Rabu, 13 Juli 2016

ADAB AGAR SAMPAI KEPADA ALLAH

Syekh Abdul-Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan;
"Makna sampai (wushul) kepada Allah SWT adalah terputusnya hubunganmu dengan sesama makhluk, hawa nafsu, keinginan, dan setiap cita-cita, serta tetap istiqamah dengan apa yang ia lakukan, tanpa adanya gejolak sedikit pun dalam dirimu tentang mereka dan dalam diri mereka tentang dirimu.
Tetapi, semuanya itu menurut kehendak hukum Allah, perintah, dan ketentuan-Nya. Keadaan ini adalah suatu keadaan fana yang diungkapkan dengan kata wushul (sampai). Wushul kepada Allah SWT itu tidak sama dengan wushul kepada salah seorang makhluk yang dapat diterima akal dan dapat diketahui. 
Allah SWT berfirman,
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syura: 11).
Sungguh terlalu agung Dzat Pencipta untuk dapat diserupakan dengan makhluk-Nya atau dibandingkan dengan ciptaan-Nya. Orang yang sudah sampai kepada Allah SWT itu diketahui oleh para ahli wushul dengan pemberitahuan dari Allah SWT. Masing-masing berada dalam batas yang tidak sama dengan orang lain.
Allah SWT mempunyai rahasia beserta salah seorang dari Rasul dan Nabi-Nya serta para kekasih-Nya, tidak ada orang yang tahu selain Dzat-Nya sendiri. Sampai terkadang seseorang yang sedang mengharap sampai kepada Allah SWT itu mempunyai rahasia yang tidak dapat diketahui oleh syaikhnya. Begitu juga seorang syaikh mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh muridnya.
Jika seorang murid itu sudah mencapai keadaan (hal) syaikhnya, dia dipisah dan diasingkan dari syaikh tersebut. Maka, Allah SWT yang menguasainya dan yang menghapus hubungannya dari semua makhluk secara keseluruhan. Syaikh itu ibarat seorang wanita yang menyusu atau yang baru melahirkan. Dia bertugas untuk menyusuinya selama dua tahun. Tidak ada lagi makhluk yang lain setelah hilangnya hawa nafsu dan setiap keinginan. Seorang syaikh itu dibutuhkan selagi dalam diri seorang murid itu masih terdapat hawa nafsu dan keinginan-keinginan, yang kemudian menjadi tugasnya untuk menghancurkan kedua hal itu. Adapun setelah keduanya hilang maka tidak dibutuhkan lagi—karena memang sudah tidak ada lagi sifat kotor dan sifat yang kurang. Apabila kamu telah sampai kepada Allah SWT, sebagaimana yang telah saya jelaskan, jadilah kamu seorang yang aman dari selain Allah SWT selamanya. Kamu tidak akan melihat wujud selain Allah SWT sama sekali, baik dalam kemadharatan maupun kemanfaatan. Tidak dalam keadaan diberi ataupun tidak diberi. Tidak dalam keadaan khauf ataupun raja’.
Allah SWT adalah ahli takwa dan ahli maghfirah (ampunan). Maka, jadilah kamu selamanya sebagai seorang yang selalu melihat setiap ketentuan Allah SWT, menanti dan mengamati setiap perintah-Nya, tersibukkan dengan menaati-Nya, berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain, baik di dunia maupun di akhirat. Jangan gantungkan hatimu dengan suatu apa pun dari mereka. Jadikanlah mereka seperti seorang laki-laki yang disiksa oleh seorang raja yang sangat besar kekuasaannya, keras perintahnya, sangat pedih cambukannya. Kemudian, raja itu mengikatkan belenggu di leher dan kedua kakinya, dan menyalibnya di pohon kurma di pinggir sebuah pantai yang luas membentang, dalam dasarnya, dan kuat arusnya. Kemudian sang raja duduk di atas singgasananya yang sangat agung kekuasaannya, menjulang wibawanya, sangat jauh cita-cita dan impiannya. Dia meletakkan di sampingnya senjata yang berupa anak panah, tombak, pisau kecil, dan senjata lainnya. Kemudian, dia melemparkan senjata tersebut ke arah lelaki yang disalib tadi semau dia.
Apakah baik bagi seseorang yang melihat hal tersebut untuk tidak melihat sang raja, tidak mempunyai rasa takut kepadanya, dan mengharapkan pengampunannya? Serta melihat lelaki yang disalib dan merasa kasihan kepadanya. Bukankah orang yang demikian itu, menurut ukuran akal, adalah orang yang tidak mempunyai akal dan perasaan? Tidakkah ia seorang manusia yang berhati binatang?
Kita berlindung kepada Allah SWT dari kebutaan setelah adanya penglihatan. Dari terputusnya hubungan setelah sampai kepada-Nya. Dari jauhnya jarak setelah adanya kedekatan dan keeratan. Dari kesesatan setelah adanya hidayah. Dan dari kufur setelah adanya keimanan. Dunia bagaikan sebuah aliran sungai yang besar, setiap hari airnya terus bertambah dan mengalir. Itulah syahwat seluruh anak manusia (bani Adam) dan kenikmatan yang ada di dalam dunia tersebut. Adapun berbagai macam senjata tadi, seperti cobaan dan musibah yang datang bersama qadar kepada manusia.
Maka, yang lumrah bagi seorang bani Adam adalah adanya cobaan, kemanfaatan, rasa sakit, dan segala macam bentuk ujian di dunia ini. Semua bentuk kenikmatan yang mereka dapatkan itu sebenarnya telah bercampur dengan berbagai macam malapetaka.
Jika seseorang yang mempunyai akal merenungkan dan mengambil pelajaran darinya, orang tersebut tidak akan mempunyai kehidupan, mata pencaharian, dan masa istirahat, kecuali di akhirat apabila dia seorang mukmin. Karena hal tersebut hanya khusus bagi diri seorang mukmin. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan di akhirat.” Beliau juga bersabda, “Tidak ada kata kenikmatan dan istirahat bagi seorang mukmin, kecuali bertemu dengan Tuhannya.” Rasulullah SAW juga bersabda, “Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Beliau SAW bersabda, "Takwa itu seperti tali kekang.” Dengan keterangan hadits-hadits dan peristiwa ini, bagaimana bisa seseorang itu mengaku sebagai orang yang baik kehidupannya di dunia ini? Keadaan lega dan tenang itu ketika tawajjuh hanya kepada Allah SWT, menyesuaikan diri dengan-Nya, serta bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan demikian, seorang hamba akan dapat keluar dari dunia ini. Pada saat itulah, kehinaan menjadi rahmat, kelembutan, sedekah, dan anugerah. Wallahu a’lam."
---Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futuhul-Ghayb


Tidak ada komentar:

Posting Komentar