Sabtu, 06 Januari 2018

Pilihan Dan Takdir

Felix Siau
Terlahir sebagai keturunan Cina, di kota Palembang, penduduk Indonesia, sebagai lelaki, anak kedua, adalah bagian takdir, saya tak pernah memilih sama sekali
Dalam Islam, yang Allah perintah berkaitan dengan takdir ini adalah menerimanya, mengimaninya, sebagai bagian pemberian Allah yang pasti baik bagi manusia
Dalam perkara ini, kita tak perlu lagi mengubah, menambah apalagi protes, inilah yang dinamakan beriman pada takdir, sebagai bagian daripada rukun iman
Konsekuensinya, karena kita tidak pernah memilih soalan takdir ini, maka kita di hadapan Allah kelak tidak akan ditanya tentang takdir, sebab Allah yang menentukan bagi kita semua itu
Beda dengan iman atau kafir, berbuat baik atau buruk, mau berusaha atau tidak, rajin atau malas, beribadah atau bermaksiat, itu semua pilihan, yang kelak akan dimintai pertanggungan
Beriman itu perlu usaha, memahami agama itu perlu jerih payah, apalagi membela agama. Karena itulah ada ganjaran yang Allah siapkan disana, sesuai usaha kita
Sebab itu, kelak di yaumil hisab, manusia tidak dikelompokkan berdasar suku atau kulit, negara atau bangsa. Tapi berdasar iman, sebab itu yang Allah lihat
Maka seorang Muslim, apapun sukunya, dimanapun tinggalnya, apapun negerinya, tetap akan menjadikan ketaatan pada Allah sebagai yang utama
Sebab ketaatan pada Allah itulah yang akan jadi pembeda kelak. Adapun suku, ras, etnis, negara, itu semua adalah ketentuan Allah yang tidak akan dihisab

Maka saya berarti bukan karena saya Cina, bukan karena saya lelaki, bukan karena saya Indonesia. Tapi saya berarti, karena saya Muslim. Sebab itu pilihan, dan layak dibanggakan sampai akhir hayat
.
"Dan janganlah kalian mati, melainkan kalian mati dalam keadaan Muslim". Begitu singkat Allah dalam ayat-Nya 

.
Tulisan diatas, Siauw Cen Kwok, nama yang diberikan ayah saya saat lahir

Kamis, 04 Januari 2018

RENUNGAN MALAM PENERANG JIWA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ketika kalbu bertindak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi., maka ia menjadi dekat kepada Rabb-nya. Dan, ketika ia telah dekat, maka ia akan memperoleh pengetahuan. Kini kalbu dapat membedakan mana yang benar-benar menjadi milik-Nya dan apa yang dituntut darinya; apa yang menjadi milik Allah dan apa yang menjadi milik selain-Nya; apa yang termasuk kebenaran (haqq) dan apa yang termasuk kebatilan. Sebab, seorang Mukmin dianugerahi cahaya yang dengannya dia bisa melihat, demikian pula halnya dengan sang penjuang kebenaran yang dekat dengan Allah (ash-shiddîq al-muqarrab).
Orang Mukmin memiliki cahaya yang dengannya dia bisa melihat, dan itulah sebabnya Nabi SAW memperingatkan kita agar berhati-hati terhadap firasat orang Mukmin. Beliau bersabda, “Berati-hatilah terhadap firasat seorang Mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.”
Orang yang ʽarîf dan dekat (kepada Allah) juga diberi cahaya yang dengannya dia dapat melihat betapa dekatnya Tuhannya yang Maha Kuasa dengan kalbunya. Dia dapat melihat ruh-ruh (arwâh), para malaikat dan para nabi, dapat melihat kalbu dan ruh-ruh para pejuang kebenaran (shiddîqîn). 
Dia bisa melihat keadaan-keadaan spiritual (ahwâl) dan kedudukan-kedudukan (maqâmat). Semua ini berada dalam lipatan-lipatan terdalam kalbuya (suwaidâ’ qalbihi) dan kejernihan wujud terdalamnya (sirr). Dia selalu berada dalam kebahagiaan bersama Rabb-nya Yang Maha Kuasa dan Maha Agung. Dia adalah perantara, yang menerima dari-Nya dan membagi-bagikan kepada manusia.

Ada orang-orang yang berilmu (ʽâlim) dengan lidah maupun kalbunya, sementara sebagian orang berilmu dalam kalbunya saja, tetapi kikuk dengan lidahnya. Mengenai orang munafik, dia pandai dengan lidahnya, namun tidak sesuai dengan kalbunya. Semua ilmunya hanya pada lidahnya saja, dan itulah sebabnya Nabi SAW bersabda, “Apa yang paling kutakutkan atas umatku adalah seorang munafik dengan lidah yang pandai.”
Wahai anak muda! Apabila engkau datang ke hadapaku, engkau harus membungkus kegiatan pribadimu dan kepedulian-kepedulianmu yang egois. Engkau harus masuk tanpa membawa apa-apa, seperti seorang yang sama sekali bangkrut (muflis). Jika engkau datang ke sini sementara engkau masih memikirkan pekerjaanmu dan kepentinganmu, engkau akan terhalang dari menerima petunjuk yang kusampaikan. Celakalah engkau! Engkau membenciku karena aku mengatakan kebenaran dan menghadapkanmu pada kebenaran. Tak seorang pun yang membenciku kecuali musuh Allah, dan tak seorang pun mengabaikan aku kecuali dia jahil terhadap Allah, suka banyak bicara dan sedikit beramal. Tak seorang pun mencintaiku kecuali dia sadar akan Allah, banyak beramal dan sedikit bicara.

Orang yang tulus (mukhlish) akan mencintaiku dan orang yang munafik akan membenciku. Aku dicintai para pengikut Sunnah Nabi SAW dan aku dibenci oleh kaum yang lebih suka mengikuti bidʽah. Jika engkau mencintaiku, manfaat dari semua ini akan datang kepadamu. Tetapi, jika engkau membenciku, maka efeknya kepadamu akan merusak. Aku tidak terjerat oleh pujian dan celaan sesama makhluk. Tidak ada satu spesies apa pun di muka bumi yang kutakuti atau yang kepadanya kutanamkan harapan-harapanku, baik ia itu salah satu dari bangsa jin ataupun anggota ras manusia, baik binatang ataupun serangga ataupun jenis makhluk yang lain. Aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung. Semakin banyak Dia menganugerahiku anugerah-Nya yang penuh berkah, semakin besar rasa takutku, sebab Dia: “Melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS Hûd (11) :107). “Dia tidak akan ditanyai tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai,” (QS Al-Anbiyâ ( 21) :23)
Wahai anak muda! Janganlah berkonsentrasi pada mencuci pakaian jasadmu, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu. Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
Engkau tidak boleh membiarkan dirimu silau oleh apa pun, sebab Tuhanmu “melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS 11:107).

Itulah sebabnya diceritakan sebuah kisah tentang seorang saleh, bagaimana suatu ketika ia mengunjungi saudaranya seiman kepada Allah. “Wahai saudaraku,” katanya kepada saudaranya itu. “Marilah kita menangis atas pengetahuan Allah tentang kita!” Alangkah bagusnya ucapan orang saleh ini! Dia adalah orang yang memiliki pengenalan (‘ârîf) tentang Allah dan telah mendengat kata-kata Nabi SAW: “Salah seorang di antara kalian mungkin beramal dengan amalan ahli surga, sampai tak ada jarak antara dia dan surga itu kecuali satu jengkal saja, kemudian kemalangan menimpanya dan dia menjadi salah seorang penghuni neraka, sampai tak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal saja, kemudian keberuntungan mengenainya dan dia menjadi salah seorang penghuni surga.”
Pengetahuan Allah tentang dirimu hanya akan tampak kepadamu manakala engkau berpaling lagi kepada-Nya dengan segenap hati dan aspirasimu, manakala engkau tidak pernah menjauhi pintu rahmat-Nya, manakala engkau memasang penghalang dari besi antara hatimu dan nafsu badaniahmu, dan manakala engkau menjadikan maut dan kuburan sebagai titik pusat perhatian bagi mata kepala dan mata hatimu.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir--

Senin, 01 Januari 2018

HIDUPKAN KALBU, MESKI DALAM KEADAAN TIDUR

Dalam kitab Sirrul Asrar, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa jalan untuk wushul (sampai) kepada Allah adalah dengan menjaga amalan badan tetap berada di jalan yang benar dengan melakukan semua hukum syariat, baik di siang hari atau malam.
Menurut beliau, kita harus mendisiplinkan diri dengan berdzikir, baik secara jahr atau khafi (secara terang atau secara samar). Hukum berdzikir menurut Syekh adalah wajib dan harus dilakukan oleh semua manusia yang ingin dekat kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
"Ingatlah Allah dalam keadaan berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (QS Ali Imran (3): 191).
Dzikir harus disertai dengan kesucian lahir dan batin agar menghasilkan cahaya dzikir di dalam batin. Dzikir dilakukan dalam kesadaran yang terus menerus. Bahkan, saat kita dalam keadaan tidur. Karena itu, sebelum tidur pun kita diperintahkan berdoa, berdzikir, bertasbih, dan membaca ayat Al-Quran. Kita harus tetap menghidupkan kalbu setiap saat meskipun dalam keadaan tidur.
Menurut Syekh, sebagaimana kalbu yang hidup, ia tidak pernah tidur, maka janganlah mengira bahwa kalbu itu akan mati. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW:
"Kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur,"(HR Al-Bukhari)
Maka, mari niatkan diri kita untuk berdzikir dalam setiap keadaan, selalu menghidupkan kalbu dengan kesadaran ruhani yang selalu merindukan pertemuaan dengan Rabb. Mari menghidupkan kalbu dengan tahlil, tasbih, tahmid, istighfar dan shalawat Nabi.
Semoga bermanfaat


JAWABAN CINTA SANG MAHA CINTA

Diriwayatkan bahwa setelah Nabi Dawud a.s. menyaksikan sendiri betapa hebat dan dahsyat balasan cinta Allah SWT kepada para wali-wali-Nya—para pecinta Allah merindukan perjumpaan dengan-Nya—beliau pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dengan apa mereka memperoleh anugerah ini dari-Mu?
Allah SWT menjawab, “Dengan berbaik sangka, mencegah diri dari dunia dan penghuninya, mengasingkan diri bersama-Ku dan munajat mereka kepada-Ku. Ini adalah peringkat yang tidak mudah dicapai oleh siapa pun kecuali orang yang bersungguh-sungguh menutup mata terhadap dunia dan penghuninya, juga sedikit pun tidak disibukkan olehnya, bahkan tidak terlintas dalam ingatannya.
Ia mengosongkan dirinya hanya untuk-Ku dan hanya memilih-Ku di antara seluruh makhluk-Ku. Ketika itulah Aku bersimpati kepadanya. Aku kosongkan jiwanya dan Aku singkapkan tirai antara Aku dengannya hingga ia melihat-Ku sebagaimana mata melihat sesuatu. Aku perlihatkan kepadanya kemuliaan-Ku setiap waktu. Aku dekatkan dia pada cahaya ‘wajah’-Ku.
Jika ia jatuh sakit, maka Akulah yang merawat dan mengobatinya, persis seperti seorang ibu yang penuh kasih merawat anaknya. Jika ia haus, maka Aku memberikan minum dan Aku cicikan padanya kelezatan mengingat-Ku. Aku berbuat begitu kepadanya, maka ia buta akan dunia dan seluruh penghuninya. Aku jadikan ia tidak berselera kepadanya. Ia pun tidak susah-payah sibuk dengan-Ku. Lalu, ia pun ingin cepat-cepat mendatangi-Ku.
Aku tak ingin cepat-cepat mencabut nyawanya, sebab ia tidak melihat apa pun selain Aku. Hal yang sama pun terjadi pada-Ku. Aku tak melihat selain darinya. Jika Aku melihatnya, maka melelehlah dirinya, kuruslah badanya, dan berhamburlah organ-organ tubuhnya.
Ketika ia mendengar Aku menyebutnya, kalbunya langsung tercerabut. Aku banggakan ia pada malaikat-malaikat-Ku dan para penghuni langit-Ku. Lalu, rasa takut dan ibadahnya pada-Ku pun semakin bertambah. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan dudukkan dia di Surga Firdaus, Aku akan menyembuhkan dadanya dengan melihat-Ku sampai ia rela dan benar-benar rela!”
--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Ridha


MEMAHAMI ISYARAT CINTA ILAHI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya. Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah. Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Wahai anak muda! Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles dan kau cintai adalah cinta yang semu, yang menyebabkanmu dikenai hukuman. Sebab, cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla.
Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu. Itulah cinta orang-orang Shiddiq yang dipenuhi limpahan keruhaniaan. Mereka tidak mencintai dengan keimanan, tetapi dengan keyakinan dan kesaksian. Hijab mereka tersingkap dari mataharimu sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib. Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

DAHSYAT!!! ANAK JALANAN PUN BERSEDEKAH

Jika melihat orang kaya suka bersedekah itu hal biasa. Melihat orang berpendidikan peduli kepada sesama itu hal wajar. Melihat pejabat suka membantu itu lumrah. Tapi, jika melihat anak Punk dan jalanan yang miskin, terbuang, terhina, dan terlunta-lunta di jalanan, lalu peduli kepada nilai kemanusiaan, maka itu adalah hal luar biasa.
Inilah salah satu yang membuat saya terharu dan bangga melihat anak Punk dan jalanan di Gaplek memiliki sikap kepedulian kepada sesama.
Suatu siang di Perempatan, saya berkunjung menemui anak Punk dan jalanan. Saya lihat Roni, Regi dan Irwan sedang duduk santai di sudut trotoar. Tiba-tiba, Irwan alias Mok-Mok mengedipkan mata kepada Regi sambil menunjukkan satu kaleng kecil. Awalnya, saya pikir itu kaleng yang biasa mereka tabuh untuk mengamen. Namun, setelah diperhatikan ternyata terdapat lubang kecil seukuran koin. Hingga terbersit dalam hati saya: "Mengapa mereka membawa celengan ke jalanan?!"
"Ente bawa harta karun kemana-mana, Bro?" tanyaku kepada Mok-Mok.
"Hahaha. Ini yang saya bilang kemaren, Pak," jawabnya.
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Kami sering menyisihkan uang koin recehan di kaleng ini untuk disumbangkan ke Panti Asuhan," jawab Mok-Mok.
Saya kaget dibuatnya. "Subhanallah...Luar biasa," bisikku dalam hati. Aku merinding dibuatnya. Mereka punya kebiasaan mengagumkan.
"Kalian wajibkan atau semacam iuaran?"
"Tidak. Ini kesadaran kita sendiri. Ini murni sedekah. Berbeda dengan iuran untuk beli kaos, sumbangan anak yang sakit atau yang lain. Ini khusus untuk anak yatim piatu," jelas Mok-Mok.
Untuk tidur saja, mereka harus berteduh di depan ruko, berselimut kardus dan koran, tapi mereka mampu memikirkan saudara mereka yang lain.
Kadang, mereka terusir dari satu tempat ke tempat lain. Untuk mandi dan buang hajat, mereka harus merengek satpam untuk meminta izin menggunakan WC, tapi sempat-sempatnya mereka bersedekah untuk yatim piatu.
Bahkan, seingatku, di antara mereka ada yang tak mengenal siapa orangtua mereka. Untuk makan setiap hari, mereka harus tahan panas, mengamen dari satu angkot ke angkot lain, atau menunggu perempatan Gaplek macet, baru beroperasi. Tapi, sempat-sempatnya mereka bersedekah.
"Pasti ada anak-anak lain di luar sana yang nasibnya lebih buruk dari kita. Semoga saja sedekah kita yang ikhlas bisa meringankan mereka," tutur Regi.
Menurut Mok-Mok, mereka menyisihkan uang receh itu hingga penuh satu kaling. Hampir setiap hari, mereka menyisihkan uang hasil mengamen,Rp 200, Rp 500, Rp 1000, pokoknya sekemampuan mereka. Ketika kaleng itu penuh, mereka langsung menyerahkan kepada adik Regi untuk diserahkan ke panti asuhan. Dan, mereka tak pernah menghitung berapa jumlahnya. Yang penting, jika seminggu atau dua minggu celengen penuh, langsung disedekahkan.
Sungguh mulia hati mereka. Saya yakin, nilai Rp 1000 yang mereka sumbangkan berbeda dengan Rp 1000 yang disedekahkan oleh TNI, Polisi, PNS, pegawai bank, pengacara, dan penguasaha. Boleh jadi, nilai Rp 1000 yang mereka sumbangkan setara dengan Rp 1.000.000 yang disumbangkan oleh kaum profesional yang memiliki pekerjaan tetap. Apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha kaya.
Sebab, perjuangan untuk mendapatkan Rp 1000 bagi anak jalanan berbeda dengan kita. Mereka harus mengamen, di bawah terik matahari, di perempatan panas, bising dan berdebu.
Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua. Semoga langkah mereka untuk berbenah dimudahkan oleh Allah SWT. Bersedekah tak harus menunggu kita kaya. Tak perlu menunggu memiliki pekerjaan tetap lalu bersedekah. Tak perlu menunggu seluruh kebutuhan terpenuhi baru menyisihkan sumbangan. Tapi, kapan pun jiwa ini ingin mendekat kepada Alllah, ingin bertobat, ingin berbenah dan menyicikan batin, maka bersedekahlah. Bahkan boleh jadi, sedekah kita itu yang kelak membuka pintu makrifat, membuat kita mencapai kebahagiaan dunia-akhirat dan menyelamatkan kita dari neraka.
Rasulullah SAW bersabda,
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).
Nabi SAW juga bersabda: “Sesungguhnya sedekahnya orang Muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su’ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri“. (HR. Thabrani).
Semoga bermanfaat


TAK ADA BATAS UJUNG MAKRIFAT

Allah SWT berfirman kepada Dawud a.s.:
"Aku bersumpah pada diri-Ku sendiri bahwa Aku tidak akan memberi pahala kecuali kepada hamba yang sudah Aku ketahui semangat pencarian dan kehendaknya untuk memeluk-Ku dan terus menerus membutuhkan Aku. Jika engkau melakukan itu, maka Aku akan mencabut kehinaan dan kebringasan dari dirimu. Aku pun menjadikan hatimu kaya raya.

Aku bersumpah pada diri-Ku sendiri bahwa hamba-Ku tidak akan pernah merasa tentram melihat semua perbuatannya sendiri sampai Aku menunjuknya sebagai wakil-Ku yang mengerjakan semua perbuatan itu.
Sandarkanlah semua urusan kepada-Ku. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berlawanan agar engkau tidak merasa lelah.
Siapa pun teman yang bersamamu tidak akan memberimu manfaat apa-apa. Engkau tak akan pernah menemukan batas akhir makrifat, sebab memang tidak ada batas ujungnya.
Jika engkau terus menerus meminta tambahan makrifat, maka pasti Aku berikan juga. Sayangnya, kau tak akan pernah mencapai batas akhir tambahan-Ku itu."

--Dikutip dari Kitab Mahabbah, Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazal