Senin, 20 November 2017

MEMBUKA TABIR CAHAYA ILAHI

Allah SWT berfirman, “Dan siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 72). Adapun yang dimaksudkan dengan buta di dunia adalah buta hati, sebagaimana firman Allah SWT, “Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Penyebab kebutaan kalbu adalah karena adanya hijab-hijab yang gelap (al-hujub azh-zhulmaniyah), lalai dan lupa karena jauhnya diri dari menepati janji pada Allah saat di Alam Arwah. Adapun sebabnya lalai adalah kebodohan seseorang terhadap masalah hakikat Ilahiah.
Kebodohan ini timbul karena kalbu dikuasai oleh sifat-sifat tercela, seperti sombong, dendam, dengki, kikir, ‘ujub, ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), bohong dan sifat-sifat tercela lainnya. Sifat-sifat inilah yang mengakibatkan manusia jatuh ke derajat yang paling rendah.
Sedangkan cara menghilangkan sifat-sifat yang tercela tersebut adalah dengan membersihkan cermin kalbu dengan alat pembersih tauhid, ilmu dan amal; serta berjuang dengan sekuat tenaga, baik lahir maupun batin. Semua itu akan menghasilkan hidupnya kalbu dengan cahaya tauhid dan sifat-sifatnya.
Jika seorang manusia telah berhasil menghidupkan kalbunya, maka ia akan ingat pada Negeri Asalnya (Alam Lahut). Setelah ingat ia akan rindu pulang dan ingin sampai ke negerinya yang hakiki. Maka, ia akan sampai dengan pertolongan Allah.
Selanjutnya, setelah penghalang kegelapan (tabir) tadi hilang, maka yang tersisa adalah penghalang-penghalang atau tabir cahaya (al-hujub an-nuraniah).
Dan, pada saat itu ia sudah bashirah, ia yang mampu melihat dengan penglihatan ruh dan menerima cahaya dari cahaya Asma Ash-Shifat (nama-nama sifat). Secara bertahap, penghalang-penghalang cahaya itu akan sirna dengan sendirinya dan dia akan diterangi dengan cahaya Dzat.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar,


PESAN IMAM ABU HASAN ASY-SYADZILI

Menurut Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili, jika Allah hendak memuliakan seorang hamba dalam gerakan dan diamnya sekalipun, maka Allah akan angkat dia menjadi orang yang suka beribadah kepada-Nya. Allah tutup dari kepuasan dirinya sendiri, Dia jadikan hamba itu asyik di dalam ibadahnya, kepuasan dirinya tertutup kecuali sebatas dan secukupnya saja untuk dirinya, bahkan sang hamba tidak akan melirik kepuasan dirinya seolah ia sibuk dalam keterasingan.
Jika Allah hendak menghinakan seorang hamba dalam gerak dan diamnya maka Allah luapkan kepuasan dirinya, Dia tutup pintu ibadahnya sehingga asyik di dalam syahwatnya, sedankan ibadahnya kepada Allah menjadi sesuatu yang asing, meskipun secara lahiriah sang hamba terlihat mengerjakannya.
Ibadah adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, menolak syahwat dan kehendak, maka barang siapa mampu mencapai derajat kesucian kalbu dari setan, hawa nafsu dan dunia, lalu lalu diiringi dengan banyak ingat untuk beribadah kepada Allah, maka dia telah meraih kebaikan seluruhnya.”
Hamba yang dimuliakan Allah dengan ibadah mendorong hamba untuk menjalankan ketaatan tepat pada waktunya. Hal itu karena, setiap waktu ada nilai ibadah yang harus engkau penuhi dengan mengikuti ketentuan rububiyah. Maka tidak boleh ketaatan itu terlambat dijalankan sebagaimana ketaatan yang dijalankan untuk mengganti ketaatan yang hilang.
Faedah ketaatan dan menjaga kelanggengannya tidak lagi dapat dipungkiri. Pernah suatu ketika Abul Hasan asy-Syadzili ditanya, “Apa yang engkau dapat petik dari ketaatanmu dan apa yang engkau dapat petik dari kemaksiatanmu?” Maka Abul Hasan asy-Syadzili menjawab, “Dari ketaatan aku memetik ilmu yang bertambah, cahaya Ilahi yang terang dan mahabbah. Sedangkan dari kemaksiatan aku memetik kegundahan, kesedihan, takut dan harapan semu.”

--Al-Madrasah Asy-Syadziliyah Al-Haditsah wa Imamuha Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili, karya Syekh Abdul Halim Mahmud

Senin, 13 November 2017

BUKALAH PINTU GAIB DENGAN SHALATMU

“Shalat adalah pembersih kalbu dari kotoran dosa dan pembuka pintu kegaiban.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa shalat yang sesungguhnya adalah sesuatu yang menjadi pembersih kalbu dari pengaruh kotoran duniawi dan noda dosa, serta sifat-sifat lain yang menjauhkan pelakukanya dari pandangan kepada Rabb yang Maha Perkasa.
Shalat juga merupakan pembuka pintu sesuatu yang tak pernah engkau miliki, yaitu berupa makrifat dan rahasia-rahasia Ilahi. Makrifat dan rahasia Ilahi ini diumpamakan dengan harta karun yang tertutup rapat. Jika hati sudah dibersihkan, tutupnya akan diangkat sehingga ia bisa melihat rahasia-rahasia gaib yang tak pernah dilihatnya.”
Syekh Ibnu Atha’illah juga mengatakan: “Shalat adalah tempat munajat dan kerinduan. Di dalamnya ruang rahasia meluas dan cahaya-cahaya bersinar.”
Menurut Asy-Syarqawi, munajat bermakna keintiman dan percakapa lembut seorang hamba dengan Rabbnya. Shalat adalah media munajat secara pribadi antara hamba dengan Tuhannya. Dengan munajat ini, Allah menampakkan sifat-sifat-Nya yang indah sebagai rahmat kepada para hamba-Nya dan seluruh ciptaannya di seluruh jagat raya. Melalui munajat itu pula, Allah memasukkan ke dalam batin hamba ilmu-ilmu laduni dan rahasia-rahasia makrifat.
Shalat menjadi sarana pertemuan dan pelepas rindu hamba dengan Tuhannya. Dengan shalat, hamba menghadap-Nya dengan sepenuh jiwa-raga, menjumpai-Nya secara lahir dan batin sehingga dalam relung batinya tak ada yang tersimpan selain diri-Nya. Dengan shalat juga, Allah akan membersihkan seorang hamba dengan memberinya kemampuan syuhud (kesaksian) dan mencurahkan karunia dan kebaikan-Nya. Inilah pembersihan jiwa-raga yang paling tinggi. Semakin seorang hamba mendekati-Nya, maka Allah pun akan semakin lebih mendekatinya lagi.
Di dalam shalat, ruang kalbu menjadi luas, sehingga bisa menerima rahasia-rahasia yang berlimpah. Lalu, cahaya-cahaya pun bersinar terang. Jika cahaya menyinari kalbu, maka ia akan menjadi lapang dan terbuka menerima berbagai ilmu dan makrifat. Inilah buah dari munajat dan pembersihan yang disebut oleh Syekh Ibnu Atha’illah di atas. Semuanya adalah penegasan dari hikmah sebelumnya bahwa yang dituntut dari hamba adalah mendirikan shalat secara sungguh-sungguh, bukan sekadar melaksanakan tanpa makna.
Syekh Ibnu Atha’illah mengatakan: “Allah mengetahui kelemahan dirimu sehingga menyedikitkan bilangan (shalat). Dia juga mengetahui kebutuhanmu terhadap karunia-Nya sehingga melipatgandakan pahala-Nya.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

Selasa, 07 November 2017

BEKAL RUHANI PARA PEMBURU MAKRIFAT

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Wahai kaumku! Kalian harus berusaha mencapai titik komitmen yang kokoh dalam beribadah kepada Allah. Sebab, Dia mendatangi mereka yang berdiri dengan taat di hadapan-Nya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Ketika seorang hamba berdiri berlama-lama di hadirat Tuhannya, dan dengan penuh kepatuhan melaksanakan shalatnya, maka dosa-dosanya jatuh berguguran, persis seperti daun-daun kering yang rontok dari pepohonan pada hari ketika angin bertiup sangat kencang. Dan, ketika seorang hamba bersikap tulus dan taat kepada Tuhannya, maka dosa-dosanya berguguran dan dibersihkan dari dirinya, baik dari luar (zahir) maupun dari dalam (bathin). Kalbunya akan dipenuhi dengan cahaya, dan wujud terdalam (sirr) menjadi suci dan tenang.”
Kalian harus selalu di jalan kebenaran dalam kehidupan pribadi kalian. Kalian harus fasih dalam kehidupan sosialmu!

Jika kalian menempuh jalan kebenaran di dunia, maka kalian akan berada di jalur yang benar di akhirat.
Kalian harus berterus-terang kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Agung. Kalian harus memohon kepada-Nya atas nama sesama kalian, sebab Dia akan menerima perantaraan kalian untuk memberi berkah kepada makhluk-makhluk-Nya yang hendak diberkahi-Nya.

Setelah memberikan izin-Nya dan mengeluarkan perintah-Nya maka Dia akan mengabulkan permohonan kalian, sebagai hadiah kemuliaan/keajaiban (karamah) kepada kalian, untuk memberikan bukti yang kasat mata tentang kedudukan yang kalian tempati (maqam) dalam pandangan-Nya.
Kalian harus benar-benar menjaga hubungan dengan-Nya. Harus fasih dalam memberi penjelasan/pelajaran kepada makhluk-makhluk-Nya. Kalian harus menjadi guru (mu’alim) dan pendidik (mu’abbid) yang baik.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berprilaku baik di sisi-Mu dalam situasi dan kondisi apa pun, dan berprilaku baik pula bersama orang-orang yang shaleh di antara hamba-hamba-Mu.
Berikanlah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di akhirat nanti, serta jagalah kami dari siksa api neraka.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khawathir.

Minggu, 05 November 2017

MENANGKAP CAHAYA ILAHI


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu memberi nasehat: “Butalah terhadap segala hal selain Allah. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal tersebut. Jika engkau melihat sesuatu pun dari hal itu, maka karunia dan kedekatan Allah Azza wa Jalla akan tertutup bagimu.
Jadi, tutuplah segala hal dengan kesadaranmu akan keesaan Allah dan dengan kefanaan dirimu. Maka akan tampak oleh mata batinmu hal Allah Azza wa Jalla, dan engkau akan melihatnya dengan kedua mata batinmu ketika hal tersebut tersinari oleh cahaya kalbumu, cahaya imanmu, dan cahaya keteguhan keyakinanmu.

Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu, seperti cahaya sebuah pelita di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangya, hingga sisi-sisi luar rumah menjadi tercerahkan oleh cahaya dari dalam. Lalu, diri dan anggota tubuhmu akan merasa ridha dengan janji Allah dan karunia-Nya.
Maka, kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia ke dalam gelap ketidakpedulian dan kebodohanmu, agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana dan tak tertumpu pada hal-hal semacam itu. Sebab, jika engkau melakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan karunia Allah akan tertutup pula bagimu karena kesyirikanmu.
Jika engkau telah menyadari keesaan-Nya, telah engkau lihat karunia-Nya, engkau hanya berharap kepada-Nya dan telah kaubutakan dirimu terhadap segala sesuatu selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, Dia akan mengasihimu, menjagamu, memberimu makan, minumu dan merawatmu. Dia juga akan membuat bahagia, menganugerahi karunia-karunia, menolong seluruh masalahmu, menjadikan dirimu sebagai penguasa atas dirimu sendiri dan membuatmu fana hingga engkau tak akan melihat kemiskinanmu ataupun kekayaanmu.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

AJARAN IKHLAS DARI SULTHANUL-AWLIY

A
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai saudaraku, hidupmu jangan seperti pasar, yang jika waktunya habis tak seorang pun tinggal di sana. Ketika malam tiba, tak seorang pun berkenan tinggal di sana. Oleh karena itu, bermujahadalah engkau agar tidak akan seperti berjual beli di pasar; kecuali sesuatu yang bermanfaat buat akhirat kelak. Sebab Allah selalu mengawasimu. Tauhidkanlah Allah dan beramallah dengan ikhlas semata karena Dia.
Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah jua yang memberi rezeki buatmu. Janganlah bersifat kikir terhadap sesama. Pakailah akalmu, bersopan santunlah di hadapan Allah dan di hadapan makhluk-Nya. Janganlah engkau menganiaya sesama dan jangan mencuri hak-hak mereka. Pandai-pandailah menempatkan diri di sisi-Nya.

Wahai saudaraku, dengan ekspresi wajah yang bagaimanakah kelak engkau berjumpa dengan Allah jika dirimu saat ini selalu menentangnya. Jika setiap kebutuhan dan hajatmu engkau sampaikan kepada sesama manusia dan engkau berserah diri kepadanya; bukan kepada Allah.
Wahai saudaraku, seandainya engkau mampu memberi terhadap sesamamu tanpa menghendaki sesuatu imbalan, maka lakukanlah. Jadіlah pelayan tanpa mencari pelayan. Perhatikan kesufian dan kesiapan mereka di hadapan Allah. Jika Islam tidak ada dalam jiwamu, bagaimana mungkin iman bisa tumbuh dalam hatimu. Jika keyakinan tidak engkau miliki, berarti dirimu

tidak mempunyai kebaikan. Itu berarti engkau jauh sekali dari-Nya. Inilah derajat yang tumbuh dalam jiwa.
Tetapi jika Islam murni, maka murnilah penghambaanmu kepada-Nya. Maka menjadilah engkau orang yang berserah diri kcpada-Nya dengan segala keberadaanmu. Engkau akan menjaga syariat-Nya secara ikhlas. Serahkan jiwamu menurut kewajiban. Perbaikilah adab bersama-Nya dan dengan makhluk-Nya. Jangan engkau menganiaya diri sendiri atau orang lain. Karena perbuatan aniaya itu membutakan hati, menggelapkan mata dan menggelapkan catatan amal. Janganlah engkau menolong orang yang suka menganiaya orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
اِذَا اُظْلِمَ مَنْ لَمْ يَجِدْ نَاصِرًا غَيْرَ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ فَاِنَّهُ يَقُوْلُ: لَاَنْصُرَنَّكَ وَلَوْبَعْدَ حِيْنٍ. 
Apabila orang yang teraniaya itu tidak menjumpai penolong selain Allah Azza wa Jalla, maka Allah berkata tentu Aku beri pertolongan padamu walaupun sudah berlalu.
Bersabarlah engkau, sebab sabar itu suatu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah dan mengangkat kemuliaan.

Wahai Allah, kami mohon kepada-Mu agar sabar bersama-Mu. Kami mohon taqwa, bebas dari semua keberadaan ini, sibuk bersama-Mu.
Wahai hamba Allah, tenanglah bersama-Nya, karena tenang bersama-Nya itu nikmat. Tiada penguasa, tiada yang kaya, dan tiada yang mulia kecuali Allah SWT.
Wahai orang munafik, sampai kapankah kamu riya' dan munafik kepada-Nya? Celakalah kamu, kenapa tidak malu kepada-Nya dan tidak уakin akan bertemu dengan-Nya? Waktu ini kamu beramal karena-Nya tetapi dalam batinmu tidak demikian. Bertaubatlah dan bersihkan niatmu karena-Nya, sesungguhnya tidak akan makan sesuap pun atau berjalan selangkah kecuali dengan niat yang ikhlas.

Ketauhilah, bahwa makhluk dan Khalik tidak bisa disamakan, dunia dan akhirat tidak akan pernah bisa dipadukan. tidak bisa dilukiskan tapi keberadaan makhluk bisa dilukiskan dalam jiwa. Jika kamu dekat dengan Allah maka bebaskan hatimu dari dunia dan akhirat. Selama dalam hatimu masih ada sesuatu selain Allah Swt. maka kamu tidak akan bisa melihat kehadiran-Nya. Selama hatimu masih suka terhadap dunia, maka kamu tidak akan bisa melihat akhirat, kamu tidak akan bisa mendekati pintu-Nya selagi hatimu masih bercabang. Wahai hamba Allah, kelihatannya kamu sibuk dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui. maka kosongkanlah nafsu dari hatimu tentu kebaikan akan menyelimutimu, jika nafsu itu telah keluar maka datanglah kejernihan.
Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al- Ra'd (13) : 11)
Wahai saudaraku, pikirkanlah kalam Allah di atas tadi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dan kusampaikan kepada mereka bukan berarti aku membutuhkan mereka. Aku tidak butuh mereka, tetapi aku hanya butuh kepada Allah.

Dia Maha Mengetahui kebenaranku, karena Dia Maha Tahu atas segala yang gaib, segala yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya. Beramal dengan ikhlas adalah amal kebaikan yang dilakukan semata-mata karena Allah, semata-mata mengharap ridha-Nya. Ikhlas merupakan ruh amal. Sedangkan amal kebaikan yang tidak disertai dengan niat ikhlas, jelas akan ditolak oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan Agama. (QS Al- Bayyinah (98) : 5)
Rasulullah Saw. bersabda:
لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِىَ بِهِ وَجْهَهُ
Allah tidak menerima amal, melainkan amalnya yang ikhlas mencari keridhaan Allah (HR. Ibnu Majah)
Wahai saudaraku, ikhlas adalah dasar suatu amalan. Amalan yang tidak disertai dengan hati yang ikhlas akan sia-sia. Percayalah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya. Jauhilah segala apa yang dilarang-Nya dan janganlah kamu durhaka kepada-Nya. Cintailah sesuatu karena Allah, bencilah orang yang selalu menentang-Nya.

Wahai saudaraku, syukurlah atas semua pemberian-Nya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya di saat mengalami kesulitan dan pujilah Dia di saat mengalami kegembiraan. Cintailah sesama manusia sebab mereka itu makhluk Allah. Ikhlas kepada Allah dalam beribadah adalah menyembah-Nya dengan tanpa mengharap sesuatu dari selain-Nya. Kalau kamu menyembah Allah dengan tujuan untuk memperoleh pahala atau sebab takut karena siksa-Nya, maka ibadah yang seperti itu tidak dinamakan ikhlas.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk mengabdi kepada Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An،âm (6) :162)

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ اَعْطَى لِلّٰهِ تَعٰلَى وَمَنَعَ لِلّٰهِ تَعَالٰى وَاَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَاَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَلَى وَاَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَوِاسْتَكْمَلَ اِيْمَانَهُ.
Barangsiapa yang memberimu karena Allah Та 'ala, mencegah karena Allah Та 'ala. Mencintai karena Allah Та 'ala, benci karena Allah ta 'ala, dan menikahkan karena Allah Та 'ala, maka ia telah menyempurnakan imannya. (HR. Abu Dawud)
Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab r.a. berkata tentang amalan yang ikhlas sebagai berikut:
اَفْضَلُ الاَعْمَالِ اَدَاءُ مَافْتَرَضَ اللهُ تَعَالَى وَالْورَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى وَصِدْقُ النِّيَّةَ فِيْمَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى.
Amalan yang paling utama adalah menunaikan ара yang telah difardhukan oleh Allah Та 'ala dan melakukan wara' (menjaga diri) dari sesuatu yang diharamkan Allah Та 'ala, serta membenarkan niat dalam beribadah kepada Allah ta 'ala.

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

DZIKIR MAUT DARI RASULULLAH & SAHABAT


Ad-Dahhak meriwayatkan, "Suatu ketika seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling zuhud?" Beliau menjawab, "Orang yang tidak melupakan kuburan dan kerusakan jasad, meninggalkan perhiasan dunia yang berlebihan, lebih memilih hal yang kekal daripada yang fana, tidak menganggap esok hari sebagai miliknya, dan menganggap dirinya termasuk ahli kubur." (Kitab Az-Zuhud, Imam Ibn Hanbal)

Sayyidina Ali r.a. ditanya seseorang, mengapa dia tinggal di dekat kuburan, lalu dia menjawab,"Aku mendapati mereka (ahli kubur) sebagai tetangga yang paling baik. Sesungguhnya kudapati mereka sebagai tetangga yang jujur, yang menahan lidah mereka dan menyampaikan peringatan tentang akhirat."
Rasulullah SAW bersabda, "Tak pernah aku melihat pemandangan yang lebih menakutkan daripada kuburan." (HR At-Tirmudzi dan Ibn Majah)
Umar bin Khattab r.a. menuturkan, "Suatu ketika kami pergi ke pekuburan bersama Rasulullah SAW. Aku berada paling dekat dengannya. Beliau duduk di dekat sebuah kuburan dan menangis. Aku menangis melihatnya, demikian juga krang yang lain.
"Mengapa kalian menangis?" tanya Rasul.
"Kami menangis karena kau menangis," jawab kami.
Beliau lalu menjawab, "Ini adalah kuburan ibuku, Aminah binti Wahab. Aku meminta izin kepada Rabbku untuk mengunjunginya dan Dia mengizinkan aku. Lalu, aku meminta izin-Nya untuk memohonkan ampunan untuknya, tetapi Dia menolak permintaanku. Maka, aku merasakan derita kesedihan seorang anak."(HR Muslim dan Al-Hakim)

Ketika berhenti di dekat sebuah kuburan, Usman bin Affan r.a. biasa menangis sampai janggutnya basah. Dia ditanya tentang hal ini, "Mengapa kau tak menangis ketika menyebut surga dan neraka, tetapi kau menangis ketika berhenti dekat kuburan?"
Dia menjawab, "Suatu ketika aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,'Sesungguhnya kuburan adalah tahap pertama akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih mudah. Tetapi, jika dia tisak selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih sukar." (HR At-Tirmidzi dan Ibn Majah)
--Imam Al-Ghazali, Dzikr Maut wa Ma Ba'dahu, kitab Ihya Ulumuddin.