Rabu, 04 Oktober 2017

MARI BERTAWASSUL KEPADA RASULULLAH

Menurut Mufti Agung Mesir, Prof Ali Jum’ah, begitu banyak dalil tawassul yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat. Salah satunya adalah tawassul dengan amal shaleh seperti yang pernah diajarkan Nabi pada hadis shahih berikut ini. Pernah juga seorang sahabat bertawassul kepada Nabi dengan berdoa dan mendatangi makam Rasulullah untuk minta diturunkan hujan. Bahkan, Imam Malik, seorang ahli hadis dan imam mazhab fikih pun mencontohkan cara bertawassul kepada kita.
Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berdoa ketika ia keluar dari rumah untuk shalat (di masjid), hendaklah berkata: ‘Ya Allah…Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan semua orang yang memohon kepada-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dengan perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar (menuju ke masjid) dengan sifat angkuh, sombong, riya dan sum’ah. Aku keluar menuju masjid demi menghindari murka-Mu dan mengharap ridha-Mu.
Aku mohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari siksa neraka dan mengampuni semua dosa-dosaku. Karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni semua dosa, kecuali Engkau, ya Allah.‘
Maka Allah Ta’ala akan menurunkan 70.000 malaikat untuk memintakan ampunan ampunan baginya, dan Allah akan selalu mengawasinya sampai ia telah selesai mengerjakan shalatnya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
Hadis ini jelas menunjukkan dibolehkannya bertawassul kepada Allah dalam doa dengan menggunakan amal shaleh yang kita kerjakan. Perjalanan orang yang dalam keadaan suci, berwudhu untuk shalat di masjid adalah satu bentuk tawassul.
Begitu juga dengan perbuatan orang-orang shaleh yang memohon kepada Allah SWT adalah juga merupakan salah satu bentuk tawassul.
Bahkan, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Nabi pernah bertawassul kepada Rasulullah SAW dengan datang ke makam baginda Nabi. Kejadian ini terekam pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf.
Sahabat Malik Ad-Dar, seorang bendahara Khalifah Umar bin Khattab r.a., menuturkan, “Musim paceklik melanda Kaum Muslimin di masa Khalifah Umar bin Khattab.

Lalu, datang seorang sahabat bernama Bilal bin Harits Al-Muzani mengunjungi makam Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu ini, karena sesungguhnya mereka benar-benar akan binasa.’ Kemudian, Rasulullah SAW menemuinya dalam mimpi. Beliau bersabda, “Temuilah Umar! Sampaikanlah salamku kepadanya! Kabarkan kepadanya bahwa hujan akan segera turun untuk mereka! Dan, katakan kepadanya, bersungguh-sungguhlah melayani umat!”
Kemudian, sahabat itu pun pergi menemui Khalifah Umar r.a. dan menceritakan apa yang telah dilakukannya, dan menceritakan mimpi yang telah dialaminya. Umar r.a. menangis, lalu berkata, “Ya Allah, aku tidak akan ceroboh lagi, kecuali apa yang aku tidam mampu lakukan.” (HR Ibnu Abi Syaibah). Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Imam Malik r.a. pernah ditanya oleh Abu Ja’far Al-Manshur Al-Abbasi, “Wahai Abu Abdullah, apakah aku menghadap Rasulullah SAW, lalu aku berdoa, ataukah aku menghadap ke arah kiblat, lalu aku berdoa?”
Imam Malik menjawab, “Mengapa engkau mau memalingkan wajahmu darinya (Rasulullah SAW), sedangkan beliau adalah wasilahmu, dan wasilah kakek-moyangmu Adam a.s. kepada Allah kelak di Hari Kiamat? Maka, hadapkanlah kepadanya, mintalah syafaat kepadanya, niscaya Allah akan mengabulkan syafaatmu.”
Kisah ini terekam dalam kitab Fadhailu Malik karya Abu Al-Hasan Ali bin Fahr dan kitab Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad. Konsensus empat Imam Mazhab fikih dalam Ahlussunnah wal jamaah pun menunjukkan bahwa tawassul kepada baginda Rasulullah SAW itu dibolehkan bahkan dianggap sunnah, baik ketika beliau masih hidup ataupun sudah wafat. Bertawassul kepada Nabi SAW melalui rangkaian doa merupakan sunnah.

--Prof Dr. Ali Jum’ah, Al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaaqasyatu Ahammi Qadhaayahum (Menjawab Dakwah Kaum Salafi)

Senin, 02 Oktober 2017

JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN ALLAH

"Ingatlah, jangan sampai engkau ikut mengatur bersama Allah. Orang yang ikut mengatur bersama Allah seperti orang yang diutus majikannya ke suatu daerah untuk membuatkan beberapa baju baginya. Si pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan setibanya di sana ia bertanya: 'Di mana aku akan tinggal? Siapa yang akan kunikahi?' Ia sibuk dengan berbagai urusan itu sehingga melupakan mengerjakan tugas yang diamanatkan majikannya. Ketika dipanggil pulang, balasan yang akan ia dapat dari majikannya adalah pemecatan dan murka sang majikan.
Itulah balasan bagi orang yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lalai terhadap hak sang majikan. Wahai mukmin, keadaanmu pun seperti itu. Allah telah mengirimmu ke dunia ini. Dia memerintahkanmu untuk mengabdi kepada-Nya. Pada saat yang sama, Dia juga mengatur dan mengurusi semua kebutuhanmu. Tapi, jika engkau sibuk dengan urusan sendiri sehingga melalaikan hak-hak Tuhan, berarti engkau telah menyimpang dari garis petunjuk dan meniti jalan kebinasaan.
Orang yang ikut mengatur bersama Allah dan orang yang menyerahkan urusan kepada Allah seperti dua pelayan raja. Pelayan pertama sibuk memenuhi perintah raja. Ia tidak dipalingkan oleh urusan pakaian dan makanan, dan yang ada di benaknya hanyalah bagaimana mengabdi dengan baik kepada sang majikan. Ia tidak sibuk dengan urusan dan kepentingan dirinya sendiri.
Sementara, pelayan kedua banyak disibukkan urusan dan kepentingan dirinya sendiri sehingga setiap kali dibutuhkan oleh sang majikan, ia malah sibuk mencuci pakaiannya, berkendara, atau memperbagus pakaiannya.
Tentu saja pelayan pertama lebih berhak mendapat perhatian sang majikan daripada yang kedua. Si majikan tidak membeli pelayan itu kecuali agar ia mengabdi kepadanya. Demikian pula hamba yang cermat dan mendapat taufik. Ia lebih sibuk menunaikan hak-hak Allah dan menjalankan perintah-Nya ketimbang memperhatikan keinginan dan tuntutan pribadi.
Dalam kondisi semacam itu Allah yang akan mengurusi semua kebutuhannya dan akan memberinya berbagai karunia karena ia jujur dan bertawakal. Ini sesuai dengan firman Allah: 'Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupinya.' (QS At-Thalaq 65: 3). Sementara, orang yang lalai tidak seperti itu. Ia akan selalu sibuk mencari dunia dan berbagai hal yang dapat memenuhi keinginan nafsunya."

--Syekg Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-'Arus

Minggu, 01 Oktober 2017

DAN BILA TOBAT, SYUKUR & SABAR SAMPAI KEPADANYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Seharusnya kesibukan seorang Mukmin itu dengan berdzikir mengingat Allah, kembali kepada-Nya, mengingat dosa-dosanya, memohon ampunan-Nya, dan mencela nafsunya sendiri. Ketika selesai mengerjakan semua itu, ia akan kembali kepada qadha dan qadar Tuhannya. Lalu ia berkata,”Ini adalah qadha dan qadar-Nya. Dan, ini sudah ditetapkan Allah untukku.”
Dia akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam kalbunyaa, bukan lisannya saja. Ketika berada dalam keadaan seperti ini dengan kedua mata tertutup, ia akan mendapati dinding itu hilang. Pada saat ia membuka kedua matanya, pintu dinding itu terbuka, segala bahaya berubah menjadi nikmat, tempat yang sempit menjadi lapang, kesakitan menjadi keselamatan, dan kehancuran menjadi istana.
Semua itu menjadi bukti kebenaran firman Allah SWT, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka..” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Seorang hamba akan tetap menerima nikmat dengan rasa syukur, menerima ujian dengan sikap ridha, mengakui segala salah dan dosa, serta mencela diri sendiri sampai langkah kalbunya berakhir kepada Rabb-nya.
Dia terus melangkan dengan dengan amal kebaikan dan tobat dari segala kesalahan, sampai ia mencapai pintu Rabb-nya; mensyukuri nikmat-Nya dan bersabar menghadapi ujian sampai ia mencapai pintu Rabb-nya.
Jika telah sampai disana, dia akan melihat sesuatu yang belum pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam akal manusia.
Jika kalbu seorang hamba sampai kepada Rabb-nya, maka tobat, syukur, sabar, amal baik, lelah dan rasa sakit akan sampai kepada-Nya. Seperti seorang musafir yang telah berhenti di tempat tujuan dan rumahnya kembali hingga yang tersisa adalah mujalasah, mujanasah, musyahadah, muhadatsah dan melihat segala rahasia.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab Jala’ Al-Khathir

BUKAN SEKADAR CINTA BIASA

Menurut Imam Al-Ghazali, Allah SWT pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s.: “Wahai Dawud! Sampai kapan engkau menyebut-nyebut surga dan tak pernah meminta perasaan rindu kepada-Ku?”
Nabi Dawud a.s. bertanya, “Siapakah orang-orang yang merindukan-Mu, ya Allah?
Lalu, Allah menjawab, “Orang-orang yang merindukan-Ku adalah mereka yang Aku bersihkan dari segala kotoran dan Aku peringatkan mereka agar selalu waspada dan berhati-hati. Aku lubangi hati mereka agar mereka dapat melihat-Ku. Aku genggam hati mereka dengan tangan-Ku dan Aku letakkan di lapisan-lapisan langit-Ku. Lalu, Aku panggil malaikat-malaikat-Ku. Setelah berkumpul, mereka lalu bersujud kepada-Ku.
Lalu, Aku katakan kepada mereka: “Aku memanggil kalian bukan untuk bersujud kepada-Ku. Aku memanggil kalian semua untuk mempertunjukkan hati orang-orang yangmerindukan-Ku.”
Sungguh Aku bangga kepada kalian, wahai orang-orang yang merindukan-Ku. Hati kalian menyinari malaikat-malaikat-Ku di seluruh penjuru langit-Ku, sebagaimana matahari menyinari bumi.
Wahai Dawud! Aku ciptakan hati orang yang merindukan-Ku itu dari keridhaan-Ku. Aku pun menganugerahkan hati itu cahaya wajah-Ku. Aku jadikan mereka juru bicara-Ku dan Aku jadikan tubuh mereka tempat Aku memandangi bumi. Aku lukai hati mereka sebagai jalan untuk melihat-Ku sehingga kerinduan mereka terus-menerus bertambah setiap hari.”

--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Ridha

RENUNGAN MALAM UNTUK SAHABAT


Syekh Abdul.Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai anak muda! Janganlah berkonsentrasi pada mencuci pakaian jasadmu, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu.

Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
Engkau tidak boleh membiarkan dirimu silau oleh apa pun, sebab Tuhanmu “melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS 11:107).

Itulah sebabnya diceritakan sebuah kisah tentang seorang saleh, bagaimana suatu ketika ia mengunjungi saudaranya seiman kepada Allah. “Wahai saudaraku,” katanya kepada saudaranya itu. “Marilah kita menangis atas pengetahuan Allah tentang kita!”
Alangkah bagusnya ucapan orang saleh ini! Dia adalah orang yang memiliki pengenalan (‘ârîf) tentang Allah dan telah mendengat kata-kata Nabi SAW: “Salah seorang di antara kalian mungkin beramal dengan amalan ahli surga, sampai tak ada jarak antara dia dan surga itu kecuali satu jengkal saja, kemudian kemalangan menimpanya dan dia menjadi salah seorang penghuni neraka, sampai tak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal saja, kemudian keberuntungan mengenainya dan dia menjadi salah seorang penghuni surga.”
Pengetahuan Allah tentang dirimu hanya akan tampak kepadamu manakala engkau berpaling lagi kepada-Nya dengan segenap hati dan aspirasimu, manakala engkau tidak pernah menjauhi pintu rahmat-Nya, manakala engkau memasang penghalang dari besi antara hatimu dan nafsu badaniahmu, dan manakala engkau menjadikan maut dan kuburan sebagai titik pusat perhatian bagi mata kepala dan mata hatimu.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

HINDARI CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Syarat cinta adalah engkau mempunyai keinginan bersama Dzat Yang kaucintai. Lalu, engkau tak berpaling dari-Nya, baik karena dunia, akhirat ataupun makhluk. Kecintaan kepada Allah bukanlah sesuatu yang ringan sehingga bisa diklaim oleh setiap orang.

Betapa banyak orang yang mengklaim cinta kepada Allah, tetapi justru jauh dari-Nya? Begitu banyak orang yang tidak mengklaim cinta kepada Allah, tetapi justru ada di sisi-Nya?
Maka, janganlah meremehkan seorang Muslim pun, sebab berbagai rahasia Allah tersebar pada mereka. Bersikaplah tawadhu dan jangan bersikap takabur atas hamba-hamba Allah. Sadarilah kelalainmu! Sebab engkau tidak lain kecuali berada dalam kelalaian yang sangat parah; seolah-olah shirat benar-benar telah terperikan dan tergambarkan pada dirimu dan seolah-olah engkau telah melihat tempatmu di surga. Ini sebuah keterpedayaan yang sangat luar biasa.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

25 MANFAAT ISTIGFAR


1 Membuat Allah Gembira
Rasulullah saw bersabda, “Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya seperti kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2 Dicintai Allah
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda, “Orang yang bertobat adalah kekasih Allah. Orang yang bertobat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak berdosa. “(HR.Ibnu Majah)
3 Dosa-dosanya diampuni
Rasulullah bersabda, “Allah telah berfirman,” Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosanya , maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (berapa banyak dosanya). “(HR.Ibnu Majah, Tirmidzi)
Imam Qatadah berkata, “Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar. “(Kitab Ihya’Ulumiddin: 1/410).
4 Selamat dari api neraka
Hudzaifah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan aku masuk neraka ‘. Bersabda, ‘Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam ‘. “(HR. Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).
5 Mendapat balasan surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. “(QS. Ali’Imran: 135-136).
6 Membuat kecewa setan
Sesungguhnya setan telah berkata, “Demi kemuliaan-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya, “Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku.” (HR.Ahmad dan al-Hakim).
7 Membuat setan putus asa
Ali bin Abi Thalib pernah didatangi oleh seseorang, “Saya telah melakukan dosa ‘.’ Bertobatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi ‘, kata Ali. Orang itu menjawab,’ Saya telah bertobat, tapi setelah itu saya berdosa lagi ‘. Ali berkata , ‘Bertobatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’. Orang itu bertanya lagi, ‘Sampai kapan?’ Ali menjawab, ‘Sampai setan berputus asa dan merasa rugi. “(Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).
8 Meredam Azab
Allah berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS.al-Anfal: 33).
9 Mengusir kesedihan
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
10 Melapangkan kesempitan
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan untuk setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” (HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
11 Melancarkan rezeki
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
12 Membersihkan hati
Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Ketika ia bertobat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya. “(HR.Nasa ‘i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).
13 Mengangkat derajat di surga
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata, ‘Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Allah berkata, ‘Karena istighfar anakmu untukmu’. “(HR.Ahmad dengan sanad hasan).
14 Mengikuti Sunnah Rasul
Abu Hurairah berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.” (HR.Bukhari).
15 Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah
Rasulullah bersabda, “Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).
16 Bersifat sebagai hamba Allah yang sejati
Allah berfirman, “Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap tak at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur. “(QS.Ali ‘Imran: 15-17).
17 Terhindari dari menjadi orang yang dzalim
Allah berfirman, “… Barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang Dzalim.” (QS. al-Hujurat: 11)
18 Mudah mendapatkan anak
Allah berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka:” Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai. “(QS.Nuh: 10-12).
19 Mudah mendapatkan hujan
Ibnu Shabih berkata, “Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. (Kitab Fathul Bari: 11/98)
20 Bertambah kekuatannya
Allah berfirman, “Dan (dia berkata):” Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa. ” (QS. Hud: 52)
21 Bertambah kesejahteraannya
Allah berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka:” Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. “(QS.Nuh: 10-12).
22 Menjadi orang yang beruntung
Allah berfirman, “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.an-Nur: 31).
Aisyah berkata, “Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.” (HR.Bukhari).
23 Keburukannya diganti dengan kebaikan
Allah berfirman, “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Furqan: 70).
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore) dan pada bagian awal dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. “(QS. Hud: 114).
24 Tanda sebagai orang mukmin
Rasulullah bersabda, “Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Allah, maka dia adalah seorang Mukmin. “(HR.Ahmad ).
25 Berkepribadian sebagai orang bijak

Seorang ulama berkata, “Tanda orang yang arif (bijaksana) itu ada enam. Bila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Bila menyebut dirinya, ia merasa hina. Bila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Bila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Ketika disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan ketika mengingat dosanya, ia segera beristighfar. “