Rabu, 04 Oktober 2017

JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN ALLAH

"Ingatlah, jangan sampai engkau ikut mengatur bersama Allah. Orang yang ikut mengatur bersama Allah seperti orang yang diutus majikannya ke suatu daerah untuk membuatkan beberapa baju baginya. Si pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan setibanya di sana ia bertanya: 'Di mana aku akan tinggal? Siapa yang akan kunikahi?' Ia sibuk dengan berbagai urusan itu sehingga melupakan mengerjakan tugas yang diamanatkan majikannya. Ketika dipanggil pulang, balasan yang akan ia dapat dari majikannya adalah pemecatan dan murka sang majikan.
Itulah balasan bagi orang yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lalai terhadap hak sang majikan. Wahai mukmin, keadaanmu pun seperti itu. Allah telah mengirimmu ke dunia ini. Dia memerintahkanmu untuk mengabdi kepada-Nya. Pada saat yang sama, Dia juga mengatur dan mengurusi semua kebutuhanmu. Tapi, jika engkau sibuk dengan urusan sendiri sehingga melalaikan hak-hak Tuhan, berarti engkau telah menyimpang dari garis petunjuk dan meniti jalan kebinasaan.
Orang yang ikut mengatur bersama Allah dan orang yang menyerahkan urusan kepada Allah seperti dua pelayan raja. Pelayan pertama sibuk memenuhi perintah raja. Ia tidak dipalingkan oleh urusan pakaian dan makanan, dan yang ada di benaknya hanyalah bagaimana mengabdi dengan baik kepada sang majikan. Ia tidak sibuk dengan urusan dan kepentingan dirinya sendiri.
Sementara, pelayan kedua banyak disibukkan urusan dan kepentingan dirinya sendiri sehingga setiap kali dibutuhkan oleh sang majikan, ia malah sibuk mencuci pakaiannya, berkendara, atau memperbagus pakaiannya.
Tentu saja pelayan pertama lebih berhak mendapat perhatian sang majikan daripada yang kedua. Si majikan tidak membeli pelayan itu kecuali agar ia mengabdi kepadanya. Demikian pula hamba yang cermat dan mendapat taufik. Ia lebih sibuk menunaikan hak-hak Allah dan menjalankan perintah-Nya ketimbang memperhatikan keinginan dan tuntutan pribadi.
Dalam kondisi semacam itu Allah yang akan mengurusi semua kebutuhannya dan akan memberinya berbagai karunia karena ia jujur dan bertawakal. Ini sesuai dengan firman Allah: 'Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupinya.' (QS At-Thalaq 65: 3). Sementara, orang yang lalai tidak seperti itu. Ia akan selalu sibuk mencari dunia dan berbagai hal yang dapat memenuhi keinginan nafsunya."

--Syekg Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-'Arus

BERSERAH DIRI DAN KUATKAN TAUHIDMU!

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu, memberi nasihat kepada kita agar berserahdiri kepada Allah secara total dan menguatkan keyakinan tauhid. Pengukuhan pada keesaan Allah harus menjadi gairah ruhani para salik. Beliau mengatakan, “Orang yang mengukuhkan keesaan Tuhan akan mengalami penyatuan (man wahhada tawahhada). Orang yang mencari (menuntut ilmu) dan berjuang sungguh-sungguh maka akan mendapatkan (man thalaba wa jadda wajada).
Jika seseorang menyerahkan dirinya dan tunduk serta patuh kepada-Nya, maka orang itu akan aman dan selamat (man aslama wa taslama, salima).
Jika seseorang menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, dia akan dibantu untuk berhasil (man wafaqa wuffiqa).
Namun, jika seseorang “bertengkar” dengan takdir (qadar), dia akan dipukul hingga binasa. Ketika Firʽaun bertengkar dengan takdir dan menginginkan agar ilmu Allah diubah, maka Allah lalu membinasakannya dan menenggelamkannya di laut, dan menjadikan Mûsâ dan Harun tetap hidup.
Ketika ibu Mûsâ merasa takut kepada algojo-algojo yang disuruh Firʽaun menyembelih setiap bayi yang baru lahir, maka Allah lalu memberinya ilham agar dia melemparkannya ke laut. Tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Mûsâ a.s. maka kepadanya dikatakan:
وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ[القصص :٧]
“Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sebab Kami akan membawa dia kembali kepadamu,dan Kami akan menjadikannya salah seorang rasul,” (QS Al-Qashash (28):7).

(Dengan perkataan lain:) “Janganlah engkau takut, sebab hatimu akan ditenangkan, dan wujud terdalammu (sirr) akan diistirahatkan. Janganlah engkau takut bahwa dia akan tenggelam atau binasa, sebab Kami akan mengembalikan dia kepadamu. Melalui dia kami akan mengubah kemiskinanmu menjadi kekayaan.”
Karena itu, Ibu Mûsâ a.s. lalu mempersiapkan sebuah peti (tâbût) baginya, lalu meletakkannya di dalamnya, dan melemparkan peti itu ke laut. Lalu peti itu mengapung di atas air sampai mencapai istana, di mana ia diambil oleh pelayan-pelayan Firʽaun dan istrinya, Ȃsiyah.
Segera sesudah mereka membuka peti itu, mereka pun melihat bahwa peti itu berisi seorang bayi laki-laki. Mereka semua menyukainya, dan hati mereka penuh dengan rasa sayang kepadanya.
Maka mereka pun lalu menggosok bayi itu dengan minyak, mengganti popoknya dan memberinya baju baru. Dia menjadi salah seorang manusia yang paling dicintai oleh Ȃsiyah dan para pelayannya, dan dia juga dicintai oleh setiap anggota pengiring Firʽaun yang kebetulan melihatnya. Ini menjelaskan makna firman Allah Swt.:
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي )طه: ٣٩  (
“Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku,” (QS Thâ Hâ (20) :39)
Dikatakan bahwa siapa pun yang memandang ke mata Mûsâ pasti jatuh cinta kepadanya. Kemudian Dia mengembalikannya kepada ibunya dan membesarkannya di istana Firʽaun, bertentangan dengan kehendak Firʽaun sendiri, yang terbukti tidak mampu membinasakannya. Apabila seseorang telah dipilih dan dipelihara oleh Tuhan untuk Diri-Nya sendiri, bagaimana bisa orang membinasakannya? Bagaimana bisa orang membantainya? Bagaimana bisa air menenggelamkannya?
Dia dijaga dalam penjagaan-Nya dan berbicara dengan-Nya secara langsung. Apabila seseorang dicintai oleh Tuhan Yang Maha Benar, siapa yang bisa membencinya? Siapa yang bisa mendatangkan bahaya kepadanya? Siapa yang mampu menelantarkannya? Siapa yang bisa menjadikannya kaya? Siapa yang bisa menjadikannya miskin? Siapa yang bisa mengangkatnya ke derajat yang tinggi? Siapa yang akan mampu memecatnya? Siapa yang bisa mendekatkannya? Siapa yang akan mampu menjauhkannya?
Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu kedekatan-Mu. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mengabdi dan taat kepada-Mu, ke dalam kalangan mereka yang bertakwa sepenuhnya kepada-Mu, dan ke dalam kalangan tentara-Mu. Izinkanlah kami duduk di tikar dimana makanan anugerah-Mu disuguhkan, dan izinkanlah kami memuaskan dahaga kami dengan minuman persahabatan akrab-Mu. “Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa neraka!” (QS Al-Baqarah (2) :201)

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir--

MARI BERTAWASSUL KEPADA RASULULLAH

Menurut Mufti Agung Mesir, Prof Ali Jum’ah, begitu banyak dalil tawassul yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat. Salah satunya adalah tawassul dengan amal shaleh seperti yang pernah diajarkan Nabi pada hadis shahih berikut ini. Pernah juga seorang sahabat bertawassul kepada Nabi dengan berdoa dan mendatangi makam Rasulullah untuk minta diturunkan hujan. Bahkan, Imam Malik, seorang ahli hadis dan imam mazhab fikih pun mencontohkan cara bertawassul kepada kita.
Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berdoa ketika ia keluar dari rumah untuk shalat (di masjid), hendaklah berkata: ‘Ya Allah…Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan semua orang yang memohon kepada-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dengan perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar (menuju ke masjid) dengan sifat angkuh, sombong, riya dan sum’ah. Aku keluar menuju masjid demi menghindari murka-Mu dan mengharap ridha-Mu.
Aku mohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari siksa neraka dan mengampuni semua dosa-dosaku. Karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni semua dosa, kecuali Engkau, ya Allah.‘
Maka Allah Ta’ala akan menurunkan 70.000 malaikat untuk memintakan ampunan ampunan baginya, dan Allah akan selalu mengawasinya sampai ia telah selesai mengerjakan shalatnya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
Hadis ini jelas menunjukkan dibolehkannya bertawassul kepada Allah dalam doa dengan menggunakan amal shaleh yang kita kerjakan. Perjalanan orang yang dalam keadaan suci, berwudhu untuk shalat di masjid adalah satu bentuk tawassul.
Begitu juga dengan perbuatan orang-orang shaleh yang memohon kepada Allah SWT adalah juga merupakan salah satu bentuk tawassul.
Bahkan, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Nabi pernah bertawassul kepada Rasulullah SAW dengan datang ke makam baginda Nabi. Kejadian ini terekam pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf.
Sahabat Malik Ad-Dar, seorang bendahara Khalifah Umar bin Khattab r.a., menuturkan, “Musim paceklik melanda Kaum Muslimin di masa Khalifah Umar bin Khattab.

Lalu, datang seorang sahabat bernama Bilal bin Harits Al-Muzani mengunjungi makam Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu ini, karena sesungguhnya mereka benar-benar akan binasa.’ Kemudian, Rasulullah SAW menemuinya dalam mimpi. Beliau bersabda, “Temuilah Umar! Sampaikanlah salamku kepadanya! Kabarkan kepadanya bahwa hujan akan segera turun untuk mereka! Dan, katakan kepadanya, bersungguh-sungguhlah melayani umat!”
Kemudian, sahabat itu pun pergi menemui Khalifah Umar r.a. dan menceritakan apa yang telah dilakukannya, dan menceritakan mimpi yang telah dialaminya. Umar r.a. menangis, lalu berkata, “Ya Allah, aku tidak akan ceroboh lagi, kecuali apa yang aku tidam mampu lakukan.” (HR Ibnu Abi Syaibah). Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Imam Malik r.a. pernah ditanya oleh Abu Ja’far Al-Manshur Al-Abbasi, “Wahai Abu Abdullah, apakah aku menghadap Rasulullah SAW, lalu aku berdoa, ataukah aku menghadap ke arah kiblat, lalu aku berdoa?”
Imam Malik menjawab, “Mengapa engkau mau memalingkan wajahmu darinya (Rasulullah SAW), sedangkan beliau adalah wasilahmu, dan wasilah kakek-moyangmu Adam a.s. kepada Allah kelak di Hari Kiamat? Maka, hadapkanlah kepadanya, mintalah syafaat kepadanya, niscaya Allah akan mengabulkan syafaatmu.”
Kisah ini terekam dalam kitab Fadhailu Malik karya Abu Al-Hasan Ali bin Fahr dan kitab Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad. Konsensus empat Imam Mazhab fikih dalam Ahlussunnah wal jamaah pun menunjukkan bahwa tawassul kepada baginda Rasulullah SAW itu dibolehkan bahkan dianggap sunnah, baik ketika beliau masih hidup ataupun sudah wafat. Bertawassul kepada Nabi SAW melalui rangkaian doa merupakan sunnah.

--Prof Dr. Ali Jum’ah, Al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaaqasyatu Ahammi Qadhaayahum (Menjawab Dakwah Kaum Salafi)

Senin, 02 Oktober 2017

JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN ALLAH

"Ingatlah, jangan sampai engkau ikut mengatur bersama Allah. Orang yang ikut mengatur bersama Allah seperti orang yang diutus majikannya ke suatu daerah untuk membuatkan beberapa baju baginya. Si pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan setibanya di sana ia bertanya: 'Di mana aku akan tinggal? Siapa yang akan kunikahi?' Ia sibuk dengan berbagai urusan itu sehingga melupakan mengerjakan tugas yang diamanatkan majikannya. Ketika dipanggil pulang, balasan yang akan ia dapat dari majikannya adalah pemecatan dan murka sang majikan.
Itulah balasan bagi orang yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lalai terhadap hak sang majikan. Wahai mukmin, keadaanmu pun seperti itu. Allah telah mengirimmu ke dunia ini. Dia memerintahkanmu untuk mengabdi kepada-Nya. Pada saat yang sama, Dia juga mengatur dan mengurusi semua kebutuhanmu. Tapi, jika engkau sibuk dengan urusan sendiri sehingga melalaikan hak-hak Tuhan, berarti engkau telah menyimpang dari garis petunjuk dan meniti jalan kebinasaan.
Orang yang ikut mengatur bersama Allah dan orang yang menyerahkan urusan kepada Allah seperti dua pelayan raja. Pelayan pertama sibuk memenuhi perintah raja. Ia tidak dipalingkan oleh urusan pakaian dan makanan, dan yang ada di benaknya hanyalah bagaimana mengabdi dengan baik kepada sang majikan. Ia tidak sibuk dengan urusan dan kepentingan dirinya sendiri.
Sementara, pelayan kedua banyak disibukkan urusan dan kepentingan dirinya sendiri sehingga setiap kali dibutuhkan oleh sang majikan, ia malah sibuk mencuci pakaiannya, berkendara, atau memperbagus pakaiannya.
Tentu saja pelayan pertama lebih berhak mendapat perhatian sang majikan daripada yang kedua. Si majikan tidak membeli pelayan itu kecuali agar ia mengabdi kepadanya. Demikian pula hamba yang cermat dan mendapat taufik. Ia lebih sibuk menunaikan hak-hak Allah dan menjalankan perintah-Nya ketimbang memperhatikan keinginan dan tuntutan pribadi.
Dalam kondisi semacam itu Allah yang akan mengurusi semua kebutuhannya dan akan memberinya berbagai karunia karena ia jujur dan bertawakal. Ini sesuai dengan firman Allah: 'Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupinya.' (QS At-Thalaq 65: 3). Sementara, orang yang lalai tidak seperti itu. Ia akan selalu sibuk mencari dunia dan berbagai hal yang dapat memenuhi keinginan nafsunya."

--Syekg Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-'Arus

Minggu, 01 Oktober 2017

DAN BILA TOBAT, SYUKUR & SABAR SAMPAI KEPADANYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Seharusnya kesibukan seorang Mukmin itu dengan berdzikir mengingat Allah, kembali kepada-Nya, mengingat dosa-dosanya, memohon ampunan-Nya, dan mencela nafsunya sendiri. Ketika selesai mengerjakan semua itu, ia akan kembali kepada qadha dan qadar Tuhannya. Lalu ia berkata,”Ini adalah qadha dan qadar-Nya. Dan, ini sudah ditetapkan Allah untukku.”
Dia akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam kalbunyaa, bukan lisannya saja. Ketika berada dalam keadaan seperti ini dengan kedua mata tertutup, ia akan mendapati dinding itu hilang. Pada saat ia membuka kedua matanya, pintu dinding itu terbuka, segala bahaya berubah menjadi nikmat, tempat yang sempit menjadi lapang, kesakitan menjadi keselamatan, dan kehancuran menjadi istana.
Semua itu menjadi bukti kebenaran firman Allah SWT, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka..” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Seorang hamba akan tetap menerima nikmat dengan rasa syukur, menerima ujian dengan sikap ridha, mengakui segala salah dan dosa, serta mencela diri sendiri sampai langkah kalbunya berakhir kepada Rabb-nya.
Dia terus melangkan dengan dengan amal kebaikan dan tobat dari segala kesalahan, sampai ia mencapai pintu Rabb-nya; mensyukuri nikmat-Nya dan bersabar menghadapi ujian sampai ia mencapai pintu Rabb-nya.
Jika telah sampai disana, dia akan melihat sesuatu yang belum pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam akal manusia.
Jika kalbu seorang hamba sampai kepada Rabb-nya, maka tobat, syukur, sabar, amal baik, lelah dan rasa sakit akan sampai kepada-Nya. Seperti seorang musafir yang telah berhenti di tempat tujuan dan rumahnya kembali hingga yang tersisa adalah mujalasah, mujanasah, musyahadah, muhadatsah dan melihat segala rahasia.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab Jala’ Al-Khathir

BUKAN SEKADAR CINTA BIASA

Menurut Imam Al-Ghazali, Allah SWT pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s.: “Wahai Dawud! Sampai kapan engkau menyebut-nyebut surga dan tak pernah meminta perasaan rindu kepada-Ku?”
Nabi Dawud a.s. bertanya, “Siapakah orang-orang yang merindukan-Mu, ya Allah?
Lalu, Allah menjawab, “Orang-orang yang merindukan-Ku adalah mereka yang Aku bersihkan dari segala kotoran dan Aku peringatkan mereka agar selalu waspada dan berhati-hati. Aku lubangi hati mereka agar mereka dapat melihat-Ku. Aku genggam hati mereka dengan tangan-Ku dan Aku letakkan di lapisan-lapisan langit-Ku. Lalu, Aku panggil malaikat-malaikat-Ku. Setelah berkumpul, mereka lalu bersujud kepada-Ku.
Lalu, Aku katakan kepada mereka: “Aku memanggil kalian bukan untuk bersujud kepada-Ku. Aku memanggil kalian semua untuk mempertunjukkan hati orang-orang yangmerindukan-Ku.”
Sungguh Aku bangga kepada kalian, wahai orang-orang yang merindukan-Ku. Hati kalian menyinari malaikat-malaikat-Ku di seluruh penjuru langit-Ku, sebagaimana matahari menyinari bumi.
Wahai Dawud! Aku ciptakan hati orang yang merindukan-Ku itu dari keridhaan-Ku. Aku pun menganugerahkan hati itu cahaya wajah-Ku. Aku jadikan mereka juru bicara-Ku dan Aku jadikan tubuh mereka tempat Aku memandangi bumi. Aku lukai hati mereka sebagai jalan untuk melihat-Ku sehingga kerinduan mereka terus-menerus bertambah setiap hari.”

--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Ridha

RENUNGAN MALAM UNTUK SAHABAT


Syekh Abdul.Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai anak muda! Janganlah berkonsentrasi pada mencuci pakaian jasadmu, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu.

Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
Engkau tidak boleh membiarkan dirimu silau oleh apa pun, sebab Tuhanmu “melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS 11:107).

Itulah sebabnya diceritakan sebuah kisah tentang seorang saleh, bagaimana suatu ketika ia mengunjungi saudaranya seiman kepada Allah. “Wahai saudaraku,” katanya kepada saudaranya itu. “Marilah kita menangis atas pengetahuan Allah tentang kita!”
Alangkah bagusnya ucapan orang saleh ini! Dia adalah orang yang memiliki pengenalan (‘ârîf) tentang Allah dan telah mendengat kata-kata Nabi SAW: “Salah seorang di antara kalian mungkin beramal dengan amalan ahli surga, sampai tak ada jarak antara dia dan surga itu kecuali satu jengkal saja, kemudian kemalangan menimpanya dan dia menjadi salah seorang penghuni neraka, sampai tak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal saja, kemudian keberuntungan mengenainya dan dia menjadi salah seorang penghuni surga.”
Pengetahuan Allah tentang dirimu hanya akan tampak kepadamu manakala engkau berpaling lagi kepada-Nya dengan segenap hati dan aspirasimu, manakala engkau tidak pernah menjauhi pintu rahmat-Nya, manakala engkau memasang penghalang dari besi antara hatimu dan nafsu badaniahmu, dan manakala engkau menjadikan maut dan kuburan sebagai titik pusat perhatian bagi mata kepala dan mata hatimu.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir