
selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.
Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah
seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan
terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).
Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan
kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang mau
dicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap
Muslim. Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah
menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu
sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu
hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).
Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan
berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nya tak pernah
melarang kita menjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi
ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang
sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada
kekufuran.
Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik
daripada tangan di bawah.
Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan
dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia
meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula
ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim).
Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu:
“Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja
(pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).
Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi ini adalah
pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan.
Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa
disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria. Nabi
Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun
dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala
(peternak) dan saudagar sukses.
Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang
sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah
untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhada yang dimuliakan
Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak dan
istrinya. Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai
ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan
imbalannya.
Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi,
tetapi juga sebagai bekal ukhrawi. Karena itu, agama melarang seseorang
menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan
muamalat manusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa,
pertanian, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kesungguhan dan kerja keras
seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi
sekaligus.
Salam Perjuangan!
QANA'AH MEMBUAT HATI TENANG DAN DAMAI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Wahai saudaraku, mengertikah engkau apakah yang dimaksud dengan qana'ah?
Qana'ah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas dengan
memperbanyak bersyukur dan menghindari sifat rakus. Itulah yang disebut
qana'ah. Berhentinya keinginan terhadap ара yang sudah diberikan kepadamu, dan
tidak ada lagi keinginan untuk memintah tambahan lagi, maka itulah sikap orang
arif (ma'rifat).
Hendaknya engkau yakin bahwa qana'ah adalah sikap yang harus
dimiliki oleh setiap muslim, sebab dengan qana'ah hatimu menjadi tenang. Bahkan
sifat itu merupakan modal yang tak bisa habis dalarn kondisi ара pun.
Rasulullah Saw. bersabda: “Qana 'ah itu adalah harta yang tak
akan hilang dan simpanan yang tak akan lenyap,” (HR. At Thabarani). Syaikh Abu
Zakaria Al-Anshari berkata, "Qana'ah itu adalah merasa cukup dengan ара
yang sudah diterima dan memenuhi kepentingannya, baik berupa makanan, minuman,
pakaian atau yang lainnya. Sedangkan Abu Sulaiman Darani berkata, "Qana'ah
adalah merupakan bagian dari ridha, dan wara' adalah merupakan bagian dari
zuhud."
Ketahuilah bahwa sifat qana'ah merupakan sifat yang didambakan
oleh kaum sufi. Karena dengan sifat itu, mereka berharap bisa terhindar dari
bahaya hawa nafsunya. Di mana hawa nafsu itu selalu mengejar dan mendambakan
kesenangan duniawi. Keinginan nafsu terhadap duniawi tidak akan pernah
berhenti, bahkan membawa manusia menjadi sibuk dengan urusan duniawi yang tak
berarti. Jika manusia telah tenggelam dalam kesibukan duniawi, maka ia
cenderung lupa untuk mempersiapkan bekal buat kehidupan akhirat. Dan tentunya
lupa pula ia kepada Tuhan-Nya.
Wahai saudaraku, sifat qana'ah dapat mendidikmu untuk pandai
bersyukur. Artinya, dengan sifat qana'ah itu engkau akan senantiasa mensyukuri
kenikmatan Allah yang telah diberikan kepadamu. Jika manusia banyak bersyukur,
tentu akan memiliki gairah dalam beribadah. Nabi Saw. bersabda: “Jadilah kamu
orang yang wara' pasti kamu menjadi orang yang banyak beribadah, dan jadilah
kamu orang yang qana 'ah pasti kamu menjadi orang yang banyak bersyukur.” (HR.
Bukhari)
Abu Bakar Al-Maghribi berpendapat, "Orang yang berakal
ialah yang dapat mengatur urusan dunianya dengan sikap qana'ah dan urusan
akhirat dengan keinginan yang menggelora; urusan agamanya dengan ilmu dan
ijtihad. Sedangkan, Muhammad bin Tirmidzi mengatakan, "Qana'ah adalah jiwa
merasa lapang dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya dan menghilangkan
rasa tamak terhadap yang tidak tercapai."
Wahai saudaraku, engkau tidak dilarang mencari rezeki. Juga
tidak disuruh bermalas-malasan dan berpangku tangan. Namun ketahuilah bahwa
Allah menyuruhmu berikhtiar, bekerja, karena manusia hidup di dunia ini untuk
beribadah kepada Allah. Bekerja merupakan amal ibadah. Engkau harus yakin dalam
bekerja ada kalah dan ada menang. Kalah dalam menghadapi rayuan dan menang
dalam melawan ajakan setan. Karenanya, bekerjalah dengan tekun dan
bersungguh-sungguh. Hati-hatilah terhadap tipu daya nafsumu dan tipu daya
setanmu agar tidak terjerumus mengais rezeki haram.
Wahai saudaraku, Islam mengharapkan engkau menjadi manusia
cerdas. Mampu menggunakan akal pikiranmu. Islam tidak ingin pemeluknya bodoh.
Oleh karena itu jangan seperti orang awam yang menganggap ibadah hanyalah tepekur
di masjid, shalat dan berzikir. Mereka menganggap Islam memundurkan akal
pikiran manusia dalam bekerja. Padahal orang Islam harus cerdas dan harus
bekerja, sebab bekerja merupakan ibadah. Islam tidak menyukai orang muslim
menjadi pemalas.
Anggapan yang demikian itu salah besar, mereka menyangka bahwa
yang disebut qana'ah itu adalah menerima ара saja yang ada, sehingga mereka
tidak berusaha dan berikhtiar lagi, padahal agama menyuruh manusia agar bekerja
keras mencari keutamaan Ilahi, agar bisa bersedekah, berinfak, bisa membangun
masjid, membangun pondok-pondok pesantren, dan membangun majelis-majelis ta'lim
dan lain-lain. agar umat Islam tidak terbelakang. Ingat sejarah perjuangan Nabi
dan para sahabatnya, mereka berusaha dan bekerja mencari rezeki. Bahkan mereka
bersifat dermawan terhadap sesamanya meskipun harta yang di dapatnya cukup bagi
keluarganya saja. Wahai manusia, sesungguhnya agama menyuruh umatnya untuk
qana'ah (qana'ah hati bukan qana'ah ikhtiar/ usaha).
Wahai saudaraku, makna qana'ah itu amat luas. Qana'ah menyuruh
manusia agar benar-benar percaya terhadap 'kekuasaan' yang melebihi kekuasaan
manusia. Qana'ah menyuruh manusia untuk bersabar menerima ketentuan Allah swt.
Jika ketentuan itu tidak menyenangkan, maka Allah tetap menyuruhnya untuk menerimanya,
karena itulah cobaan dari-Nya.
Dalam keadaan demikian, manusia masih tetap disuruh untuk
berikhtiar dan berdaya upaya sekuat tenaganya. Selama nyawa dikandung badan,
engkau wajib berusaha mencari rezeki. Engkau bekerja bukan berarti minta tambahan
yang telah engkau terima, dan bukan berarti merasa tidak cukup dari ара yang
telah engkau terima, melainkan engkau bekerja sebab masih hidup. Inilah yang
dimaksudkan dengan qana'ah.
Jelaslah bagimu sekarang, bahwa orang-orang yang mengatakan
bahwa sifat qana'ah dapat melemahkan hati dan pikiran, itu salah. Qana'ah
merupakan modal yang tidak pernah hilang. Qana'ah bisa membangkitkan
kesungguhan hidup. Qana'ah tidak mengenal takut dan gentar, tidak mengenal ragu
dan bimbang.
Allah swt. berfirman: “Tiada sesuatu yang melata di bumi, melainkan di tangan
Allahlah rezekinya.” (QS Hûd (11) : 6). Rasulullah Saw. bersabda: “Kekayaan itu
bukan karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan yang sebenarnya itu adalah
kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Saw. juga bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan
rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa-apa yang diberikan Allah
kepadanya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Hakim bin Hizam ra. berkata, "Aku
memohon kepada Rasulullah. Kemudian beliau mengabulkan permohonanku
(permintaanku). Lalu aku meminta lagi, beliau juga mengabulkannya. Kemudian
beliau bersabda, "Wahai Hakim bin Hizam, harta memang indah dan manis,
maka barangsiapa mengambilnya dengan lapang dada, maka ia mendapat berkah.
Sebaliknya, barangsiapa menerimanya dengan kerakusan, maka harta itu tidak akan
memberi berkah kepadanya; bagaikan orang makan yang tak pernah merasa kenyang.
Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan yang berada di bawah".
Kemudian Hakim bin Hazim berkata: "Ya Rasulullah, demi Allah yang telah
mengutus engkau dengan haq aku tidak akan menerima apapun dari seseorang
sepeninggalmu sampai akhir hayatku."
Rasulullah SAW bersabda, “Tangan yang di atas itu lebih baik
daripada tangan yang di bawah, dahulukanlah dalam bersedekah kepada orang-orang
yang menjadi tanggunganmu, sebaik-baik sedekah itu adalah yang masih ada
kekayaan. Dan barangsiapayang sopan, maka Allah akan memelihara kesopanannya.
Dan barangsiapayang mencukupkan dengan kekayaannya yang ada maka Allah akan
mencukupkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Wahai saudaraku, Islam mendidik umatnya untuk bersifat qana'ah
dan tidak rakus, Islam menyuruh umatnya untuk maju, dengan kemajuan itu akan
bisa memberikan sesuatu kepada sesamanya, bukan meminta-minta. Sebab tiada
kekayaan yang dihasilkan tanpa disertai dengan ikhtiar atau usaha, tak menjadi
orang yang berilmu bila ia tidak menuntut ilmu.
Perhatikanlah kisah Maryam, tatkala hendak melahirkan Nabi Isa
a.s. di tengah-tengah padang pasir, dia diperintahkan oleh Allah untuk
menggapai dahan pohon kurma agar buahnya tersebut jatuh. Kalau Allah menyuruh
qana'ah dengan hanya menunggu tanpa berusaha tentunya Siti Maryam selamanya
akan merasa haus dan lapar.
Allah swt.berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila
kalian disuruh untuk menunaikan pada hari Jum'at, maka segeralah kamu untuk
mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah menunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu semua di atas bumi, dan carilah anugerah Allah
sebanyak-banyaknya agar supaya kamu semua beruntung.” (QS. Al Jumu'ah (62) :
9-10).
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya Allah menyuruhmu untuk
mencari harta sebanyak-banyaknya, dengan syarat harus dilakukan setelah shalat.
Carilah kehidupan kembali sambil mengingat Allah sebanyak-banyaknya dalam
melakukan segala pekerjaan agar kamu mendapatkan keberuntungan di dunia dan
akhirat.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
PESAN HIKMAH SYEKH ABDUL QADIR JAILANI
Syekh Abdul Qadir Jailani bercerita:
"Suatu ketika seorang laki-laki membeli seorang budak, dan budak itu
kebetulan adalah salah seorang yang taat beragama dan saleh.
“Wahai budak,” kata laki-laki itu kepadanya, “Kamu ingin makan apa?”
“Apa pun yang Tuan berikan kepada saya maka akan saya makan.”
“Pakaian macam apa yang ingin kamu pakai?”
“Apa pun yang Tuan berikan kepada saya untuk saya pakai.”
“Di mana kamu ingin tinggal di dalam rumahku?”
“Di tempat mana pun Tuan menempatkan saya.”
“Pekerjaan apa yang kamu suka kerjakan?”
“Apa pun yang Tuan perintahkan kepada saya untuk saya kerjakan.”
Laki-laki itu menangis dan berkata: “Alangkah besar berkah yang
akan kuterima, seandainya aku bisa bersikap di sisi Tuhanku sebagaimana sikapmu
terhadapku!”
“Wahai Tuanku,” kata si budak, “Apakah seorang hamba, di sisi
tuannya, memiliki kehendak atau pilihan sendiri?”
Kemudian laki-laki itu berkata kepadanya: “Engkau adalah orang
merdeka demi Allah, dan aku ingin agar engkau tinggal bersamaku, agar aku bisa
melayanimu dengan diriku (nafs) dan hartaku.”
Siapa pun yang benar-benar mengenal Allah tidaklah memiliki
kehendak atau pun pilihan sendiri, dan dia akan mengatakan: “Apa peduliku
terhadap diriku sendiri?” Engkau tidak boleh menantang takdir (qadar) mengenai
urusan-urusanmu ataupun urusan-urusan orang lain.
Dengarkanlah kata-kataku, wahai para pemprotes, wahai
orang-orang yang berkeberatan, wahai orang-orang yang berperilaku buruk!
Berilah perhatian kepadaku, sebab aku berbicara sebagai salah seorang agen
pengiklan umat para nabi (munâdî ummat al-anbiyâ’), sebagai salah seorang
pengikut mereka dan sebagai salah seorang calo mereka. Aku mendasarkan
penilaianku pada Al-Kitab dan Sunnah. Maka, tak seorang pun yang kalbunya telah
didekatkan kepada Allah akan merasa takut terhadap apa yang kukatakan.
Di antara hamba-hamba Allah ada sedikit individu yang
menghindari berteman dengan makhluk dan menemukan persahabatan yang akrab di
tempat-tempat menyepi (khalawât).
Mereka menikmati keakraban seperti itu dalam membaca Alquran dan
membaca sabda-sabda Rasul Saw. maka mereka lalu memiliki kalbu yang sangat
akrab dengan makhluk dan dekat dengan mereka, dan yang dengannya mereka melihat
diri rendah mereka sendiri (nufûs) dan diri-diri rendah orang lain.
Kalbu mereka sehat, sehingga tak sesuatu pun yang engkau kejar
tersembunyi dari mereka. Mereka bisa berbicara tentang apa yang kalian pikirkan
dan kalian rasakan, dan mereka bisa mengatakan kepada kalian mengenai situasi
di rumah-rumah kalian.
Celakalah kalian! Gunakanlah akal sehat kalian! Janganlah kalian
bersaing dengan manusia-manusia (pilihan Tuhan) dalam kejahilan kalian. Setelah
kalian selesai dari (mengkaji) Al-Kitab, kalian akan bangun dan berbicara
kepada orang banyak.
Setelah hitamnya tinta mengenai pakaian dan badan kalian, dan
setelah merenung dengan cermat, kalian akan berbicara kepada orang banyak. Ini
adalah maslaah yang menuntut kemampuan lahir dan kemampuan batin, kemudian
kebebasan dari semua keterikatan.
Wahai kalian yang begitu lalai akan apa yang dituntut dari
kalian, ingatlah akan Kiamat Khusus (al-qiyâmat al-khâshshah) dan Kiamat Umum
(al-qiyâmat al-ʽâmmah).
Kiamat Khusus adalah kematian masing-masing kalian sebagai
individu, sedangkan Kiamat Umum adalah kiamat yang telah dijanjikan Allah
kepada semua makhluk-Nya. Kalian harus ingat dan merenungkan firman Allah:
"Pada hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada
(Tuhan)Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat; dan Kami akan menggiring
orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga (QS
19:85-86)."
---Syekh Abdul Qadir l-Jailani dalam Jala Al-Khawathir
Jumat, 02 Februari 2018
MARI MENGHIDUPKAN KALBU
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan:
"Wahai kalian yang kalbunya mati, kalian harus senantiasa mengingat Tuhan kalian, membaca Kitab-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan menghadiri majelis-majelis dzikir. Dengan demikian kalbu kalian akan hidup kembali, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan yang menyegarkan.
"Wahai kalian yang kalbunya mati, kalian harus senantiasa mengingat Tuhan kalian, membaca Kitab-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan menghadiri majelis-majelis dzikir. Dengan demikian kalbu kalian akan hidup kembali, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan yang menyegarkan.
Dzikir yang terus-menerus adalah penyebab kebaikan yang
terus-menerus di dunia ini dan di akhirat nanti.
Apabila kalbu seseorang sehat, maka zikir akan menjadi hal yang terus-menerus
terjadi di dalamnya. Dzikir terukir di seputarnya dan di seluruh ruangnya,
sehingga matanya boleh saja tertidur, tetapi kalbunya akan selalu mengingat
Tuhannya. Dia mewarisi ini dari Nabinya Saw., yang biasa mengingat Allah di
setiap saat.
Hamba-hamba Tuhan secara normal
akan tidur hanya jika kantuk menguasai mereka secara tak tertahankan lagi,
meskipun ada sebagian orang di antara mereka yang dengan sengaja tidur satu jam
di malam hari, sebagai cara untuk membantu diri mereka agar bisa bangun
sepenuhnya sepanjang sisa malamnya. Dengan memberikan sedikit kelonggaran ini
kepada kepada kebutuhan diri rendahnya (nafs), mereka akan menenangkannya dan
mencegahnya dari mendatangkan kesulitan serius kepada mereka.
Alkisah, diceritakan
bagaiman seorang yang saleh—semoga Allah Yang Mahatinggi melimpahkan rahmat-Nya
kepadanya—sedang memegang seuntai tasbih dan menggunakannya untuk menghitung
puji-pujiannya kepada Tuhan, sampai suatu saat dia tertidur.
Kemudian dia
terbangun dan melihat bahwa biji-biji tasbihnya masih berputar di tangnnya,
sementara lidahnya masih mengucapkan dzikir kepada Tuhannya.
Seorang saleh yang lain lagi biasa memaksa dirinya untuk tidur di sebagian malam, dan akan mendapati dirinya siap untuk itu tanpa betul-betul membutuhkan istirahat. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Kalbuku melihat Tuhanku.” Dia mengatakan kebenaran dalam apa yang dikatakannya, sebab mimpi yang benar (manâm shâdiq) adalah wahyu dari Allah. Apa yang dia sukai ada di dalam tidurnya.
Seorang saleh yang lain lagi biasa memaksa dirinya untuk tidur di sebagian malam, dan akan mendapati dirinya siap untuk itu tanpa betul-betul membutuhkan istirahat. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Kalbuku melihat Tuhanku.” Dia mengatakan kebenaran dalam apa yang dikatakannya, sebab mimpi yang benar (manâm shâdiq) adalah wahyu dari Allah. Apa yang dia sukai ada di dalam tidurnya.
Apabila seseorang
dekat kepada Allah, maka malaikat-malaikat-Nya akan diberi tugas mengawasinya
setiap saat. Jika dia tidur, mereka akan duduk di arah kepalanya dan di arah
kakinya; mereka menjaganya baik di depannya maupun di belakangnya. Setan
mungkin akan mencoba menggodanya, tetapi dia tidak akan merasakan kedekatannya,
sebab dia tidur dalam penjagaan Allah, dan dalam penjagaan-Nya dia akhirnya
akan terjaga kembali. Apakah dia bergerak ataukah diam, dia selalu dalam
penjagaan Allah Yaang Mahatinggi.
Ya Allah, jagalah
kami dari semua keadaan, dan :Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan
di akhirat juga, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS 2:201)."
--Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani dalam Jala Al-Khawathir
Minggu, 28 Januari 2018
MEMAHAMI DUNIA DAN TUJUAN AKHIRAT
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Engkau celaka jika tidak merasa malu
kepada Allah SWT, jika engkau telah menjadikan dinar sebagai tuhanmu dan
menjadikan dirham sebagai tujuanmu. Sedangkan engkau melupakan-Nya sama sekali.
Sungguh takdirmu telah dekat!
Karena itu, jadikanlah kedai-kedai yang kau miliki dan semua harta untuk keluargamu adalah semata-mata karena perintah syariat, dan hatimu tetap bertawakal kepada Allah.
Karena itu, jadikanlah kedai-kedai yang kau miliki dan semua harta untuk keluargamu adalah semata-mata karena perintah syariat, dan hatimu tetap bertawakal kepada Allah.
Jadi, carilah rezekimu dan rezeki
untuk keluargamu hanya dari Allah, bukan dari harta dan kedai-kedaimu. Maka,
Allah SWT akan menjadikan untukmu karunia, kedekatan, dan kelembutan-Nya dalam
kalbumu. Dia akan mencukupi kebutuhan keluargamu dan kebutuhanmu melalui dirimu
sendiri.
Dia akan mencukupi
keluargamu dengan apa yang Dia kehendaki dan sebagaimana yang Dia kehendaki.
Lalu akan dikatakan kepadamu, “Ini adalah untukmu dan untuk keluargamu.” Namun,
bagaimana mungkin engkau dapat menerima perkataan seperti itu jika seumur
hidupmu bersikap musyrik? Engkau tidak pernah merasa kenyang dengan dunia dan
terus mengumpulkan harta. Allah SWT menutup pintu hatimu dan segala sesuatu tak
akan bisa memasukinya. Dia menurunkan peringatan-Nya dalam kalbumu.
Maka, bertobatlah
dari amal-amal burukmu dengan bersungguh-sungguh. Hendaklah engkau menangisi
rusaknya perjalanan hidupmu dan akhlak burukmu.
Hendaklah kau
menangisi semua perkara yang telah terjadi menimpamu. Bantulah orang-orang yang
fakir dan miskin dengan hartamu, dan janganlah berbuat kikir! Sebab, tak lama
lagi engkau akan berpisah dengan harta bendamu. Mukmin yang meyakini adanya
penggantian di dunia dan akhirat tentu tak akan bersikap kikir atau bakhil!
Nabi Isya a.s. pernah
bertanya kepada Iblis, “Siapakah makhluk yang paling kau sukai?”
Lalu, Iblis pun menjawab, “Mukmin yang kikir.”
“Siapa yang paling kau benci?” tanya Nabi Isya.
“Orang fasik yang dermawan,” jawab Iblis.
“Mengapa begitu?”
“Sebab aku berharap agar Mukmin yang kikir itu terjerumus ke dalam kemaksiatan karena sebab kekikirannya. Sebaliknya, aku takut seandainya orang fasik yang dermawan itu terhapus dosa-dosanya karena kedermawanannya.”
Lalu, Iblis pun menjawab, “Mukmin yang kikir.”
“Siapa yang paling kau benci?” tanya Nabi Isya.
“Orang fasik yang dermawan,” jawab Iblis.
“Mengapa begitu?”
“Sebab aku berharap agar Mukmin yang kikir itu terjerumus ke dalam kemaksiatan karena sebab kekikirannya. Sebaliknya, aku takut seandainya orang fasik yang dermawan itu terhapus dosa-dosanya karena kedermawanannya.”
Maka, sibukkanlah
dirimu dengan urusan dunia hanya untuk dunia. Sesungguhnya usaha dan pekerjaan
disyariatkan agar manusia dapat menolong dirinya untuk taat kepada Allah SWT.
Sedangkan, apabila engkau bekerja dan pekerjaanmu malah mendorongmu untuk
berlaku maksiat, berarti engkau berada dalam kemaksiatan bukan dalam ketaatan.
Tidak akan lama lagi
kematian akan datang. Dengan kematian itu, berbahagialah orang yang Mukmin, dan
bingunglah orang kafir dan munafik.”
-- Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani dalam kitab Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahmani
PESAN SYEKH IBNU ‘ARABI TENTANG CAHAYA ILAHI
Syekh Ibnu ‘Arabi menuturkan bahwa beberapa orang datang kepada Khalifah Usman
r.a. dan bertanya, “Apakah ada manusia setelah pemimpin kita Rasulullah SAW
yang menerima wahyu dari Allah?”
Khalifah Usman r.a. pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tak seorang pun akan menerima wahyu langsung dari Allah seperti yang beliau (Rasulullah) alami—tetapi aku mendengar beliau bersabda, ‘Berhati-hatilah terhadap firasat orang yang beriman, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.’” Dan, dia berkata kepada orang itu, “Kulihat sinar cahaya Ilahi itu dalam matamu sendiri.”
Khalifah Usman r.a. pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tak seorang pun akan menerima wahyu langsung dari Allah seperti yang beliau (Rasulullah) alami—tetapi aku mendengar beliau bersabda, ‘Berhati-hatilah terhadap firasat orang yang beriman, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.’” Dan, dia berkata kepada orang itu, “Kulihat sinar cahaya Ilahi itu dalam matamu sendiri.”
Sinar cahaya Ilahi ini, menurut Syekh Ibnu ‘Arabi, dikaruniakan
Allah kepada sebagian orang beruntung tapi yang imannya masih lemah, tujuannya
agar hati mereka diperkuat dan didekatkan kepada Tuhan mereka. Namun, sinar ini
tak akan tampak, kecuali ia dilindungi dan dilestarikan oleh ajaran-ajaran yang
terkandung dalam Al-Qur’an.
Maka, dengarkanlah apa yang Allah firmankan kepadamu di dalam
Al-Quran. Carilah di dalamnya arah bagi perbuatan dan cintamu. Hatimu akan
berdegup karena cinta itu jika engkau beriman kepada apa yang kau dengar, dan
membuktikannya dengan perbuatanmu.
Jika imanmu lemah dan kau lupa kepada Tuhan, berpegalah kepada
tanda-tanda yang telah Allah letakkan di dalam segala sesuatu yang ada di
sekitarmu untuk mengingatkan dirimu kepada-Nya. Maka, dengan penegasan dan
bukti atas kebenaran tanda-tanda itu,yang diajarkan agamamu, hatimu akan
menemukan kekuatan, dan imanmu akan semakin kokoh.
Lalu, jika engkau mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan di
sekelilingmu, namun tidak memahami maknanya karena kau kurang melaksanakan
latihan batin, maka akibatnya kau mungkin disalahkan (orang lain), bahkan oleh
dirimu sendiri, karena yang kau lihat hanyalah sihir atau ilusi belaka.
Ingatlah bahwa alat penglihatan kita adalah bashirah, mata
batin—dan tanda orang yang memiliki mata batin ini adalah bahwa perilaku dan
akhlak yang indah terungkap dalam perbuatannya. Perbuatan ini merupakan buah
dari pemahaman dan pengetahuannya.
Memikirkan tentang makna batin atau spiritualitas dengan Allah
mempengaruhi indera dan menajamkan kepekaan, yang memampukan orang untuk
melihat berbagai alam gaib. Kaum materialis menolak kemampuan semacam ini.
Banyak di antara mereka tidak percaya hal ini. Tetapi, sebenarnya ia merupakan
sebuah ilmu yang tak ubahnya seperti ilmu yang lain, yang bergantung pada
latihan (riyadhah), percobaan, dan usaha yang terus menerus (mujahadah). Ia
merupakan pengetahuan yang diawali dengan iman dan bergantung pada iman. Dan,
kebahagiaan yang diperoleh oleh seseorang dari penglihatan sekilas atas
kebenaran, yang dimungkinkan oleh firasat bawaan, karunia Allah, yang dimiliki
setiap orang.
Orang yang melihat dengan mata batin ini berarti melihat dengan
cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan hanya mengungkapkan kebenaran saja. Kenyataan ini,
dan pengakuan atasanya, hanya terungkapkan jika firasat bawaan dilengkapi
dengan hukum-hukum agama.
Semoga bermanfaat!
--Syekh Ibnu ‘Arabi dalam Kitab Tadbirat al-Ilahiyyah fi Ishlah
al-Mamlakah al-Insaniyah.
Langganan:
Postingan (Atom)